Di era modern, kampanye women support women semakin sering digaungkan di berbagai media. Gerakan ini mengajak perempuan untuk saling mendukung, menghargai, dan menguatkan satu sama lain dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, realitas yang terjadi di media sosial sering kali menunjukkan hal yang berbeda. Salah satu contoh yang dapat diamati adalah banyaknya komentar negatif yang diterima penyanyi Korea Selatan Jennie Kim. Ironisnya, sebagian besar komentar tersebut justru datang dari sesama perempuan.
Sebagai salah satu idola global, Jennie dikenal melalui karya-karyanya yang sering mengangkat tema kepercayaan diri, kemandirian, dan keberanian menjadi diri sendiri. Beberapa lagunya bahkan menunjukkan bahwa perempuan memiliki hak untuk menentukan pilihan hidupnya tanpa harus tunduk pada standar yang ditetapkan orang lain. Pesan tersebut sejalan dengan nilai women empowerment yang saat ini banyak didukung oleh generasi muda.
Namun, keberhasilan dan popularitas Jennie tidak selalu mendapat respons positif. Di media sosial, kritik yang ditujukan kepadanya sering kali tidak hanya membahas karya atau penampilannya, tetapi juga menyerang kehidupan pribadi, penampilan fisik, hingga pencapaiannya. Yang menarik, banyak komentar tersebut berasal dari akun perempuan. Fenomena ini menunjukkan bahwa gagasan women support women masih menghadapi tantangan dalam praktiknya.
Menurut saya, kondisi ini terjadi karena masih kuatnya budaya perbandingan sosial di kalangan perempuan. Media sosial membuat seseorang lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain, baik dari segi kecantikan, karier, maupun popularitas. Akibatnya, rasa iri dan persaingan sering muncul, kemudian diwujudkan dalam bentuk komentar negatif atau ujaran kebencian. Padahal, kesuksesan seorang perempuan seharusnya tidak dianggap sebagai ancaman bagi perempuan lainnya.
Melalui lagu-lagunya, Jennie justru menyampaikan pesan yang berlawanan dengan budaya tersebut. Ia mendorong pendengarnya untuk percaya pada kemampuan diri sendiri dan tidak terlalu bergantung pada penilaian orang lain. Pesan ini penting karena kepercayaan diri bukan berarti merasa lebih baik dari orang lain, melainkan mampu menghargai diri sendiri sekaligus menghormati pencapaian orang lain.
Fenomena yang dialami Jennie menjadi pengingat bahwa dukungan terhadap perempuan tidak cukup hanya diwujudkan melalui slogan atau unggahan di media sosial. Women support women harus tercermin dalam sikap sehari-hari, termasuk cara kita memberikan komentar, menilai keberhasilan orang lain, dan menghargai pilihan hidup sesama perempuan. Jika perempuan benar-benar ingin menciptakan lingkungan yang lebih setara dan positif, maka dukungan tersebut harus dimulai dari sesama perempuan itu sendiri.
Pada akhirnya, karya-karya Jennie dan pesan yang ia sampaikan melalui musiknya mengajarkan bahwa perempuan tidak harus saling bersaing untuk mendapatkan pengakuan. Sebaliknya, perempuan dapat tumbuh bersama dengan saling mendukung dan menghargai. Karena perempuan yang kuat bukanlah mereka yang berhasil menjatuhkan perempuan lain, melainkan mereka yang mampu mengangkat dan menguatkan sesamanya.
Oleh: Lusi Aurellia
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan
Universitas Pamulang Serang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































