BANDUNG – Malam bagi sebagian mahasiswa sering kali bukan menjadi waktu untuk beristirahat, melainkan waktu untuk kembali menatap layar. Setelah menjalani perkuliahan, mengerjakan tugas, mengikuti organisasi, atau bekerja paruh waktu, banyak mahasiswa memilih menghabiskan waktu sebelum tidur dengan membuka media sosial, menonton video pendek, atau sekadar membalas pesan. Aktivitas tersebut terasa ringan dan bahkan dianggap sebagai cara melepas penat setelah seharian beraktivitas.
Namun, di balik kebiasaan yang tampak sederhana itu, terdapat persoalan yang semakin jarang dipertanyakan. Smartphone yang awalnya dirancang untuk mempermudah kehidupan justru perlahan mengambil waktu istirahat penggunanya. Akibatnya, banyak mahasiswa datang ke kelas dengan mata mengantuk, sulit berkonsentrasi, dan merasa kelelahan meskipun sudah berada di tempat tidur selama berjam-jam.
Sebagai mahasiswa, saya cukup sering menjumpai teman-teman yang mengeluhkan rasa kantuk saat mengikuti kuliah pagi. Tidak sedikit yang mengaku tidur lewat tengah malam karena terlalu lama menonton video pendek atau menjelajahi media sosial. Bahkan, beberapa di antaranya menyadari bahwa mereka sudah mengantuk, tetapi tetap merasa perlu membuka smartphone “sebentar lagi” sebelum tidur. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa penggunaan smartphone sebelum tidur bukan lagi kasus individual, melainkan telah menjadi bagian dari kebiasaan yang umum di kalangan mahasiswa.
Kebiasaan tersebut perlu mendapat perhatian karena kualitas tidur memiliki hubungan yang erat dengan kemampuan belajar mahasiswa. Menurut Sleep Foundation, penggunaan perangkat elektronik menjelang waktu tidur berkaitan dengan penurunan kualitas istirahat karena cahaya yang dipancarkan layar dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh. Ritme sirkadian merupakan sistem biologis yang membantu tubuh menentukan kapan harus terjaga dan kapan harus beristirahat. Ketika ritme tersebut terganggu, seseorang akan lebih sulit tidur dengan nyenyak dan memperoleh waktu istirahat yang optimal.
Masalahnya tidak berhenti pada cahaya layar. Media sosial dan berbagai aplikasi digital saat ini memang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Algoritma terus menyajikan konten baru sehingga pengguna terdorong untuk terus menggulir layar tanpa menyadari berapa lama waktu telah berlalu. Dalam kondisi seperti ini, persoalan kurang tidur tidak dapat dilihat hanya sebagai masalah kedisiplinan individu. Mahasiswa memang memiliki tanggung jawab untuk mengatur waktu, tetapi mereka juga hidup dalam ekosistem digital yang secara aktif berusaha mempertahankan perhatian mereka.
Ketika waktu tidur berkurang atau kualitasnya menurun, dampaknya mulai terasa pada aktivitas akademik sehari-hari. Mahasiswa menjadi lebih sulit mempertahankan fokus saat mengikuti perkuliahan. Materi yang sebenarnya dapat dipahami dalam satu kali penjelasan sering kali harus dibaca ulang berkali-kali. Diskusi kelas menjadi lebih sulit diikuti dan kemampuan mengingat informasi baru juga mengalami penurunan.
Harvard Division of Sleep Medicine menjelaskan bahwa kurang tidur dapat mengganggu proses pembentukan memori dan kemampuan otak dalam menyimpan informasi baru. Lembaga tersebut juga mencatat bahwa hanya sebagian kecil mahasiswa yang memiliki kualitas tidur yang benar-benar baik. Temuan tersebut menunjukkan bahwa masalah tidur bukan sekadar persoalan individu, melainkan fenomena yang cukup luas di lingkungan perguruan tinggi.
Selain itu, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah mengenai kesehatan tidur menunjukkan bahwa kurang tidur berpengaruh terhadap perhatian, memori kerja, kemampuan mengambil keputusan, serta fungsi kognitif lainnya. Dengan kata lain, mahasiswa yang kurang tidur tidak hanya merasa mengantuk, tetapi juga mengalami penurunan kemampuan berpikir yang sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran.
Ironisnya, banyak mahasiswa berusaha meningkatkan produktivitas dengan berbagai cara, mulai dari mengikuti seminar pengembangan diri hingga menggunakan aplikasi manajemen waktu. Namun, pada saat yang sama, mereka mengabaikan faktor paling mendasar yang memengaruhi produktivitas, yaitu kualitas tidur. Tidak sedikit mahasiswa yang mengeluhkan sulit fokus saat belajar, padahal mereka baru saja menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar sebelum tidur.
Akibat yang muncul kemudian adalah penurunan produktivitas akademik. Tugas yang seharusnya dapat diselesaikan dalam waktu singkat membutuhkan waktu lebih lama. Konsentrasi yang mudah terpecah membuat proses belajar menjadi tidak efisien. Mahasiswa menjadi lebih mudah menunda pekerjaan karena tubuh dan pikirannya tidak berada dalam kondisi optimal. Pada akhirnya, waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk mengembangkan diri justru habis untuk mengejar tugas yang tertunda.
Fenomena ini juga memperlihatkan kontradiksi yang menarik dalam kehidupan mahasiswa modern. Teknologi sering dipromosikan sebagai alat untuk meningkatkan efektivitas belajar. Berbagai platform pembelajaran, jurnal digital, dan aplikasi produktivitas memang memberikan manfaat besar. Akan tetapi, ketika penggunaan teknologi tidak disertai kesadaran yang memadai, manfaat tersebut dapat berubah menjadi hambatan. Teknologi yang seharusnya membantu proses belajar justru menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas istirahat dan produktivitas.
Karena itu, solusi yang dibutuhkan bukanlah menjauhi teknologi sepenuhnya. Smartphone tetap menjadi bagian penting dari kehidupan mahasiswa masa kini. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk mengendalikan penggunaannya. Membatasi penggunaan smartphone sebelum tidur, mengurangi paparan konten yang terlalu merangsang pada malam hari, serta membangun rutinitas tidur yang lebih sehat merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Lebih dari itu, mahasiswa juga perlu mulai melihat kualitas tidur sebagai bagian dari investasi akademik. Selama ini tidur sering dianggap sebagai waktu yang tidak produktif. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa tidur berperan penting dalam proses pembelajaran, pembentukan memori, dan kemampuan berpikir. Mengorbankan waktu tidur demi terus menatap layar bukanlah bentuk produktivitas, melainkan pengurangan kapasitas diri secara perlahan.
Pada akhirnya, kebiasaan scrolling sebelum tidur memang terlihat sepele. Tidak ada alarm yang berbunyi ketika seseorang menghabiskan satu jam tambahan di media sosial pada malam hari. Namun, dampaknya dapat dirasakan dalam bentuk kelelahan, menurunnya konsentrasi, dan berkurangnya produktivitas belajar. Jika kondisi ini terus dianggap normal, mahasiswa berisiko kehilangan salah satu modal terpenting dalam pendidikan, yaitu kemampuan untuk belajar secara optimal. Oleh karena itu, sudah saatnya mahasiswa lebih kritis terhadap hubungan mereka dengan teknologi. Smartphone seharusnya menjadi alat yang membantu proses belajar, bukan justru menjadi penghalang bagi perkembangan akademik dan kesehatan diri.
Oleh: Martha Sakira , Mahasiswa Program Studi Administrasi Bisnis, Universitas Katolik Parahyangahan
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































