Pernahkah kalian mendengar atau mungkin mengucapkan kalimat “Gpp santai aja? “. Pada era digital atau media sosial pada saat ini, sepenggal kalimat tersebut sering kali kita denger atau mungkin saja kita ucapkan secara sadar atau tidak sadar. Bahkan sering juga digunakan menjadi caption melankolis seperti pada gambar.
Makna Denotatif: ‘Santai sebagai ketiadaan Beban’
Secara denotatif (makna aslinya), frasa “gpp” (singkatan dari kata “tidak apa-apa”) berarti tidak ada masalah, semua baik-baik saja, atau tidak menimbulkan kerugian. Sementara kata “santai” merujuk pada suatu keadaan yang bebas dari ketegangan, dan juga rileks, atau dalam kondisi yang tenang. Kombinasi kata ini digunakan secara literal dalam situasi kasual.
Misalnya, ketika seseorang tidak sengaja menyenggol kita dan meminta maaf, lalu kita pasti refleks menjawab, “Gpp, santai aja,” makna yang tersampaikan murni berarti “masalah tersebut kecil dan saya tidak marah”. Di era modern, khususnya di kalangan remaja, frasa “gpp santai aja” mengalami perluasan makna. Sehingga maknanya tidak lagi terbatas pada situasi fisik atau interaksi sosial formal, melainkan meluas ke ranah psikologis internal dan mekanisme pertahanan diri.
Seperti pada gambar, kalimat tersebut “bahkan ketika aku berada di titik terhancur sekalipun”. Di sini terjadi pergeseran makna yang kontras. Dulu kata “Gpp santai aja” memiliki arti bahwa benar-benar dalam kondisi tenang/bebas masalah. Akan Tetapi, sekarang kata “Gpp santai aja” memiliki arti bahwa sedang hancur, tetapi memilih untuk menyembunyikannya agar tidak membebani orang lain atau terlihat rapuh. Perluasan ini mengonstruasikan kata “santai” bukan lagi sebagai sebuah kondisi nyata, melainkan menjadi sebuah target.
Hal ini terjadi dengan adanya 2 faktor utama pemicu pergeseran makna dalam kajian sosiosemantik pada saat ini. Faktor pertama adalah People Pleasing yang Di era menuntut semua orang untuk tampak tangguh, kata “gpp santai aja” menjadi kalimat defensif paling aman agar seseorang tidak dianggap lemah oleh sekitarnya. Faktor kedua yaitu Tren di media sosial (seperti TikTok) yang sering mengatur kerapuhan emosional dengan kepasrahan yang estetik dengan kata “Santai” yang bergeser makna menjadi “pasrah terhadap badai hidup.”
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































