SEMARANG – Daun jambu biji selama ini lebih dikenal masyarakat sebagai bahan minuman herbal. Namun, empat mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) melihat potensi lain dari tanaman tersebut dengan mengolahnya menjadi produk mie bernama Fiber Noodle.
Inovasi tersebut dikembangkan sejak Oktober 2025 oleh Rima Erna Agustiningsih, Fhatin Arinda Putri, Maelani Shodiqoh, dan Rani Mukertjee. Keempatnya membagi peran dalam pengelolaan usaha, mulai dari operasional, produksi, pemasaran hingga keuangan.
Rima mengatakan, gagasan Fiber Noodle muncul dari keinginan tim untuk menghadirkan produk pangan yang lebih praktis dengan memanfaatkan bahan baku lokal.
“Daun jambu biji memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk pangan yang lebih praktis dan familiar bagi masyarakat. Dari situ kami mencoba mengolahnya menjadi mie,” kata Rima.
Menurut dia, Fiber Noodle dikembangkan sebagai pangan fungsional, bukan sebagai obat ataupun pengganti pengobatan medis. Produk tersebut memanfaatkan kandungan serat dan antioksidan dari bahan bakunya sebagai bagian dari pola makan sehat.
Pengembangan Fiber Noodle juga dilakukan dengan memperhatikan aspek keamanan dan kualitas produk. Tim telah melakukan uji laboratorium dan menjajaki rencana kemitraan dengan petani lokal di Desa Wates, Kecamatan Ngaliyan.
Rima menuturkan, proses mengembangkan produk tersebut tidak selalu berjalan mulus. Tim harus menghadapi berbagai persoalan, seperti legalitas usaha, pemasaran, pembagian tugas, hingga menjaga standar produksi.
Pengalaman mengikuti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 kemudian membantu tim memperbaiki pengelolaan usaha. Struktur organisasi mulai diperjelas, sementara strategi pemasaran disusun agar lebih terarah.
“Masih banyak yang harus kami kembangkan, terutama dari sisi pemasaran dan kapasitas produksi. Kami terus melakukan evaluasi dan menerima masukan konsumen agar produk bisa semakin baik,” ujar Rima.
Fiber Noodle menyasar keluarga, orang dewasa dengan pola makan kurang sehat, lansia, serta masyarakat yang menjalankan gaya hidup sehat. Produk tersebut dipasarkan dengan kisaran harga Rp15.000 hingga Rp25.000 per kemasan.
Dari sisi legalitas, usaha ini telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) yang diterbitkan pada 4 Juni 2026. Adapun sertifikasi halal dan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) masih dalam proses.
Ke depan, tim menargetkan peningkatan kapasitas produksi, perluasan pemasaran, penguatan identitas merek, serta pengembangan kemitraan dengan lebih banyak pihak.
“Kami berharap Fiber Noodle bisa berkembang menjadi produk pangan inovatif yang berkelanjutan, memberikan nilai tambah bagi konsumen, sekaligus mendukung pemanfaatan bahan baku lokal,” pungkas Rima.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




































































