SEMARANG – Potongan kain yang tersisa dari proses produksi Tenun Ikat Bandar di Kediri tidak lagi sekadar menjadi limbah. Lima mahasiswa mengolah kain perca tersebut menjadi tas dan aksesori melalui usaha bernama NOEURO.
Usaha yang didirikan pada 24 Juli 2024 itu mengusung konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan kembali limbah tekstil sekaligus melibatkan perempuan penjahit lokal dalam proses produksinya.
NOEURO digawangi Zulita Lutfiana sebagai CEO, Maslinda Nora Nurrohmah sebagai CFO, Zahro’ Sabila Ali sebagai COO, Sesilia Hulen Kolin sebagai CMO, dan Kaila Paramita sebagai CDO.
Zulita mengatakan, ide usaha tersebut muncul ketika tim melihat banyaknya sisa potongan kain dari industri Tenun Ikat Bandar di Bandar Kidul. Padahal, kain perca tersebut masih memiliki serat yang kuat dan motif khas yang berpotensi dikembangkan menjadi produk baru.
“Kami melihat limbah kain tenun ini sebenarnya masih memiliki nilai dan bisa diolah menjadi produk baru. Dari situ kami mencoba mengembangkan NOEURO sebagai usaha yang tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memberikan dampak bagi lingkungan dan masyarakat,” kata Zulita.
Pertahankan Identitas Tenun Ikat Bandar
Kain perca yang dikumpulkan kemudian diolah menjadi berbagai produk fesyen, seperti tas handmade dan aksesori. Dalam proses pengembangannya, NOEURO tetap mempertahankan karakter visual Tenun Ikat Bandar agar produk yang dihasilkan tidak kehilangan identitas budaya asal materialnya.
Menurut Zulita, pendekatan tersebut menjadi salah satu pembeda NOEURO. Limbah tekstil tidak hanya dimanfaatkan kembali, tetapi juga dikemas menjadi produk dengan fungsi baru dan desain yang lebih modern.
Di sisi lain, NOEURO melibatkan perempuan penjahit lokal dalam proses produksi. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya tim menciptakan rantai produksi yang tidak hanya berorientasi pada produk, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat.
Untuk memperkenalkan produknya, NOEURO memanfaatkan sejumlah platform digital, termasuk Instagram dan TikTok. Pemasaran dilakukan melalui konten media sosial, pemanfaatan e-commerce, hingga strategi live selling.
Ke depan, tim menargetkan penambahan variasi produk, penguatan identitas merek, serta perluasan pasar. Pemanfaatan limbah tekstil juga akan terus dikembangkan agar semakin banyak kain perca yang dapat diolah menjadi produk bernilai guna.
“Kami ingin NOEURO bisa menjadi brand yang membawa identitas budaya lokal sekaligus membuktikan bahwa limbah dapat diolah menjadi produk yang bernilai dan memiliki pasar,” pungkas Zulita.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































