KALOSI – Di tengah menguatnya krisis lingkungan transnasional, pemahaman bahwa aksi lokal memiliki dampak global glocal awareness menjadi hal krusial yang perlu ditanamkan sejak dini. Merespons tantangan tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Perubahan Iklim Gelombang 116 Universitas Hasanuddin melaksanakan kegiatan program kerja, yaitu sosialisasi edukatif dengan judul ” Gerakan Anak Cerdas Lingkungan (Pemilahan Dan Pengelolaan Sampah)” yang dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 27–28 Juli 2026, berlokasi di Sekolah Dasar (SD) Desa Kalosi, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Program kerja ini dilaksanakan melalui kolaborasi oleh dua mahasiswa KKN, yaitu Naila Syifa Salsabila yang membawakan materi dan juga games edukatif mengenai GARUDA CILIK GLOBAL (Gerakan Anak Cerdas Dan Cinta Lingkungan Global) dan Andi Muh. Yusril yang memaparkan materi melalui poster edukatif mengenai Sosialisasi Tata Kelola Pengelolaan Sampah Berbasis Daur Ulang dalam Menghadapi Dampak Kepadatan Penduduk. Kolaborasi antar kedua mahasiswa ini akan memberikan pemahaman kepada siswa dan siswi sekolah dasar tentang pentingnya pengelolaan dan pemilahan sampah yang baik sejak dini.
Kegiatan ini diinisiasi sebagai langkah nyata dalam membangun kesadaran ecological citizenship (kewarganegaraan ekologis) sejak usia sekolah dasar, sekaligus menanamkan kesadaran lingkungan melalui edukasi mengenai pentingnya memilah sampah dan memanfaatkan kembali sampah yang masih memiliki nilai guna, dengan mengaitkan kebiasaan harian khususnya pada siswa sekolah dasar terhadap dinamika lingkungan internasional.

Menerjemahkan Isu Global ke Tingkat Tapak
Dalam sesi sosialisasi, Naila Syifa Salsabila memaparkan mengenai perspektif Ilmu Hubungan Internasional, dimana sampah bukan sekadar masalah kebersihan domestik, melainkan bagian dari krisis ekologi lintas batas transnational environmental issue. Sampah plastik yang tidak terkelola di tingkat desa berpotensi mencemari aliran sungai hingga bermuara ke lautan lepas, berkontribusi pada krisis mikroplastik laut global yang merusak ekosistem maritim lintas negara.
Melalui sosialisasi selama dua hari tersebut, para siswa diajak memahami rantai sebab-akibat ini: bagaimana keputusan kecil dari siswa dan siswi di Desa Kalosi dapat berkontribusi pada upaya dunia dalam mengurangi jejak karbon dan menjaga kestabilan iklim global.

Jenis Sampah hingga Konsep Daur Ulang
Kemudian, dalam sesi sosialisasi berikutnya, Andi Muh. Yusril diawali memaparkan yang diawali dengan pengenalan mengenai jenis-jenis sampah, yaitu sampah organik, anorganik, dan B3 (berbahaya), serta dampak negatif yang ditimbulkan apabila sampah dibuang sembarangan.
Selanjutnya, juga diperkenalkan kepada siswa dan siswi tersebut mengenai konsep daur ulang recycle dengan menunjukkan berbagai contoh pemanfaatan sampah plastik menjadi produk yang bermanfaat, seperti pot tanaman, tempat pensil, dan gantungan kunci. Edukasi ini diharapkan dapat menumbuhkan kreativitas siswa sekaligus mengubah cara pandang mereka bahwa sampah bukan hanya limbah, tetapi juga dapat diolah menjadi barang bernilai.
Agar materi yang berdimensi global ini mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar, penyampaian materi dikemas secara komunikatif dan partisipatif. Pada sesi akhir pemaparan, Naila Syifa Salsabila mengadakan dua games edukatif, diantaranya :
1. Games Pilah Sampah
Para siswa diajak mempraktikkan secara langsung cara memisahkan sampah berdasarkan jenisnya (organik, anorganik, dan B3/berbahaya). Simulasi ini melatih kepekaan siswa terhadap tata kelola limbah mandiri sebagai fondasi awal pengurangan sampah waste reduction.
2. Games Tebak Fakta Iklim Global Permainan kuis interaktif yang menguji pengetahuan siswa seputar fakta-fakta iklim dunia, seperti dampak peningkatan suhu bumi, pentingnya menjaga hutan, hingga hubungan antara tumpukan sampah dengan perubahan iklim global.
Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung. Mereka aktif menjawab pertanyaan, mengikuti permainan edukatif, serta berpartisipasi dalam praktik sederhana pemilahan sampah.
Sebagai penutup, panitia memberikan penobatan Eco Champion kepada siswa-siswi yang menjadi pemenang dalam games tersebut, sehingga ini menunjukkan antusiasme, pemahaman terbaik, serta kepemimpinan siswa dan siswi sekolah dasar selama games berlangsung.
Nominasi ini bertujuan untuk mencetak agen perubahan agent of change muda di Desa Kalosi yang mampu memelopori budaya ramah lingkungan di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat sekitar.
Komitmen Bersama untuk Masa Depan Bumi
Oleh karena itu, kegiatan sosialisasi di Desa Kalosi ini mempertegas pentingnya prinsip Think Globally, Act Locally (Berpikir Global, Bertindak Lokal). Dengan terbangunnya kesadaran pengelolaan sampah yang baik dari tingkat sekolah dasar di desa Kalosi, diharapkan dapat tercipta efek domino positif yang mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada poin aksi iklim dan kelestarian ekosistem.
Melalui kegiatan ini, Mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim berharap edukasi lingkungan sejak usia dini dapat membentuk karakter peduli lingkungan pada generasi muda. Kesadaran tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan serta upaya mitigasi perubahan iklim melalui tindakan sederhana yang dapat dimulai dari lingkungan sekolah dan rumah.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































