Di balik keberhasilan sebuah keluarga, sering kali ada sosok perempuan yang bekerja dalam diam. Tidak selalu berdiri di depan panggung, tetapi menjadi penyangga utama yang menjaga mimpi tetap hidup. Sosok itu adalah Ayu Iswayanti, perempuan berusia 30 tahun, ibu dari dua anak bernama Zain dan Xavier, yang membuktikan bahwa pendidikan tidak mengenal status maupun keadaan.
Sehari-hari Ayu menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga. Di sela kesibukannya mengurus keluarga, ia juga menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Terbuka. Perjalanan itu dimulai pada tahun 2024, ketika suaminya masih bekerja sebagai petugas kebersihan jalan. Di tengah kondisi ekonomi yang sederhana, ia memilih menghemat uang belanja dan mengurangi kebutuhan pribadinya demi membiayai kuliahnya.
Namun, semakin lama duduk di bangku kuliah, Ayu justru merasakan kegelisahan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Menurutnya, semakin banyak mempelajari teori-teori hukum, asas hukum, hingga cita-cita penegakan keadilan yang diajarkan di ruang kuliah, semakin besar pula pertanyaan yang muncul ketika membandingkannya dengan berbagai praktik penegakan hukum yang terjadi di Indonesia.
“Semakin dalam saya belajar hukum, justru semakin banyak pertanyaan yang muncul. Apa yang dipelajari di kampus sering kali terasa berbeda dengan kenyataan yang kita lihat dalam berbagai kasus. Itu membuat saya semakin ingin memahami hukum, bukan hanya dari sisi teori, tetapi juga bagaimana hukum benar-benar ditegakkan,” ujarnya.
Ayu menegaskan bahwa kegelisahan tersebut bukan membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap hukum, melainkan menjadi motivasi untuk terus belajar. Baginya, hukum adalah disiplin ilmu yang terus berkembang dan selalu membutuhkan pembaruan, kritik, serta perbaikan agar mampu mewujudkan keadilan yang dicita-citakan.
Selain fokus pada kuliah dan keluarga, Ayu saat ini juga tengah mencoba menulis buku pertamanya. Meski berbentuk fiksi, buku tersebut menceritakan tentang kehidupan, sehingga menjadi ruang baginya untuk menuangkan pengalaman, pemikiran, dan pandangannya terhadap realitas yang ia lihat di sekelilingnya.
Sebagai mahasiswa hukum, ia menyadari bahwa teori memberikan fondasi mengenai kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan. Namun, dalam praktik, penerapan hukum sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pembuktian, penafsiran peraturan, hingga dinamika sosial yang melatarbelakangi suatu perkara.
Di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, Ayu tetap berusaha menyelesaikan setiap mata kuliah. Bahkan ketika jadwal ujian Universitas Terbuka berlangsung pada hari Sabtu atau Minggu, ia harus merelakan waktu bersama suami dan kedua anaknya demi menyelesaikan kewajibannya sebagai mahasiswa.
Bagi Ayu, belajar hukum bukan sekadar mengejar gelar, tetapi melatih cara berpikir yang kritis dan objektif. Ia berharap ilmu yang diperolehnya dapat menjadi bekal untuk mendidik anak-anaknya agar tumbuh sebagai generasi yang memahami pentingnya keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab.
“Perempuan atau seorang ibu merupakan pranata pendidikan pertama bagi anak-anaknya. Pendidikan merupakan hal terpenting dalam membangun cara berpikir anak di rumah. Menjadi ibu rumah tangga bukanlah hal yang mudah, sehingga kita harus terus belajar setiap hari,” tutup Ayu.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































