Pak Karto sudah mengajar di SD Negeri 6 Santo selama dua puluh tujuh tahun. Bangunan sekolah itu masih sama seperti dulu—dinding yang catnya mengelupas di beberapa sudut, papan tulis yang sudah retak di pinggirnya, dan meja guru yang salah satu kakinya diganjal batu bata agar tidak miring.Setiap pagi, sebelum murid-murid datang, Pak Karto selalu menyapu ruang kelas sendiri. Bukan karena tidak ada penjaga sekolah, tapi karena baginya, ruang kelas yang bersih adalah bentuk penghormatan pertama kepada anak-anak yang akan belajar di dalamnya.
“Bapak ini aneh,” kata Bu Ratna, guru baru yang baru setahun mengajar. “Sudah dua puluh tahun lebih mengajar, tapi golongannya masih sama. Katanya, dulu pernah ditawari jadi kepala sekolah, tapi ditolak.”
Pak Karto hanya tersenyum kalau mendengar omongan seperti itu. Ia tidak pernah menjelaskan alasannya kepada siapa pun, sampai suatu hari seorang muridnya, Dimas, bertanya langsung.
Dimas anak yang pendiam. Ayahnya buruh serabutan, ibunya sudah lama pergi entah ke mana. Setiap hari Dimas datang ke sekolah dengan sepatu yang solnya mulai lepas, tapi ia selalu duduk di bangku paling depan, mendengarkan dengan mata yang tidak pernah lelah.
Suatu sore, setelah semua murid pulang, Dimas masih tinggal di kelas, menyalin ulang catatan yang tulisannya kurang jelas.”Kenapa Bapak tidak jadi kepala sekolah saja?” tanya Dimas, tanpa mengangkat kepala dari bukunya. “Kata teman-teman, gajinya lebih besar.” Pak Karto duduk di bangku sebelah Dimas, memandangi papan tulis yang masih penuh coretan kapur.
“Dimas,” katanya, “kalau Bapak jadi kepala sekolah, Bapak akan duduk di ruangan itu, mengurus surat-surat, rapat-rapat, dan laporan-laporan. Itu penting, memang. Tapi Bapak tidak akan lagi duduk di sini, melihat langsung siapa yang matanya berbinar waktu mengerti sesuatu, dan siapa yang diam-diam menyembunyikan rasa takutnya karena tidak paham.”
Dimas menatapnya, tidak sepenuhnya mengerti.”Bapak pernah punya murid,” lanjut Pak Karto, “namanya Slamet. Anaknya pintar, tapi keluarganya susah. Setiap hari dia jalan kaki delapan kilometer ke sekolah. Suatu hari dia berhenti sekolah, karena harus bantu bapaknya di sawah. Bapak datang ke rumahnya, bicara dengan orang tuanya, bilang Bapak akan bantu carikan cara. Butuh waktu tiga bulan, tapi akhirnya dia kembali sekolah.”
“Terus, Slamet sekarang jadi apa, Pak?”
“Slamet sekarang jadi dokter di kota. Tahun lalu dia kirim surat, bilang dia sudah bisa menyekolahkan tiga adiknya sampai kuliah.” Pak Karto berhenti sebentar. “Itu yang tidak akan Bapak dapatkan kalau jadi kepala sekolah, Dimas. Bukan gajinya. Tapi momen seperti itu—melihat seseorang yang hampir menyerah, akhirnya sampai ke tempat yang jauh lebih baik. Itu yang membuat Bapak merasa hidupnya berguna.”
Dimas terdiam lama. Lalu ia bertanya lagi, pelan, seperti takut pertanyaannya salah, “Kalau saya, Bapak lihat saya bisa jadi apa?”Pak Karto menatap sepatu Dimas yang solnya sudah lepas sebelah, lalu menatap matanya yang selalu penuh perhatian setiap kali diajar.
“Bapak tidak tahu, Dimas. Tapi Bapak tahu satu hal: kamu selalu bertanya sampai kamu benar-benar mengerti, bukan cuma pura-pura mengerti supaya cepat selesai. Orang seperti itu, di mana pun dia berakhir, biasanya sampai jauh.”
Malam itu, seperti biasa, Pak Karto menutup kelas paling akhir. Ia menyapu lantai sekali lagi, meskipun sudah bersih, lalu mengunci pintu dan berjalan pulang melewati sawah yang mulai gelap.
Ia tidak pernah naik pangkat. Namanya tidak akan tercantum di prasasti sekolah mana pun. Tapi bertahun-tahun kemudian, ketika Dimas—yang akhirnya menjadi guru juga di desa yang sama—ditanya oleh muridnya sendiri, “Kenapa Bapak jadi guru, padahal bisa jadi apa saja?”, ia hanya menjawab seperti yang pernah diajarkan padanya:”Karena ada momen-momen yang hanya bisa dilihat kalau kita tetap duduk di sini, di bangku ini, bersama mereka yang matanya belum tahu akan berbinar karena apa.”
Pesan nya bercerita tentang makna sejati pendidikan: bukan soal jabatan, gaji, atau pengakuan, tetapi tentang kehadiran yang konsisten dan ketulusan menyaksikan orang lain bertumbuh. Guru sejati mengukur keberhasilannya bukan dari pangkat, tetapi dari seberapa jauh murid-muridnya bisa melangkah.
Penulis : Margareth Sibagariang
Mahasiswa Universitas Sari Mutiara Indonesia
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































