Jakarta, 21 Juli 2026 — Di saat banyak orang berlomba mengejar profesi advokat dengan penghasilan yang menjanjikan, Afriandi Azhar justru mengambil keputusan yang mengejutkan. Setelah bertahun-tahun berjuang menempuh pendidikan hukum hingga menyelesaikan seluruh tahapan profesi advokat, ia memilih meninggalkan kesempatan itu demi satu cita-cita yang telah lama hidup dalam dirinya: mengabdi kepada negara.
Keputusan tersebut bukan lahir dalam keadaan mudah.
Sebelum mengenakan pakaian dinas Aparatur Sipil Negara (ASN), Afriandi adalah seorang Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) di Kelurahan Tebet Timur, Jakarta Selatan. Setiap hari ia membersihkan jalan, mengangkut sampah, dan bekerja di bawah terik matahari. Namun, di balik seragam oranye yang dikenakannya, tersimpan mimpi besar untuk mengubah masa depan melalui pendidikan.
Dengan menyisihkan sebagian gajinya, pada tahun 2018 ia memberanikan diri kuliah di Fakultas Hukum. Tidak sedikit yang meragukan langkahnya. Bekerja penuh waktu sambil kuliah tentu bukan perkara mudah. Siang hari ia mengabdikan diri membersihkan jalan, malam hari ia duduk di ruang kuliah dan menyelesaikan berbagai tugas akademik.
Empat tahun kemudian, perjuangan itu membuahkan hasil. Pada tahun 2022 ia resmi meraih gelar Sarjana Hukum.
Namun, ia belum berhenti.
Berbekal semangat belajar yang sama, Afriandi melanjutkan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) yang dipimpin Prof. Otto Hasibuan. Setelah itu ia mengikuti Ujian Profesi Advokat di Universitas Tarumanagara dan dinyatakan lulus. Tahapan berikutnya pun ia jalani dengan penuh kesungguhan, yakni magang selama dua tahun di Kantor Hukum Alofsen Marbun & Associates.
Hebatnya, seluruh proses tersebut dijalani tanpa meninggalkan pekerjaannya sebagai PPSU. Pagi hingga sore ia tetap membersihkan jalan ibu kota. Setelah jam kerja usai, ia berganti peran menjadi calon advokat yang belajar, berdiskusi, dan menangani berbagai pekerjaan hukum di kantor tempatnya magang.
Tahun 2024 menjadi titik paling menentukan dalam hidupnya.
Pada waktu yang hampir bersamaan, dua pintu masa depan terbuka lebar. Di satu sisi, ia dijadwalkan mengikuti pengambilan sumpah advokat di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, langkah terakhir sebelum resmi menjalankan profesi sebagai pengacara. Di sisi lain, ia mendapat pengumuman bahwa ia diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).
Dua jalan itu sama-sama membanggakan. Namun ia sadar, dirinya hanya bisa memilih satu.
Setelah melalui pertimbangan panjang, Afriandi memutuskan mengikhlaskan kesempatan menjadi advokat. Ia memilih mengikuti CPNS karena meyakini bahwa panggilan hidupnya adalah mengabdi kepada bangsa melalui birokrasi pemerintahan.
Keputusan itu akhirnya membawanya diterima sebagai ASN di Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Kini ia mengemban amanah sebagai Perancang Peraturan Perundang-undangan, menyusun regulasi yang menjadi dasar pelaksanaan kebijakan di sektor peternakan nasional.
“Bagi saya, profesi advokat adalah profesi yang sangat mulia. Namun saya percaya, bangsa ini juga membutuhkan orang-orang yang bersedia mengabdikan ilmu dan tenaganya dari dalam pemerintahan. Saya memilih jalan itu. Saya memilih mengabdi kepada NKRI,” ungkapnya.
Baginya, hidup bukan hanya tentang mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih besar, melainkan tentang memilih tempat terbaik untuk memberikan manfaat.
Perjalanan Afriandi membuktikan bahwa latar belakang bukanlah penentu masa depan. Seorang petugas kebersihan jalan dapat menjadi sarjana hukum, menempuh seluruh proses menjadi advokat, lalu memilih jalan pengabdian sebagai aparatur negara.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan bukan sekadar soal jabatan atau profesi, tetapi tentang keberanian menentukan pilihan ketika hidup memberikan lebih dari satu kesempatan.
Dari sapu jalanan hingga menyusun regulasi negara, Afriandi menunjukkan bahwa kecintaan kepada Indonesia tidak selalu diucapkan dengan kata-kata. Terkadang, cinta kepada negeri diwujudkan melalui keputusan paling sulit dalam hidup: memilih mengabdi ketika kesempatan lain yang lebih menjanjikan ada di depan mata.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































