Enam Puluh Dua tahun PMKRI Siantar seharusnya membuat organisasi ini bukan hanya bangga atas sejarahnya, tetapi justru memaksa organisasi ini bertanya apakah sejarah tersebut masih mampu melahirkan kader-kader baru yang sanggup menjawab zamannya. Sebab persoalan terbesar sebuah organisasi yang telah berusia panjang bukan lagi sekadar bagaimana mempertahankan nama, melainkan bagaimana memastikan nilai, keberanian, intelektualitas, dan semangat perjuangan yang pernah melahirkannya tidak berhenti sebagai nostalgia.
Di titik inilah PMKRI Siantar berada dalam sebuah paradoks. Di satu sisi, ia memiliki warisan sejarah yang panjang dan nama-nama alumni PMKRI secara Nasional yang telah menorehkan kiprahnya, yang harusnya bisa menjadi modal moral sekaligus kebanggaan. Tetapi di sisi lain, bisa jadi akan menjadi beban berat tuntutan yang dipikul kader hari ini. Mereka tidak hanya berhadapan dengan persoalan kaderisasi yang mengalami pasang surut, tetapi juga dengan bayang-bayang ekspektasi terhadap nama besar yang ditinggalkan para pendahulu.
PMKRI secara Nasional hari ini tidak kekurangan sejarah. Yang patut dipertanyakan adalah bagaimana sejarah itu bekerja di tengah realitas kaderisasi yang naik turun. Seyogyanya sebuah organisasi mahasiswa tidak pernah hidup dari masa lalunya. Ia hidup dari kader yang hadir hari ini.
Kalau kaderisasi melemah, sejarah yang panjang perlahan hanya akan menjadi arsip. Kalau kaderisasi kehilangan daya tarik, nama besar alumni hanya akan menjadi cerita yang terus diulang. Dan jika generasi baru hanya diajak mengagumi apa yang pernah dilakukan para pendahulu tanpa diberi ruang untuk menemukan persoalannya sendiri, maka organisasi berisiko menjadikan sejarah sebagai beban, bukan sebagai energi untuk bergerak.
Karena itu, setelah 62 tahun, pertanyaan terhadap PMKRI Siantar tidak cukup berhenti pada “apa yang telah dilakukan para pendahulu?” Pertanyaan yang jauh lebih mendesak adalah: “Apa yang sedang kita lakukan sehingga 62 tahun sejarah itu masih memiliki arti bagi generasi hari ini?”
Dari pertanyaan inilah persoalan kaderisasi, romantisme sejarah, dan beban nama besar harus dibicarakan secara terbuka.
Kaderisasi yang Tidak Selalu Berjalan Lurus. Setiap organisasi mahasiswa pasti mengalami siklus. Ada masa ketika kaderisasi tumbuh dengan baik. Rekrutmen berjalan, anggota baru berdatangan, diskusi hidup, kegiatan berkembang, dan kader-kader baru mulai mengambil peran.
Tetapi ada pula masa ketika semuanya terasa berat. Kader baru tidak banyak. Anggota mulai kehilangan minat. Kegiatan berjalan dengan orang-orang yang itu-itu saja. Regenerasi tersendat.
Dan organisasi akhirnya harus bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan dirinya tetap hidup. PMKRI Siantar tentu tidak imun terhadap siklus tersebut. Naik turunnya kaderisasi seharusnya tidak dipandang semata-mata sebagai persoalan jumlah anggota. Ia merupakan tanda bahwa organisasi sedang berhadapan dengan pertanyaan yang lebih besar: Apakah PMKRI masih relevan bagi mahasiswa Katolik hari ini?
Ketika Nama Besar Menjadi Kebanggaan Sekaligus Beban.
PMKRI Siantar memiliki satu kekayaan yang tidak semua organisasi miliki: jejak sejarah. Nama-nama yang pernah tumbuh dari organisasi ini kemudian berkiprah dalam berbagai ruang kehidupan nasional menjadi bagian dari sejarah yang membanggakan. Tetapi semakin besar nama yang diwariskan, semakin besar pula ekspektasi yang muncul. Generasi sekarang seakan berdiri di bawah bayang-bayang masa lalu. Ketika alumni dahulu dikenal kritis, generasi sekarang dituntut kritis. Ketika alumni dahulu dikenal memiliki gagasan, generasi sekarang dituntut melahirkan gagasan. Ketika alumni dahulu mampu masuk ke ruang-ruang pengabdian yang lebih luas, generasi sekarang seolah dituntut membuktikan bahwa mereka juga mampu.
Padahal setiap zaman memiliki konteksnya sendiri. Tidak adil jika generasi hari ini hanya dinilai berdasarkan standar masa lalu. Tetapi juga tidak tepat jika nama besar alumni hanya dijadikan pajangan kebanggaan dalam setiap perayaan. Warisan seharusnya menjadi inspirasi, bukan tekanan yang melumpuhkan. Alumni tidak seharusnya menjadi bayang-bayang yang membuat kader takut melangkah. Sebaliknya, mereka harus menjadi bukti bahwa proses kaderisasi memang dapat melahirkan manusia yang mampu memberi sesuatu bagi masyarakat.
Karena itu, pertanyaan yang lebih sehat adalah: “Apa yang dapat kita lakukan pada zaman kita, sebagaimana mereka melakukan sesuatu pada zaman mereka?” Jangan Sampai Romantisme Mengalahkan Realitas. Ada bahaya ketika organisasi terlalu lama hidup dalam romantisme sejarah, hanya bisa mengenang masa ketika PMKRI pernah kuat, menyebut nama-nama yang pernah berjaya. Dan selalu bicarakan perjuangan generasi terdahulu. Namun perlahan lupa melihat kondisi kaderisasi hari ini. Padahal organisasi tidak hidup dari cerita masa lalu.
Organisasi hidup dari orang-orang yang bersedia hadir hari ini. Karena itu, Dies Natalis seharusnya bukan hanya menjadi ruang untuk merayakan usia. Ia seharusnya menjadi ruang untuk mengevaluasi perjalanan.
Apa yang berhasil? Apa yang hilang? Mengapa kaderisasi mengalami pasang surut? Apa yang membuat mahasiswa hari ini tertarik atau justru menjauh dari PMKRI? Dan yang paling penting: apakah kita sedang menyiapkan generasi penerus, atau hanya sedang berusaha mempertahankan organisasi agar tetap terlihat hidup?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin lebih penting daripada sekadar menghitung berapa tahun usia organisasi.
PMKRI Siantar tidak harus menjadi salinan dari PMKRI masa lalu. Generasi hari ini tidak harus mengulangi semua bentuk perjuangan generasi terdahulu. Yang harus diwariskan bukan bentuknya, melainkan semangatnya. Keberanian untuk berpikir, Keberanian untuk berbeda, Keberanian untuk mengkritik, Keberanian untuk mengabdi, Dan tentunya keberanian untuk tetap menjadi manusia yang memiliki kepedulian.
Jika kaderisasi sedang naik, rawatlah. Jika sedang turun, jangan malu mengakuinya. Jika jumlah kader sedikit, jangan menutupinya dengan romantisme. Sebab organisasi yang berani mengakui kelemahannya justru memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Enam puluh dua tahun bukan akhir perjalanan. Bahkan mungkin, ia adalah kesempatan untuk memulai percakapan yang lebih jujur. Bahwa PMKRI Siantar memiliki sejarah yang panjang, tetapi sejarah itu bukan jaminan masa depan. Bahwa PMKRI Siantar memiliki alumni yang besar, tetapi nama besar alumni tidak boleh menjadi beban yang membuat kader hari ini kehilangan keberanian untuk menemukan jalannya sendiri. Dan bahwa kaderisasi yang naik turun bukan semata-mata masalah angka, tetapi pertanyaan tentang seberapa kuat organisasi mampu menjelaskan alasan keberadaannya kepada generasi baru.
Pada akhirnya, generasi hari ini tidak harus menjadi legenda seperti pendahulunya. Mereka hanya perlu memastikan bahwa ketika suatu hari nama mereka disebut dalam sejarah PMKRI Siantar, ada sesuatu yang dapat dikenang. Bukan karena mereka mewarisi nama besar. Tetapi karena mereka juga pernah memberikan sesuatu.
Sebab setelah 62 tahun, mungkin inilah pertanyaan paling jujur yang harus kita ajukan kepada diri sendiri: Apakah kita hanya sedang menjaga sebuah nama besar tetap hidup, atau sedang berusaha membuat nama itu kembali berarti bagi zamannya?
*sebuah catatan kecil
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































