Sore itu, 25 Mei 2026, waktu terasa berjalan lambat bagi Hasnaa Amalia Ramadhani, murid XIIG MAN 1 Yogyakarta. Jarum jam mendekati pukul 15.00 WIB, saat pengumuman UTBK-SNBT 2026 mulai dapat diakses. Di hadapannya, layar gawai menjadi penentu dari perjalanan panjang yang ia tempuh selama ini. Begitu hasil terbuka, tangis haru pecah. Hasnaa dinyatakan lolos di Program Studi Arsitektur UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Bagi sebagian orang, kabar itu mungkin hanya satu pengumuman kelulusan. Namun bagi Hasnaa, itu adalah jawaban atas doa, kerja keras, dan perjuangan seorang anak tunggal dari keluarga sederhana yang tidak pernah benar-benar menyerah pada mimpinya.
Hasnaa lahir di Jakarta, 1 Oktober 2007. Ia merupakan putri dari Bapak Joyo Sugih Saliantoro, seorang buruh harian, dan Ibu Neneng, ibu rumah tangga. Sejak kecil, hidup mengajarkannya untuk memahami arti perjuangan. Tidak semua keinginan bisa langsung terpenuhi. Tidak semua jalan tersedia dengan mudah. Namun, dari keterbatasan itulah Hasnaa belajar untuk tetap bergerak.
Perjalanan Hasnaa di MAN 1 Yogyakarta, atau yang akrab disebut Mansa, berawal dari kebingungan. Sebagai anak perantauan dengan kartu keluarga Jakarta, ia sempat mengalami kendala ketika harus mengikuti sistem Penerimaan Peserta Didik Baru di Daerah Istimewa Yogyakarta. Masuk SMA negeri bukan perkara sederhana baginya.
Di tengah kebimbangan itu, seorang guru dari MTsN 9 Sleman mengenalkannya pada MAN 1 Yogyakarta. “Atas rekomendasi guru MTsN 9 Sleman, saya mengenal Mansa. Katanya sekolah ini bagus, baik dari sisi agama maupun pendidikannya. Alumninya juga hebat, salah satunya Prof. Mahfud MD,” kenang Hasnaa.
Ia pun mendaftar melalui Gelombang 1 jalur Prestasi/CBT. Saat ujian tiba, rasa cemas tak bisa ia sembunyikan. Ia sadar, pesaingnya berasal dari berbagai sekolah dengan kemampuan yang kuat. Namun, hasil akhirnya menjadi awal cerita baru. Hasnaa dinyatakan lolos dan menjadi satu-satunya siswa MTsN 9 Sleman yang diterima di MAN 1 Yogyakarta.
Memasuki Mansa, Hasnaa segera menyadari bahwa ia berada di lingkungan yang berbeda. Awalnya, ia mengira suasana belajar di madrasah ini tidak jauh berbeda dengan masa MTs. Ternyata, Mansa mempertemukannya dengan persaingan akademik yang jauh lebih ketat. “Waktu kelas X, teman saya di sekolah lain mendapat nilai rata-rata 85 dan menjadi peringkat satu. Di Mansa, nilai seperti itu hanya cukup untuk masuk 15 besar. Saya kaget, ternyata sekompetitif itu,” ujarnya.
Rasa kaget itu perlahan berubah menjadi semangat. Hasnaa mulai memahami bahwa lingkungan yang kuat akan membentuk mental yang kuat pula. Di Mansa, ia tidak hanya belajar mengejar nilai, tetapi juga belajar bertahan, beradaptasi, dan mengembangkan diri.

Guru-guru Mansa mengajarkan pelajaran dengan cara yang dekat dengan kehidupan. Materi tidak hanya berhenti pada teori, tetapi dikaitkan dengan isu-isu terkini dan nilai-nilai agama. Lingkungan teman dan kakak kelas yang aktif serta suportif turut memberi warna dalam perjalanannya.
Di luar kelas, Hasnaa menemukan ruang tumbuh melalui Pramuka BARAMANSA. Di sana, ia menyukai kegiatan tali-temali, IMPK, dan komunikasi lapangan. Kegiatan itu melatihnya untuk teliti, tangguh, dan mampu bekerja sama. Tanpa ia sadari, pengalaman tersebut ikut menguatkan minatnya pada dunia rancangan dan ruang.
Sejak kecil, Hasnaa memang menyukai menggambar, bermain Lego, dan menyusun puzzle. Namun, impian menjadi arsitek sempat terkubur oleh banyak keraguan. Mimpi itu kembali muncul ketika ia mengingat ucapan seorang kakak PPL saat dirinya masih SD. “Kamu suka gambar ya? Pasti mau jadi arsitek.”
Kalimat sederhana itu ternyata tertinggal lama dalam ingatannya. Saat di Mansa, mimpi itu kembali menyala. Hasnaa mulai merasa bahwa arsitektur adalah ruang yang tepat untuk menyatukan kreativitas, ketelitian, dan keinginannya memberi manfaat bagi banyak orang.
Namun, memilih arsitektur bukan keputusan yang mudah. Sebagai anak tunggal, ia menyadari besarnya harapan orang tua. Ia juga memahami kondisi ekonomi keluarga yang harus menjadi pertimbangan. Saat kelas XI, setelah berdiskusi dengan ayah dan ibunya, serta mempertimbangkan nilai rapor dan tes minat bakat, Hasnaa memilih mata pelajaran Matematika Tingkat Lanjut, Fisika, Kimia, dan Bahasa Inggris Tingkat Lanjut.
“Kata Pak Ardhi, ini kelas calon engineer,” tuturnya sambil tertawa. Di balik tawa itu, ada kesadaran besar. Hasnaa tahu bahwa untuk menuju impiannya, ia harus bekerja lebih keras. Orang tuanya belum mampu membiayai bimbingan belajar mahal. Kekhawatiran sempat muncul. Jika gagal, ke mana ia harus melangkah?
Namun, Hasnaa memilih tidak berhenti. Ia mulai mencari jalan sendiri. Ia berburu buku UTBK bekas, meminjam buku teman, mengikuti bimbingan belajar online yang terjangkau, dan memanfaatkan perpustakaan sekolah. Ia mengatur waktu dengan strategi blocking time: ketika belajar, ia benar-benar belajar; ketika istirahat, ia memberi ruang bagi dirinya untuk pulih. Bahkan, ia menggunakan aplikasi pembatas gawai agar tidak mudah terdistraksi.
Perjuangan itu tidak selalu mulus. Hasil try out dan TKA sempat belum memuaskan. Ada masa ketika ia merasa lelah dan hampir menyerah. Di titik itulah, guru-guru BK MAN 1 Yogyakarta, Bu Sapta, Bu Farah, dan Bu Kesia, hadir sebagai pendengar sekaligus pengarah. Mereka membantu Hasnaa menata kembali semangat, membaca peluang, dan menentukan pilihan.
Akhirnya, Hasnaa menetapkan pilihan pada Arsitektur UNY dan Arsitektur UIN Sunan Kalijaga. Dukungan sekolah juga hadir melalui program bimbingan intensif PRIMAGAMA X NEUTRON. “Itu benar-benar membantu saya menemukan strategi baru,” ungkapnya.
Hari UTBK pun tiba. Hasnaa mendapat lokasi ujian di ISI Yogyakarta. Jarak dari rumahnya di wilayah Sleman bagian utara cukup jauh. Perjalanan menguras tenaga, tetapi tidak mematahkan tekadnya. Ia datang membawa doa, harapan orang tua, dan keyakinan bahwa setiap usaha layak diperjuangkan.
Hingga akhirnya, 25 Mei 2026 pukul 15.00 WIB, hasil itu datang. Hasnaa lolos pilihan kedua: S1 Arsitektur UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bagi Hasnaa, keberhasilan ini bukan hanya tentang belajar. Ada puasa sunnah, doa, ridha orang tua, dukungan guru, dan lingkungan pertemanan yang membuatnya tetap kuat.
Kisah Hasnaa menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Dari buku bekas, perpustakaan sekolah, bimbingan guru, dan doa yang tidak putus, ia membuktikan bahwa kesungguhan selalu menemukan jalannya.
Sebagaimana kalimat yang menjadi pegangannya, man jadda wa jadda—siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil.
Penulis: Listya S. Wulan Kurniati, M.A. (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































