Jakarta, 05 Agustus 2026 H. Gudfan Arif Ghofur, atau yang akrab disapa Gus Gudfan, secara mengejutkan menjadi salah satu figur yang memiliki peluang kuat untuk menakhodai Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 yang dijadwalkan berlangsung bulan depan.
Di tengah menguatnya dukungan dari berbagai kalangan, perhatian publik juga tertuju pada pandangan ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) terhadap sosok Gus Gudfan. Dalam sebuah pemberitaan, Gus Baha dikutip dengan ungkapan Jawa, “Hla wong dia putune,” yang dipahami sebagai penegasan atas garis keturunan ulama dan para wali yang dimiliki Gus Gudfan. Pemberitaan tersebut mengulas bahwa, menurut pandangan Gus Baha, nasab bukan sekadar kebanggaan genealogis, melainkan amanah yang harus tercermin dalam akhlak, pengabdian, dan kemanfaatan bagi umat. Nilai-nilai tersebut dinilai telah tampak dalam perjalanan pengabdian Gus Gudfan selama ini.
Menurut berbagai pemberitaan media, dukungan terhadap Bendahara Umum PBNU tersebut terus mengalir dari berbagai elemen, mulai dari kiai-kiai sepuh, PWNU, PCNU, hingga para aktivis Nahdlatul Ulama. Mereka memandang Gus Gudfan sebagai figur yang mampu menjaga relevansi NU di abad keduanya tanpa kehilangan jati diri sebagai jam’iyah yang berakar kuat pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
KH Muhammad Zaim Ahmad Ma’shoem juga menilai Gus Gudfan sebagai sosok yang tumbuh dari tradisi pesantren, namun memiliki kemampuan menjawab tantangan zaman, khususnya dalam memperkuat kemandirian ekonomi umat. Perpaduan antara kedalaman spiritual dan kapasitas manajerial itulah yang dinilai menjadi salah satu keunggulannya.
Keistimewaan lain yang melekat pada Gus Gudfan adalah nasab yang diwarisinya. Dari jalur ayah, ia merupakan keturunan ke-16 Sunan Drajat, sementara dari jalur ibu ia mewarisi garis keturunan Sunan Giri. Dua mata rantai sejarah tersebut menjadi bagian penting dari identitas yang membentuk karakter kepemimpinannya.
Sebagai keturunan Sunan Drajat, Gus Gudfan mewarisi semangat Catur Piwulang yang menekankan keberpihakan kepada kaum mustadh’afin serta pentingnya kepedulian sosial. Sementara dari garis Sunan Giri, ia mewarisi karakter kepemimpinan, keluasan wawasan, dan semangat intelektual yang menjadi ciri khas salah satu Wali Songo tersebut.
Fondasi itu semakin kokoh melalui pendidikan yang ditempuh di Pesantren Manbaul Ma’arif Denanyar serta pengamalannya dalam Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Bekal tersebut membentuk kematangan spiritual, ketenangan batin, serta kehati-hatian dalam mengambil keputusan di tengah berbagai dinamika organisasi.
Di luar dunia pesantren, Gus Gudfan juga dikenal sebagai seorang pengusaha dengan pengalaman di berbagai sektor strategis, mulai dari minyak dan gas, petrokimia, hingga pertambangan batu bara. Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal penting dalam mendorong kemandirian ekonomi warga Nahdlatul Ulama.
Sementara itu, di bidang organisasi, rekam jejaknya dibangun melalui proses kaderisasi yang panjang. Ia mengawali pengabdian dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), kemudian dipercaya sebagai Bendahara PP Pagar Nusa, Bendahara RMI PWNU Jawa Timur, hingga akhirnya mengemban amanah sebagai Bendahara Umum PBNU.
Meski tidak selalu berada di bawah sorotan publik, Gus Gudfan dikenal sebagai sosok yang terbiasa bekerja di balik layar. Pengalaman mengelola organisasi besar dengan sistem yang kompleks, disertai konsistensi menjaga integritas, menjadi modal penting dalam memimpin organisasi sebesar Nahdlatul Ulama.
Dengan mengalirkan darah para wali di nadinya serta membawa semangat profesionalisme dalam setiap langkah pengabdiannya, Gus Gudfan dipandang sebagai representasi generasi baru Nahdliyin yang mampu memadukan keluhuran tradisi pesantren dengan tuntutan kemajuan zaman.
Apabila kepercayaan para kiai dan muktamirin benar-benar bermuara kepadanya, sosok “santri saudagar” ini dipandang berpeluang menjadi nahkoda yang mampu menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi Nahdlatul Ulama, sehingga organisasi ini semakin berperan di tingkat nasional maupun global.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































