Menghitung Renyahnya Cuan: Penerapan Sistem Informasi Akuntansi Pelaporan Keuangan pada Bisnis Ayam Geprek
Bagi sebagian orang, bisnis kuliner ayam geprek mungkin terlihat sederhana: goreng ayam, geprek dengan cabai, lalu sajikan. Namun, di balik riuhnya ulekan cabai dan antrean pembeli, ada roda bisnis yang harus berputar dengan presisi. Tanpa pencatatan keuangan yang baik, bisnis selaris apa pun bisa gulung tikar tanpa diketahui penyebabnya.
Untuk memahami bagaimana pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengelola keuangannya, kami berbincang dengan Mas Enu Priansyah atau biasa di kenal dengan enu (38), pemilik gerai “Ayam Geprek Rentha” yang saat ini memiliki satu cabang di area ciputat.
1. Dari “Modal Nekat” Menuju Sistem Pencatatan
Di awal merintis bisnisnya pada tahun 2026, Mas Enu mengaku sama sekali tidak paham tentang Sistem Informasi Akuntansi (SIA). Segala urusan uang masuk dan keluar hanya dicatat di selembar kertas, atau bahkan hanya diingat-ingat.
“Dulu pas awal buka, asal ada uang di laci dan bisa buat belanja besok, saya pikir sudah untung. Tapi kok pas akhir bulan malah nombok. Di situ saya sadar, manajemen keuangan saya berantakan,” kenang Mas Enu sambil tertawa.

Berkaca dari pengalaman tersebut, Mas Enu mulai membangun SIA sederhana untuk pelaporan keuangannya. Sistem Informasi Akuntansi tidak selalu harus menggunakan perangkat lunak mahal ratusan juta rupiah. Bagi UMKM, SIA adalah tentang bagaimana data transaksi dikumpulkan, diproses, dan diubah menjadi laporan keuangan yang berguna untuk mengambil keputusan.
2. Komponen SIA dalam Bisnis Ayam Geprek
Mas Enu membagikan bagaimana ia menerapkan siklus akuntansi sederhana di gerainya setiap hari:
Input Data (Bukti Transaksi): Setiap kantong plastik ayam yang keluar, setiap karung cabai yang dibeli, dan setiap struk minyak goreng adalah data. Mas Enu mewajibkan karyawannya untuk mengumpulkan nota fisik dan mencatat penjualan harian secara digital.
Proses (Aplikasi Kasir Berbasis Cloud): Meninggalkan pencatatan manual, “Ayam Geprek Rentha” kini menggunakan aplikasi POS (Point of Sales) di handphone toko. Aplikasi ini otomatis menjurnal setiap ayam geprek yang terjual, mengurangi stok bahan baku secara real-time, dan mencatat metode pembayaran (tunai atau QRIS).
Output (Pelaporan Keuangan): Di akhir bulan, aplikasi tersebut akan mengekspor data menjadi laporan keuangan sederhana, seperti Laporan Laba Rugi untuk melihat keuntungan bersih, serta Laporan Arus Kas untuk memantau perputaran uang tunai yang siap pakai.
3. Hambatan dan Tantangan di Lapangan
Menerapkan SIA di level UMKM bukan tanpa kendala. Mas Enu menyebutkan dua tantangan terbesar yang sering ia hadapi:
Kedisiplinan : “Tantangan terberat itu membiasakan untuk input setiap ada pengeluaran kecil, misalnya beli es batu tambahan atau bayar parkir supplier. Kalau kelewat, laporan akhir bulan pasti selisih,” jelasnya.
Fluktuasi Harga Bahan Baku: Harga cabai dan minyak goreng yang sering naik-turun drastis membuat Mas Enu harus rajin memperbarui data Harga Pokok Penjualan (HPP) di sistemnya agar margin keuntungan tetap terjaga.
4. Manfaat Nyata: Perubahan Sebelum dan Sesudah Menerapkan SIA
Setelah menerapkan Sistem Informasi Akuntansi yang rapi, Mas Enu merasakan dampak yang sangat signifikan terhadap perkembangan bisnisnya.
5. Kondisi Sebelum Menerapkan SIA
Dahulu, keuntungan bisnis hanya dikira-kira berdasarkan sisa uang yang ada di dalam laci kasir. Akibatnya, bahan baku sering kali terbuang sia-sia karena Mas Enu salah memprediksi stok yang dibutuhkan. Selain itu, ia juga sangat kesulitan saat ingin mengajukan pinjaman modal ke bank karena tidak memiliki laporan keuangan resmi sebagai syarat administrasi.
6. Kondisi Setelah Menerapkan SIA
Kini, keuntungan bersih gerainya terlihat dengan pasti dan akurat setiap akhir bulan. Manajemen stok pun menjadi jauh lebih terkontrol, sehingga mampu menekan pemborosan bahan baku seperti ayam dan cabai. Manfaat paling besarnya, Mas Enu berhasil mendapatkan keuntungan lebih besar di bandingkan dengan sebelumnya.
7. Kesimpulan & Tips untuk Sesama UMKM
Di akhir perbincangan, Mas Enu memberikan pesan kuat bagi para pelaku UMKM kuliner lainnya yang masih enggan menyentuh akuntansi.
“Jangan takut duluan mendengar kata ‘Akuntansi’. Bisnis kita mungkin sekadar jualan ayam geprek, tapi manajemennya harus naik kelas. Dengan adanya laporan keuangan yang jelas, kita jadi tahu bisnis kita ini beneran sehat atau cuma kelihatan ramai saja.”
Melalui kisah “Ayam Geprek Rentha”, kita belajar bahwa Sistem Informasi Akuntansi bukan monopoli perusahaan korporat besar saja. Bagi penjual ayam geprek pun, SIA adalah kompas yang mengarahkan bisnis menuju kesuksesan yang terukur dan berkelanjutan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































