Minggu, 14 Juni 2026 | 14:30 WIB, SURABAYA — Gelombang penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kian membesar secara masif di kalangan akademisi dan mahasiswa. Petisi daring yang digalang oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair) untuk menghentikan program tersebut resmi menembus angka 42.091 tanda tangan terverifikasi pada Minggu (14/6/2026) pukul 14.30 WIB. Namun, seiring dengan melesatnya dukungan publik, eskalasi represi digital berupa pembatasan ruang siber mulai membayangi gerakan ini; fitur penyebaran informasi taktis melalui repost story Instagram dari akun-akun tertentu, khususnya fungsionaris Kementerian Sosial Politik (Sospol) BEM Unair, dilaporkan mengalami pelemahan jangkauan secara drastis.
Eskalasi pembatasan siber ini terindikasi menguat pasca dilaksanakannya forum mimbar akademik yang melahirkan “Pernyataan Sikap 7 Desakan Ahli Ekonomi” pada tanggal 12 Juni 2026 lalu di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair. Gerakan yang awalnya dimulai dari keresahan internal atas ambruknya akuntabilitas program MBG, kini telah bertransformasi menjadi poros perlawanan sipil nasional yang menuntut transparansi total pengelolaan fiskal negara.
Akar Masalah: Korupsi Sistemik dan Ancaman Keselamatan Siswa
Presiden BEM Unair, Rizqi Senja, menegaskan bahwa petisi ini bukan sekadar luapan emosional mahasiswa, melainkan sebuah respons terukur terhadap rangkaian kegagalan struktural di lapangan. Keresahan ini mendalam sejak ditangkapnya mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, oleh Kejaksaan Agung serta penggeledahan kantor pusat BGN akibat dugaan tindak pidana korupsi pengadaan barang dan jasa. “Sejatinya sejak awal kami secara tegas menolak pelaksanaan program MBG. Penangkapan Kepala BGN menjadi indikasi sentral yang sangat valid bahwa program ini problematik. Kami melihat adanya pemborosan anggaran untuk pengadaan barang yang tidak mendesak, penggeledahan kantor BGN, serta indikasi kuat praktik mark-up yang menguras APBN.”
Selain aspek finansial, BEM Unair menggarisbawahi kegagalan fatal dalam aspek operasional dan mitigasi risiko kesehatan. Tercatat puluhan ribu siswa di berbagai daerah mengalami keracunan massal akibat kualitas kontrol pangan yang buruk di lapangan. Menurut mahasiswa, insiden kesehatan yang mengancam nyawa generasi muda ini tidak boleh hanya dijadikan ornamen statistik semata oleh pihak BGN dan penguasa tanpa ada evaluasi mendasar.
Pernyataan Sikap 7 Desakan Ahli Ekonomi
Sebagai landasan teoritis dan ilmiah, aliansi mahasiswa bersama para akademisi menyelenggarakan kajian makroekonomi yang menghasilkan 7 maklumat desakan ekonomi pada 12 Juni 2026. Para ahli ekonomi menilai struktur fiskal Indonesia saat ini berada dalam kondisi kerentanan tinggi akibat pemaksaan anggaran MBG yang tidak proporsional di tengah situasi makro yang tidak stabil.
Para ekonom mendesak pemerintah untuk segera melakukan moratorium total atau penghentian sementara program MBG. Alokasi dana yang sedianya dihabiskan untuk proyek ini dinilai jauh lebih mendesak jika dialihkan untuk penguatan stabilitas nilai tukar Rupiah yang terus mengalami tren pelemahan, serta penanganan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) demi menekan laju inflasi domestik yang kian menjepit ekonomi rakyat bawah.
BEM Unair juga menawarkan opsi rasional jika pemerintah tetap bersikeras melanjutkan program peningkatan gizi: memfokuskan seluruh sisa anggaran hanya untuk daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Langkah ini dinilai jauh lebih tepat saran ketimbang memaksakan implementasi di wilayah perkotaan besar, di mana mayoritas tingkat gizi keluarga secara swadaya sudah jauh lebih baik daripada standar pangan massal yang disediakan oleh pihak BGN.
Pelemahan Penyebaran Petisi: Modus Pembatasan Repost Story Aksi nyata mahasiswa di dalam lingkungan kampus yang ditandai dengan aksi pembentangan spanduk-spanduk besar di halaman gedung FEB Unair bertuliskan “Rupiah Turun BBM Naik!!!”, “Perlawanan Ini Abadi”, dan “Tolak SPPG, Selamatkan Srikana” langsung direspon dengan fenomena pembatasan ruang siber yang spesifik. Pasca rilisnya 7 desakan ahli ekonomi pada 12 Juni tersebut, upaya digital mahasiswa untuk mengamplifikasi tautan (link) petisi penolakan MBG menemui ganjalan teknis yang tidak biasa.
Pembungkaman kali ini tidak terjadi dalam bentuk pemblokiran akun secara total (ban), melainkan melalui skema pelemahan interaksi algoritma (engagement throttling) yang menyasar akun-akun tertentu. Fenomena ini paling dirasakan pada fitur repost story Instagram yang memuat link petisi change.org dari BEM Unair. Ketika pengguna lain mencoba membagikan ulang unggahan tersebut, jangkauan tayangan menurun secara drastis, bahkan dalam beberapa kasus story gagal terunggah atau sengaja disembunyikan dari linimasa.
Pelemahan ini secara presisi menyasar akun pribadi para fungsionaris dan anggota Kementerian Sosial Politik (Sospol) BEM Unair yang menjadi motor penggerak gerakan. Indikasi intervensi digital ini ditengarai menyerupai mekanisme penyaringan isu makro yang sensitif seperti isu pelemahan Rupiah yang kerap kali mengalami de-amplifikasi secara halus di ruang virtual guna meredam laju konsolidasi publik secara meluas.
Meski menghadapi kendala teknis pada rantai penyebaran story digital, BEM Universitas Airlangga menegaskan tidak akan mundur selangkah pun. Capaian petisi yang melesat hingga menembus angka 42.091 dukungan menjadi bukti otentik bahwa hambatan algoritma di ruang siber tidak mampu membendung arus solidaritas publik yang menuntut akuntabilitas mutlak atas kebijakan negara
Penulis: Tiara Levina Z.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































