Tim MAN 1 Yogyakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi berbasis pangan fungsional melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bersama Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Yogyakarta pada Selasa (30/06/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperoleh masukan dari para ahli gunamenyempurnakan produk SALORA (Innovative Fruit Leather) sebelum dikembangkan lebih lanjut.
FGD ini menghadirkan perwakilan dari tujuh instansi terkait, yaitu Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Balai Besar POM (BBPOM) di Yogyakarta, Bidang SDK, Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi, Seksi Penyakit Tidak Menular, Seksi FAMM, serta Tim Kerja Sertifikasi dan Lisensi Kesehatan. Kehadiran para ahli dari ketujuh instansi tersebut memberikan berbagai masukan yang komprehensif terkait aspek gizi, keamanan pangan, mutu produk, pengemasan, pelabelan, hingga peluang pengembangan produk.
Tim SALORA terdiri atas Iffanisa Humairaa Nur Jauzaa sebagai ketua tim bersama Zahwa Ratih Kintani sebagai anggota tim. Keduanya mengembangkan inovasi Fruit Leather berbahan dasar daun kelor (Moringa oleifera) dan salak gading (Salacca zalacca var. Gading) sebagai alternatif camilan sehat yang ditujukan untuk membantu mendukung upaya pencegahan anemia, khususnya pada remaja putri.
Anemia masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang banyak dialami remaja putri di Indonesia. Berangkat dari kondisi tersebut, Tim SALORA memanfaatkan potensi bahan pangan lokal yang kaya akan zat gizi. Daun kelor dikenal memiliki kandungan zat besi yang tinggi, sedangkan salak gading mengandung vitamin C yang berperan dalam membantu penyerapan zat besi di dalam tubuh. Perpaduan kedua bahan tersebut menghasilkan produk yang tidak hanya bernilai gizi, tetapi juga memiliki cita rasa yang lebih menarik dan praktis dikonsumsi dalam bentuk fruit leather.
Pada kegiatan FGD, Tim SALORA mempresentasikan latar belakang inovasi, proses pengembangan produk, hasil uji penerimaan konsumen, hingga rencana pengembangan
produk ke depan. Perwakilan dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan BBPOM di Yogyakarta memberikan berbagai masukan terkait aspek keamanan pangan, standar mutu, pengemasan, pelabelan, strategi pemasaran, serta peluang pengembangan produk agar memiliki daya saing yang lebih tinggi.
Diskusi berlangsung secara aktif dan konstruktif. Berbagai saran dan rekomendasi yang diberikan menjadi bekal penting bagi Tim SALORA untuk menyempurnakan formulasi produk, meningkatkan kualitas kemasan, serta mempersiapkan langkah pengembangan dan hilirisasi produk di masa mendatang.
“Saya apresiasi adik-adik bisa berinovasi, dan ini memang banyak menjadi kendala bagi remaja putri karena banyak dari mereka malas mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Saran kami, ini bisa terus dikembangkan, “ujar Ratna Widi Astuti, S.F., Apt., M.Sc., Ketua Tim Sertifikasi di BBPOM di Yogyakarta.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasinya terhadap semangat inovasi yang ditunjukkan oleh Tim SALORA. Menurutnya, inovasi tersebut membuktikkan bahwa murid MAN 1 Yogyakarta tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan kreatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi kerja keras dan kreativitas Tim SALORA. Inovasi ini menunjukkan bahwa murid MAN 1 Yogyakarta mampu berpikir kritis, peduli terhadap persoalan kesehatan remaja, serta memanfaatkan potensi pangan lokal menjadi produk yang bernilai manfaat. Semoga SALORA Fruit Leather dapat terus dikembangkan, disempurnakan, dan menjadi inspirasi bagi murid lain untuk melahirkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat,” ungkap Edi Triyanto.
Kegiatan ini juga dimanfaatkan oleh Tim SALORA untuk melakukan validasi produk melalui pengumpulan umpan balik dari para peserta. Masukan yang diperoleh akan menjadi bahan evaluasi dalam penyempurnaan formulasi, desain kemasan, strategi edukasi, serta pengembangan produk sehingga SALORA semakin siap untuk diimplementasikan dan dikenal lebih luas oleh masyarakat. SALORA Fruit Leather dipasarkan dengan harga Rp15.000 per kemasan. Tim SALORA juga menghadirkan program bundling berupa pembelian tiga kemasan SALORA gratis satu buku edukasi anemia sebagai upaya meningkatkan literasi kesehatan sekaligus mengajak remaja putri lebih peduli terhadap pencegahan anemia.
Melalui kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan BBPOM di Yogyakarta, Tim MAN 1 Yogyakarta berharap SALORA Fruit Leather dapat menjadi inovasi pangan fungsional berbasis potensi lokal yang mendukung upaya pencegahan anemia sekaligus meningkatkan pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia. Sinergi ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pengembangan produk yang inovatif, berdaya saing, dan memberikan manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat.
Penulis: Zahwa Ratih Kintani (Murid MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































