Jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB ketika aspal jalan imam bonjol, Medan, terasa kian membakar telapak kaki. Di depan gedung DPRD Sumateta utara, ratusan mahasiswa barjaket almamater hijau berdiri merapat, berhadapan langsung dengan deretan polisi yang berjaga. Mahasiswa mengusung kerenda didepan sebagai bentuk kritik, terdengar di tengah keramaian suara klakson kendaraan yang terjebak kemacetan di jantung kota.
Ditengah kepungan massa, Angga Al Maaris Harahap berdiri diatas kendaraan orasi, sambil memegang alat pengeras suara. Ketua badan eksekutif mahasiswa (BEM) USU itu mengusap keringat yang bercucuran di dahinya. Tatapan mata nya langsung menuju kepada deretan polisi yang berjaga, sesekali ia menoleh ke kanan dan kiri melihat barisan massa nya dan memastikan gerak mereka tetap satu komando. Angga dan ratusan rekannya telah berjalan kaki sejak pukul 13.00 WIB dari sekretariat BEM USU demi membawa satu pertunjukan simbolik yang penuh keperhatinan “ Menuju Indonesia Gagal”.
Ketegangan mulai semakin memanas saat aksi saling dorong antara mahasiswa dan deretan polisi yang berjaga sempat memecahkan keheningan sore. Situasi semakin memanas ketika kabar menembus bahwa ketua DPRD SUMUT, Erni Ariyanti Sitorus, berhalangan hadir dengan alasan kurang sehat. Teriakan kecewa terdengar keras, mahasiswa menolak bubar dan menganggap alasan tersebut tak mampu menutup mata terhadap tuntutan mereka. Namun setelah penantian panjang dibawah terik nya matahari, suasana yang semula memanas perlahan mendingin saat Erni Ariyanti melangkah melewati deretan polisi yang berjaga untuk menemui kerumunan massa.
Aksi turun ke jalan ini berawal dari kegelisahan mendalam terhadap sejumlah kebijakan pemerintah. BEM membawa sembilan tuntutan, dengan akar persoalan : tuntutan evaluasi total atas program makan bergizi gratis (MBG) yang di nilai belum tepat dan masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan nya, serta protes atas melambungnya harga pertamax yang mencekik masyarakat bawah. Selain itu, mereka mendesak adanya transparansi APBN/APBD, pengawasan ketat BBM subsidi, serta penyelesaian tidak teratur isu agraria, lingkungan, dan pendidikan. Konflik di depan gerbang DPRD itu akhirnya mereda setelah ujung pena ketua DPRD menari di atas kertas, memberikan tanda tangan resmi sebagai bukti penerimaan aspirasi.
Bagi mahasiswa, tanda tangan tersebut bukanlah akhir dari perjuangan. Mereka menganggapnya sebagai langkah awal untuk terus mengawal kebijakan pemerintah. Aksi ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih memiliki kepedulian terhadap masalah yang di hadapi masyarakat. Selama masih ada semangat untuk menyuarakan kebenaran, perjuangan mereka akan terus berjalan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































