~ Belajarlah untuk selalu menang atas keraguan dirimu sendiri~
Kirana Shafa Putria Wibowo
Perjalanan menuju perguruan tinggi ternyata bukan sekadar soal memilih kampus, tetapi juga belajar menerima rencana terbaik yang telah Allah SWT siapkan. “Jangan pernah merasa kalah dengan teman-temanmu. Semua orang punya target, jalur, dan kesempatannya masing-masing.” Kalimat itu diucapkan dengan tenang oleh Kirana Shafa Putria Wibowo, bukan sebagai rangkaian kata-kata motivasi yang dipungut dari media sosial, melainkan kesimpulan dari perjalanan panjang yang ia jalani selama setahun terakhir.
Perjalanan yang mengajarkan Kirana bahwa tidak semua impian harus diwujudkan melalui jalan yang pertama kali dipilih. Terkadang, jalan terbaik justru ditemukan setelah seseorang berani menerima bahwa Allah memiliki rencana yang lebih baik. Murid MAN 1 Yogyakarta kelas XII A ini akhirnya diterima di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui Jalur Mandiri Tes CBT Kampus. Hasil tersebut menjadi akhir dari perjuangan yang sebelumnya dipenuhi berbagai percobaan, kegagalan, dan proses berdamai dengan kenyataan.
Sejak awal, Kirana memiliki cita-cita yang sangat jelas. Ia ingin kuliah di Hubungan Internasional (HI). Kemampuan berbahasa yang dimilikinya membuat ia merasa jurusan tersebut paling sesuai dengan minat dan potensi dirinya. Karena itu, selama dua kali kesempatan seleksi, baik melalui UTBK 2026 maupun Ujian Mandiri UGM 2026, ia konsisten memilih Hubungan Internasional dan Antropologi Budaya di UGM. Namun, hasil yang diharapkan belum berpihak kepadanya. “Sebetulnya, kedua orang tua saya sudah dari awal mengarahkan saya ke Jurusan Ilmu Komunikasi. Tapi saya selalu menolak karena ingin sekali kuliah di Hubungan Internasional sesuai dengan kemampuan berbahasa saya,” ungkap Kirana.
Sambil bercerita, Kirana mengingat berbagai pengalaman yang menurutnya cukup menguras energi selama mengikuti ujian. Tempat ujian yang jauh serta perangkat komputer yang kurang mendukung menjadi tantangan tersendiri. Namun, ia memilih untuk tidak menjadikan hal tersebut sebagai alasan atas hasil yang diperoleh. Setelah dua kali mencoba, Kirana akhirnya memutuskan mengikuti saran kedua orang tuanya untuk mendaftar di Ilmu Komunikasi UNY melalui Tes CBT Kampus. Keputusan yang awalnya terasa berat itu justru membawanya pada tujuan yang kini ia syukuri.
Di balik proses tersebut, ada sosok ayah dan ibunya, Yudho Dwi Wibowo dan Retnowati, yang menjadi sumber kekuatan terbesar. Menurut Kirana, kehadiran ayah dan maminya yang tidak pernah membuat dirinya tertekan dan selalu menghargai usaha yang ia lakukan menjadi titik balik yang membuatnya semakin semangat memberikan yang terbaik untuk mereka. “Saya belajar banyak pelajaran kehidupan melalui berbagai sudut pandang dari mereka. Ayah dan Mami juga mengajari saya untuk ikhlas terhadap usaha keras yang sudah saya lakukan,” kata Kirana. Bagi Kirana, dukungan orang tua bukan berupa tuntutan agar harus lolos di kampus tertentu, tetapi kepercayaan bahwa setiap usaha memiliki nilai, apa pun hasil akhirnya. Sikap itulah yang membuatnya mampu bangkit tanpa larut dalam kekecewaan.
Selama mempersiapkan berbagai jalur seleksi perguruan tinggi, Kirana memiliki cara tersendiri untuk menjaga konsistensi belajar. Hampir setiap waktu luang ia gunakan untuk menyelesaikan target soal dari bimbingan belajar yang diikutinya. Ketika rasa jenuh datang, ia tidak langsung membuka media sosial. Sebaliknya, ia membawa lego animasi kecil yang disusunnya saat istirahat atau setelah salat Zuhur. Aktivitas sederhana itu menjadi cara melatih fokus sekaligus mengembalikan semangat sebelum kembali belajar.
Kesibukan tersebut tidak membuatnya meninggalkan organisasi. Sebagai Ketua Umum organisasi bernama MAJOR di sekolah, Kirana tetap aktif menjalankan tanggung jawabnya. Beruntung, lingkungan organisasi maupun teman-teman sekelas memberikan dukungan yang luar biasa. “Kalau ada waktu senggang atau istirahat, kami sering membahas soal Try Out UTBK bersama dan saling bertanya tentang soal yang belum dipahami,” terang Kirana. Menurutnya, persiapan menuju perguruan tinggi bukan hanya soal belajar tanpa henti. Menjaga kesehatan fisik dan mental juga menjadi bagian yang tidak kalah penting. “Yang terpenting adalah memahami pola tidur dan pola makan yang disiplin agar tetap sehat. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan karena kesehatan mental juga harus dijaga,” ungkap Kirana.
Menariknya, masa menunggu hasil seleksi justru menjadi titik awal lahirnya jiwa kewirausahaan Kirana. Ketika menunggu hasil UTBK, ia memulai usaha kecil menjual pashmina hijab. Setelah hasil Ujian Mandiri UGM belum sesuai harapan, ia tidak berhenti berkarya. Ia justru membuka usaha keychain dan lunch box. Hasilnya di luar dugaan. Dalam waktu kurang dari satu bulan, usaha lunch box yang dirintisnya berhasil menjual hampir 100 porsi. Pencapaian tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa kegagalan dalam satu kesempatan tidak berarti berhenti berkarya di kesempatan lain.
Ketiga usaha kecil itu telah ia rancang sebagai fondasi bisnis yang akan terus dikembangkan selama menjalani kuliah di UNY. Baginya, ilmu komunikasi bukan sekadar dipelajari di ruang kelas, tetapi juga dipraktikkan secara langsung melalui pemasaran, membangun relasi dengan pelanggan, hingga mengembangkan merek usaha. Meski kini berkuliah di Ilmu Komunikasi, impian Kirana terhadap Hubungan Internasional ternyata belum benar-benar selesai. Ia justru menyimpan target yang lebih besar.
Kirana merencanakan setelah menyelesaikan studi sarjana di UNY nanti, ia bercita-cita melanjutkan pendidikan magister di luar negeri, tepatnya pada bidang International Relations di universitas-universitas Eropa seperti Oxford maupun Sciences Po (france) di Prancis melalui jalur beasiswa. Selain itu, ia juga ingin mengembangkan kemampuan public speaking sebagai modal berkarier di bidang master of ceremony (MC) maupun voice over.
Di luar kesibukan belajar dan berwirausaha, Kirana memiliki banyak hobi yang tanpa disadari ikut membentuk karakter dirinya. Ia gemar berkebun. Selama menunggu hasil berbagai ujian, kedua orang tuanya menyediakan sebidang kecil lahan agar ia belajar menanam berbagai tanaman. Dari aktivitas itu, Kirana menemukan filosofi kehidupan. “Menanam tumbuhan sama seperti kita berusaha. Kita merawat, melakukan yang terbaik, lalu bertawakal dan memasrahkan hasilnya kepada Allah SWT.”
Bagi Kirana, setiap proses kehidupan selalu membawa pelajaran baru. Tidak ada usaha yang benar-benar sia-sia selama seseorang terus bergerak maju. Di akhir perbincangan, ia menyampaikan pesan sederhana penyemangat yang relevan bagi para pejuang perguruan tinggi. “Kadang kita harus memilih hal yang tidak menguntungkan atau tidak menyenangkan bagi kita, tetapi justru hal itulah yang membuat kita lebih dewasa.”
Ia menutup pesannya dengan satu kalimat yang menjadi pegangan hidupnya hingga hari ini. “Jangan pernah merasa kurang ketika Allah sudah mencukupkan banyak hal untukmu.” Perjalanan Kirana menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu dimulai dari pilihan yang kita inginkan. Kadang-kadang, keberhasilan justru hadir ketika kita berani mempercayai proses, menghargai setiap usaha, dan menerima bahwa jalan yang Allah pilihkan sering kali lebih indah daripada rencana yang kita susun sendiri.
Penulis: Lilis Ummi Fa’iezah, M.A (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































