YOGYAKARTA — Di tengah banyaknya anak muda yang masih mencari arah masa depan, Jaya Sandy Pamungkas memilih jalan yang berbeda. Di usianya yang baru 19 tahun, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Widya Mataram ini telah dipercaya memimpin Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Sumber Keadilan Bangsa, sekaligus menjalankan bisnis fashion yang ia bangun sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
Perjalanan Jaya menuju titik tersebut bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan. Jiwa wirausahanya tumbuh sejak usia dini. Ketika masih duduk di bangku taman kanak-kanak, ia sudah mulai belajar berdagang dengan menjual gantungan kunci dan pin bros. Pengalaman sederhana itu menjadi awal dari keberaniannya mengenal dunia usaha dan memahami arti kerja keras.
Memasuki sekolah dasar, semangat berbisnisnya semakin berkembang. Saat gelang karet menjadi tren di kalangan pelajar, Jaya melihat peluang. Ia membuat gelang tersebut sendiri, lalu memasarkannya kepada teman-teman sekolah. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa kreativitas, keberanian memulai, dan kemampuan melihat peluang merupakan modal penting dalam membangun usaha.
Semangat mencoba terus menerus. Saat SMP, Jaya sempat menekuni usaha penjualan ikan hias jenis Channa. Ketika memasuki jenjang SMA, ia memilih menikmati pengalaman dengan bekerja sebagai pengemudi ShopeeFood dan barista di sebuah kedai kopi. Baginya, setiap pekerjaan memberikan pelajaran berharga tentang disiplin, tanggung jawab, pelayanan, dan pentingnya menghargai setiap proses.
Berbekal pengalaman tersebut, sejak kelas dua SMA ia mulai membangun brand fashion Silenzio. Bagi Jaya, membangun sebuah merek bukan sekedar menjual produk, melainkan membangun identitas, menjaga kualitas, serta menciptakan kepercayaan konsumen.
Di tengah kesibukannya sebagai pelaku usaha, Jaya tetap memilih menempuh pendidikan di bidang hukum. Ketertarikannya lahir dari keyakinan bahwa hukum harus menjadi sarana untuk melindungi masyarakat serta memperjuangkan keadilan bagi semua. Kepercayaan memimpin LBH Sumber Keadilan Bangsa sejak tahun 2025 menjadi amanah yang ia emban dengan penuh tanggung jawab.
“Menjadi pemimpin bukan berarti merasa paling hebat. Justru seorang pemimpin harus menjadi orang yang paling siap belajar, mendengar, dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil,” ujar Jaya.
Selain aktif di dunia akademik, organisasi, dan bisnis, Jaya juga memiliki ketertarikan pada kegiatan alam bebas. Ia merupakan bagian dari BHASKARA HIKING CLUB, organisasi pecinta alam yang membentuk karakter anggotanya melalui kegiatan pendakian, pelestarian lingkungan, dan pengembangan kepemimpinan. Menurutnya, mengajarkan gunung kesabaran, ketahanan mental, kerja sama, serta pentingnya menghormati alam.
Tak hanya itu, olahraga padel juga menjadi bagian dari rutinitasnya. Bagi Jaya, olahraga tersebut bukan hanya menjaga kebugaran, tetapi juga melatih komunikasi, strategi, fokus, dan kemampuan mengambil keputusan dalam waktu singkat.
“Baik di gunung maupun di lapangan padel, saya belajar bahwa hasil terbaik lahir dari persiapan yang matang, kerja sama, dan kemampuan tetap tenang saat menghadapi tekanan. Nilai-nilai itu saya terapkan ketika memimpin organisasi maupun menjalankan bisnis,” katanya.
Di balik berbagai aktivitas yang dijalaninya, Jaya memiliki tujuan yang sederhana namun kuat: membangun masa depan yang lebih baik melalui kerja keras sejak usia muda.
“Saya ingin memiliki kebebasan dalam hidup. Karena itu saya tidak ingin menyia-nyiakan masa muda. Saya percaya lebih baik menghabiskan jatah gagal sekarang daripada menyesal ketika kesempatan sudah tidak ada lagi,” ungkapnya.
Baginya, kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari proses untuk tumbuh dan menjadi pribadi yang lebih matang.
Ke depan, Jaya berharap semakin banyak generasi muda yang berani mengambil peluang, tidak takut memulai dari bawah, serta terus mengembangkan kemampuan diri. Menurutnya, usia bukanlah ukuran utama seseorang untuk berkarya maupun memimpin. Yang lebih penting adalah kemauan untuk belajar, keberanian memikul tanggung jawab, serta konsistensi dalam menjalani setiap proses.
Perjalanan Jaya Sandy Pamungkas menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Dari seorang anak yang gemar berdagang sejak kecil, berkembang menjadi wirausaha muda, hingga dipercaya memimpin sebuah lembaga bantuan hukum di usia yang masih sangat muda. Kisahnya menunjukkan bahwa keberhasilan bukan ditentukan oleh usia, melainkan oleh keberanian untuk memulai, keinginan untuk terus belajar, dan komitmen untuk memberikan manfaat bagi orang lain.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































