Madiun – Sekelompok mahasiswa Politeknik Negeri Madiun berhasil menciptakan sebuah inovasi bernama OTOMEDIS, yaitu sistem otoskopi pintar yang mampu mendeteksi berbagai penyakit pada telinga bagian tengah. Karya ini lahir dari program Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) skema karsa cipta tahun 2026.
Tim pengembang OTOMEDIS terdiri dari lima orang, dipimpin oleh Goodtama Rahunnaja bersama anggota lainnya yakni Nadia Ilmiya Maulinda, Muhammad Cahyo Firdaus, Anisa Ramadani, dan Shinta Deanda Citra Pawestri. Mereka didampingi oleh dosen pembimbing Sulfan Bagus Setyawan, S.ST., M.T., dan seluruhnya tercatat sebagai mahasiswa program studi D4 Teknologi Rekayasa Elektronika PNM.
Nadia Ilmiya Maulinda, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa otitis media atau middle ear disease adalah kondisi peradangan pada telinga tengah yang dipicu oleh infeksi bakteri di area belakang gendang telinga.
Latar belakang pengembangan alat ini, lanjut Nadia, tidak lepas dari keprihatinan atas masih tingginya kasus gangguan pendengaran, baik di dunia maupun di Indonesia. Data WHO menyebutkan lebih dari 1,5 miliar penduduk dunia saat ini mengalami gangguan pendengaran. Adapun di Indonesia, berdasarkan data Kemenkes per Maret 2026, dari total 4.128.849 orang yang mengikuti skrining pendengaran, sebanyak 51.215 orang atau setara 1,24% dinyatakan mengalami gangguan pendengaran.
Kehadiran OTOMEDIS diharapkan dapat membantu tenaga medis dalam proses diagnosis, karena alat ini dilengkapi kemampuan mendeteksi lima kondisi gendang telinga secara otomatis, meliputi kondisi normal, otitis media akut, otitis media kronis, otitis media supuratif kronis, dan myringosclerosis.
Cara kerja OTOMEDIS dimulai dari otoskop digital yang berfungsi menangkap citra telinga bagian tengah pasien. Citra ini kemudian diteruskan ke LCD box alat melalui koneksi langsung dengan kamera otoskop. Saat tombol capture pada LCD ditekan, gambar akan segera diproses oleh komponen Jetson Nano yang berada di dalam box. Jetson Nano merupakan perangkat komputer berukuran mini yang dirancang khusus untuk menjalankan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin (machine learning) secara mandiri di perangkat itu sendiri.
Setelah proses selesai, hasil deteksi akan tampil pada layar LCD. Pengguna kemudian dapat memilih opsi kirim ke database agar hasil tersebut tersimpan dan dapat diakses melalui website OTOMEDIS yang mengusung konsep Internet of Things (IoT).
Goodtama Rahunnaja, selaku ketua tim, memaparkan alur penggunaan OTOMEDIS secara lebih rinci. “Cara kerja dari OTOMEDIS secara keseluruhan yakni, box alat dihubungkan dengan sumber listrik. Otoskop digital dinyalakan lalu disterilkan dengan alcohol pad sebelum kemudian diarahkan ke bagian telinga tengah dengan angle yang sesuai. Kalau gendang telinga sudah terlihat, bisa langsung tekan capture pada LCD. Sistem akan mengklasifikasikan gambar tersebut dan hasilnya langsung ditampilkan pada LCD beserta confidence deteksinya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pada tampilan hasil deteksi, pengguna diberi dua pilihan, yaitu mengirim hasil ke database atau kembali ke tampilan kamera otoskop. Selama tersambung internet, hasil deteksi tersebut bisa langsung terkirim ke database dan muncul di website OTOMEDIS.
Website ini dirancang khusus sebagai media bagi tenaga medis untuk memantau hasil-hasil deteksi yang masuk. Tidak hanya itu, tersedia pula fitur komentar yang memungkinkan dokter THT memberikan saran penanganan tanpa perlu bertatap muka langsung dengan pasien. Fitur inilah yang menjadi wujud penerapan konsep IoT pada OTOMEDIS.
Informasi dan perkembangan terbaru mengenai OTOMEDIS juga dapat diikuti melalui akun Instagram resmi tim di @otomedis.pkmkc
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































