“Jangan pernah menyerah pada mimpi yang telah dipilih.”
~ Nouraisha Citta Azalia ~
Sejak kecil, lorong-lorong rumah sakit, ruang tunggu dokter, dan kunjungan rutin ke dokter anak meninggalkan kesan yang berbeda bagi Nouraisha Citta Azalia, murid kelas XII F MAN 1 Yogyakarta yang akrab dipanggil Citta. Pengalaman yang berulang itu perlahan menumbuhkan rasa ingin tahu dalam dirinya, “Kira-kira, seperti apa rasanya menjadi seorang dokter?” Bertahun-tahun kemudian, pertanyaan sederhana tersebut menjelma menjadi sebuah mimpi yang ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh.
Bagi Citta, memilih Fakultas Kedokteran di Universitas Negeri Jember bukanlah keputusan yang datang secara mendadak. Meskipun ia sempat tertarik pada bidang Teknik Pangan di pertengahan masa SMA, kedokteran tetap menjadi tujuan yang telah ia tetapkan sejak lama. Karena itu, ketika berhasil lolos melalui jalur UTBK, Citta tidak lagi memiliki keraguan untuk menentukan pilihannya. “Saya memilih FK karena memang itu tujuan saya sejak awal. Setelah lolos UTBK, saya langsung mantap mengambilnya dan tidak kepikiran untuk mencoba jurusan lain,” ungkap putri pasangan Salman Faridi dan June Cahyaningtyas tersebut.
Namun, mimpi menjadi dokter tidak benar-benar mengakar hanya karena pengalaman masa kecil. Tekad itu justru semakin kuat ketika Citta duduk di bangku SMP. Berbagai drama dan film medis yang ia tonton membantunya melihat dunia kedokteran dari sudut pandang yang berbeda. Sejak saat itulah, ia mulai memantapkan diri untuk mengejar profesi yang selama ini hanya ada dalam bayangannya. “Saya mulai serius ingin mengejar kedokteran setelah belajar lebih dalam tentang dunia medis melalui berbagai drama dan film medis. Dari situ, saya semakin yakin bahwa saya ingin menjadi dokter,” tutur Citta.
Menariknya, di balik impiannya menjadi seorang dokter, Citta juga menyimpan kecintaan yang besar terhadap dunia sastra. Ia gemar membaca berbagai genre buku dan terus mengasah kemampuan menulisnya, sebuah hobi yang telah ia tekuni sejak kecil. Selain membaca dan menulis, Citta juga menikmati kegiatan memasak, meskipun kesibukan belajar membuat hobi tersebut hanya dapat dilakukan pada waktu senggang. Kecintaan terhadap sastra dan ketertarikannya pada sains mungkin terlihat seperti dua dunia yang berbeda. Namun, bagi Citta, keduanya sama-sama mengajarkannya satu hal penting yaitu memahami sesuatu secara mendalam.
Prinsip itu pula yang kemudian membentuk cara belajarnya. Citta mengaku lebih mudah memahami pelajaran melalui metode repetisi dan drilling secara mandiri. Pengalaman belajar di Kumon sejak kecil hingga mengikuti bimbingan belajar pada masa kelas XII semakin menguatkan keyakinannya bahwa ia adalah seorang pembelajar mandiri. “Saya merasa ada batasan untuk apa yang bisa saya pahami dan dapat dari pendidikan formal. Karena itu, sejak dulu saya lebih suka memahami pelajaran dengan belajar mandiri. Bagi saya, memahami soal berarti memahami rumus atau teori yang sedang diuji, bukan sekadar menghafalnya,” jelas Citta.
Citta menyadari bahwa cara belajar tersebut bukanlah cara yang mudah. Repetisi dan drilling membutuhkan waktu yang panjang, kesabaran, serta konsistensi yang tinggi. Namun, baginya, proses yang melelahkan itu justru menjadi investasi terbaik untuk memahami ilmu secara mendalam, terutama sebagai siswa di bidang sains.
Di balik keyakinannya mengejar dunia kedokteran, Citta juga pernah menghadapi keraguan. Bukan karena ia meragukan kemampuannya sendiri, melainkan karena tidak ada seorang pun anggota keluarganya yang pernah menempuh pendidikan kedokteran. Ia memahami bahwa memilih jalur ini berarti bersiap menghadapi perjalanan panjang yang tidak ringan, baik secara mental maupun finansial. Namun, alih-alih mengubur mimpinya, Citta memilih untuk berdiskusi secara terbuka dengan orang tuanya. Baginya, komunikasi merupakan kunci penting dalam menentukan masa depan. “Saya merasa orang tua harus menjadi partner diskusi yang serius. Saya harus memastikan bahwa saya dan orang tua sama-sama memahami risiko dan kemungkinan yang akan terjadi dengan mengambil jalur ini,” ungkap Citta.
Pengalaman tersebut kemudian melahirkan pesan yang ingin ia sampaikan kepada adik-adik kelasnya “Jangan pernah membiarkan faktor luar mengecilkan mimpi yang dimiliki. Menurutnya, banyak keraguan yang muncul bukan karena seseorang tidak mampu, melainkan karena kurangnya komunikasi dan keberanian untuk memperjuangkan apa yang benar-benar diinginkan. Lebih dari itu, Citta juga memegang prinsip hidup yang sederhana, tetapi kuat: jangan pernah menyerah pada mimpi yang telah dipilih. Ia percaya bahwa keberhasilan lahir dari perpaduan antara usaha dan doa. Baginya, tugas manusia adalah memberikan upaya terbaik yang dimiliki, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Yang Maha Mendengar.
Filosofi “50% usaha dan 50% doa” itulah yang terus menjadi pegangannya dalam setiap langkah. Ke depan, Citta tidak hanya ingin menjadi seorang dokter. Ia juga memiliki impian yang sangat personal yaitu membahagiakan keluarganya. Ia berharap suatu hari nanti dapat mengajak keluarganya bepergian menggunakan hasil jerih payahnya sendiri. Selain itu, ia juga bercita-cita melanjutkan pendidikan spesialis untuk menjadi dokter anak, profesi yang secara tidak langsung telah menginspirasinya sejak masa kecil.
Barangkali, di situlah sebuah mimpi menemukan lingkarannya. Perjalanan Citta dimulai dari seorang anak kecil yang akrab dengan ruang tunggu dokter anak, tumbuh menjadi remaja yang berani memperjuangkan mimpinya, dan kelak berharap dapat menjadi dokter anak bagi generasi berikutnya. Selama masih ada usaha dan doa, bagi Citta, tidak ada alasan untuk berhenti bermimpi.
Penulis: Lilis Ummi Fa’iezah, S.Pd., M.A. (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































