Generasi Z hidup dengan perasaan konstan bahwa waktu sedang berjalan habis. Mereka merasa perlu melakukan segala sesuatu saat ini, mencapai kesuksesan, menyelamatkan karier, semuanya secara bersamaan. Perasaan ini bukanlah kebetulan. Ini merupakan hasil dari kombinasi sempurna antara ketidakpastian ekonomi, media sosial yang dirancang untuk menciptakan kecanduan, dan ideologi yang dikenal sebagai budaya hustle, atau sebuah filosofi yang menyatakan: jika Anda tidak bekerja tanpa henti, Anda akan tertinggal.
Kemudian, bagaimana Sense of urgency pada Generasi Z dipicu dan diperkuat oleh budaya hustle, sehingga menciptakan krisis kesejahteraan mental yang nyata. Pertanyaan utamanya: apakah perasaan mendesak ini memberdayakan generasi muda, atau justru menghancurkan mereka?
1. Memahami Sense of urgency dan FOMO
Sense of urgency adalah perasaan mendesak untuk segera bertindak, seolah-olah peluang akan hilang atau waktu terus berjalan cepat tanpa bisa dihentikan. Pada Generasi Z, perasaan ini dipicu oleh berbagai faktor, tetapi yang paling dominan adalah Fear of Missing Out (FOMO).
FOMO didefinisikan sebagai kecemasan atau kekhawatiran yang dialami individu ketika mereka percaya kehilangan pengalaman berharga, acara, atau peluang yang sedang dinikmati orang lain. Dalam konteks modern, di era e-commerce fashion, FOMO memanifestasi ketika konsumen melihat tren atau penawaran khusus sebagai sesuatu yang sementara dan eksklusif, menciptakan Sense of urgency yang mendorong mereka untuk membuat keputusan pembelian dengan cepat tanpa memikirkan panjang.
Namun, FOMO Generasi Z bukan hanya tentang belanja—FOMO melampaui itu. FOMO adalah apprehension atau kekhawatiran yang dirasakan seseorang tentang ketinggalan informasi, yang mengarah pada keinginan untuk tetap terhubung dan terlibat dalam apa yang sedang terjadi di masyarakat. Untuk Generasi Z, ini berarti: takut ketinggalan tren, peluang karier, momen sosial, atau bahkan gerakan global untuk perubahan sosial.
2. Bagaimana Media Sosial Mengamplifikasi Urgency
Platform digital seperti TikTok, Instagram, dan LinkedIn dirancang untuk membuat pengguna terus kembali. Penjual ritel dan merek fashion secara strategis menggunakan timer hitung mundur, notifikasi “hanya tersisa X barang,” dan penjualan kilat untuk menciptakan rasa kelangkaan dan tekanan waktu yang mendorong keputusan pembelian impulsif.
Teknologi yang sama digunakan dalam konteks pekerjaan dan kehidupan. Notifikasi real-time seperti “10 orang sedang melihat item ini” atau “Stok terbatas” memperkuat bukti sosial, membuat Generasi Z merasa mereka mungkin ketinggalan tren populer jika tidak bertindak cepat.
3. Budaya Hustle: Ideologi yang Memicu Sense of Urgency
A. Definisi Budaya Hustle
Budaya hustle adalah sistem kepercayaan yang mengagungkan produktivitas tanpa henti dan kerja keras ekstrem sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Berbeda dengan budaya hustle, produktivitas toksik adalah pendekatan tidak sehat terhadap kerja yang memprioritaskan output berlebihan dan aktivitas tanpa henti atas kesejahteraan dan pencapaian yang autentik.
Dalam praktiknya, budaya hustle mencakup bekerja jam-jam panjang, menjalankan multiple income streams (side hustle), melewatkan tidur, dan mengorbankan istirahat, semuanya sambil merayakannya sebagai “komitmen terhadap mimpi.” Frasa populer seperti “Sleep is for the weak” dan “Rise and grind” telah menjadi mantra generasi.
B. Mengapa Generasi Z Merangkul Budaya Hustle?
Adopsi Generasi Z terhadap budaya hustle bukanlah pilihan bebas—ini adalah respons terhadap ketidakpastian ekonomi. Generasi Z melihat krisis finansial 2008 saat mereka masih kecil dan baru-baru ini mengalami dampak ekonomi pandemi. Kenaikan inflasi, pemutusan hubungan kerja masif, dan meningkatnya biaya hidup telah mendorong mereka untuk mengejar kemandirian finansial di luar pekerjaan tradisional.
Lebih dari 9 dari 10 Generasi Z mengharapkan untuk memiliki beberapa bentuk “side hustle,” baik didorong oleh inflasi atau alasan lain. Sementara 70% merencanakan pekerjaan penuh waktu tahun depan, rata-rata lulusan baru mengharapkan gaji $84,855 (sekitar Rp 1.272.825.000) satu tahun setelah lulus. 52% lebih tinggi dari rata-rata gaji awal aktual $55,911 (sekitar Rp 838.665.000).
Kesenjangan antara ekspektasi dan realitas ini menciptakan urgency. Generasi Z merasa bahwa satu pekerjaan tidak cukup. Mereka harus lebih, lebih cepat, lebih baik.
C. Media Sosial dan Glorifikasi Hustle
Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube telah mengagungkan budaya hustle dengan menampilkan influencer dan wirausahawan yang menciptakan gaya hidup mewah dan “menjadi bos Anda sendiri.” Internet dipenuhi dengan cerita-cerita generasi muda yang menghasilkan enam angka melalui pemasaran digital, NFT, atau pemasaran afiliasi.
Masalahnya adalah bahwa cerita sukses ini tidak menampilkan gambaran lengkap. Mereka menampilkan hasil, bukan jam kerja yang tidak terukur, stres, dan kecemasan yang menyertai pencapaian tersebut.
4. Konsekuensi Nyata: Data tentang Kesejahteraan Generasi Z
A. Burnout Mencapai Tingkat Krisis
Data terbaru menunjukkan dampak serius dari kombinasi Sense of urgency dan budaya hustle pada kesehatan mental Generasi Z. Di Singapura, studi menemukan bahwa 68% karyawan Generasi Z merasa burnout karena pekerjaan, dan 58% melaporkan stres beberapa hari dalam seminggu. Perbandingannya: Milenial mencatat 65% burnout dengan 44% mengalami stres yang sering.
Jurnal Occupational Health menemukan bahwa risiko burnout terkait pekerjaan meningkat dua kali lipat ketika karyawan beralih dari minggu kerja 40 jam menjadi 60 jam. Lebih dari 80% karyawan sudah berada pada risiko burnout, dengan karyawan Generasi Z merasakan stres paling tinggi.
B. Krisis Kesehatan Mental
Penelitian menemukan bahwa budaya hustle secara signifikan merugikan kesehatan mental dan kinerja karyawan Generasi Z. Karyawan yang beroperasi di bawah norma hustle sering mengorbankan istirahat, nutrisi, dan perawatan fisik, meningkatkan risiko sakit, kelelahan, dan burnout.
Produktivitas toksik menghasilkan burnout. Kondisi kelelahan kronis yang ditandai dengan kelelahan emosional, sikap sinis, dan pengurangan efektivitas profesional.
5. Dampak Fisik dan Kognitif
Budaya hustle juga memiliki dampak fisik yang terukur. Psikolog memperingatkan bahwa budaya hustle yang selalu aktif dapat dipicu oleh demensia digital—fenomena yang menggambarkan penurunan fungsi kognitif akibat waktu layar berlebihan dan multitasking. Beralih berkelanjutan antara platform dan proyek dapat meningkatkan produktivitas jangka pendek, tetapi datang dengan harga fokus mendalam dan kesejahteraan mental.
Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan 745.000 kematian dalam satu tahun dari stroke dan penyakit jantung sebagai hasil dari bekerja berlebihan.
A. Bagaimana Budaya Hustle Menciptakan Siklus Urgency
1.Mentalitas Semua atau Tidak Sama Sekali
Budaya hustle mendorong mentalitas ekstrem: jika Anda tidak melakukan semuanya, Anda tidak melakukan apa-apa. Bagi Generasi Z yang terpengaruh, ini berarti tidak ada ruang untuk kegagalan, iterasi lambat, atau pembelajaran organik. Setiap momen harus produktif, setiap proyek harus menghasilkan uang, setiap konten harus viral.
2.Refleksi Diri Dipandang sebagai “Tidak Produktif”
Dosen NUS Jonathan Sim menekankan bahwa banyak mahasiswa berjuang dengan introspeksi, memandangnya sebagai tidak produktif. Dunia yang bergerak cepat dan hiperterhubung lebih lanjut mendorong penundaan untuk merefleksikan, yang mengarah pada peningkatan stres, kritik diri yang keras, dan ketakutan akan kegagalan.
Tanpa ruang untuk refleksi, Generasi Z tidak dapat mengevaluasi apakah urgency yang mereka rasakan sebenarnya bermakna atau hanya dibangun oleh algoritma dan ekspektasi sosial.
B. Generasi Z Mulai Menolak: Tanda-Tanda Perubahan
Kabar baiknya adalah bahwa Generasi Z, generasi yang seharusnya disebut “malas” atau “kurang termotivasi” sebenarnya adalah yang pertama secara masif menolak budaya hustle.
1.Redefining Success
Generasi Z lebih mungkin untuk menantang ideologi kerja yang ketinggalan zaman, mengakui efek negatif budaya hustle pada kesehatan mental dan kesejahteraan keseluruhan. Generasi ini memprioritaskan keseimbangan daripada burnout, merangkul pola pikir budaya hustle versus hidup lambat untuk menghindari stres dan beban yang tidak perlu.
Generasi Z mengevaluasi kesuksesan tidak hanya berdasarkan produktivitas tetapi juga kepuasan dan dampak, menolak tekanan konstan yang dipicu oleh mentalitas hustling.
2.Work-Life Balance sebagai Non-Negotiable
Menurut survei LinkedIn terbaru, hampir 75% pekerja Generasi Z memprioritaskan work-life balance dibanding gaji saat mempertimbangkan peluang kerja.
Satu pekerja Generasi Z memberi tahu Forbes: “Kami melihat orang tua kami burnout untuk perusahaan yang menggantikan mereka tanpa berpikir dua kali. Mengapa kami akan mengulangi kesalahan itu?”
3.Quiet Quitting dan Soft Life
Gerakan “quiet quitting” atau “soft quitting” bukan tentang tidak bekerja, ini tentang menetapkan batasan. Ini tidak tentang malas, tetapi tentang bekerja keras dalam jam yang masuk akal sambil menolak untuk melebihi batas untuk pengakuan.
Saat ini, budaya hustle mungkin lebih sedikit tentang bekerja sampai burnout untuk majikan untuk naik tangga perusahaan, dan lebih banyak tentang “kepercayaan diri dalam kemampuan untuk menggabungkan portofolio pekerjaan yang pada akhirnya memungkinkan kebebasan lebih besar dan rasa tujuan yang bermakna untuk diri sendiri.”
6. Rekomendasi: Dari Urgency Berbahaya ke Action Bermakna
A.Untuk Individu Generasi Z
1. Tetapkan Batasan yang Jelas: Antara kerja dan hidup, online dan offline. Istirahat bukan hadiah yang diperoleh melalui bekerja berlebihan. Ini adalah kebutuhan manusia dasar.
2. Redefine Nilai Pribadi: Alih-alih membiarkan algoritma dan influencer mendefinisikan kesuksesan, Generasi Z perlu menggali nilai-nilai pribadi mereka sendiri.
3. Praktik Mindfulness dan Refleksi: Ahli seperti Chirag Agarwal menekankan pentingnya menetapkan batasan untuk mencegah burnout, termasuk mengidentifikasi nilai-nilai pribadi, menetapkan batas non-negotiable, dan mempraktikkan mindfulness untuk mengembangkan hubungan yang lebih sehat dengan pekerjaan.
Sense of urgency pada Generasi Z adalah nyata dan dapat dipahami, mereka mewarisi dunia yang lebih sulit dibanding generasi sebelumnya. Namun budaya hustle bukanlah solusi. Ini adalah diagnosis yang salah, dibingkai oleh media sosial dan budaya influencer sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan.
Generasi Z memiliki kesempatan untuk menulis ulang cerita. Bukan dengan mengorbankan ambisi, tetapi dengan memastikan bahwa ambisi tidak mengorbankan mereka. Generasi Z sedang melangkah ke masa dewasa dengan kesempatan untuk menulis ulang aturan. Mereka dapat memilih untuk membangun dunia yang menghargai being sebanyak doing. Satu di mana ambition dan well-being tidak harus saling bertentangan, di mana mereka merayakan kerja keras tetapi juga merayakan mengatakan “Saya butuh istirahat.”
Karena pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan, terkadang, memperlambat adalah tindakan paling radikal yang bisa dilakukan seseorang.
Daftar Pustaka
American Institute of Stress, 2025. Redefining success in today’s world of hustle culture. Retrieved from https://www.stress.org/news/redefining-success-in-todays-world-of-hustle-culture/
Assariy, M. Z., Hersari, N. I., Sitorus, N. A., Arifin, S., & Faisal. 2024. Literature review: The influence of hustle culture on mental health. ResearchGate. Retrieved from https://www.researchgate.net/publication/379572894_Literature_review_The_influence_of_hustle_culture_on_mental_health
Culture Monkey. 2025. The truth about hustle culture: When hard work goes too far. Retrieved from https://www.culturemonkey.io/employee-engagement/what-is-hustle-culture/
ImPossible Psychological Services. 2025. The impact of hustle culture on millennial & Gen Z mental health. Retrieved from https://www.impossiblepsychservices.com.sg/our-resources/articles/2025/03/14/the-impact-of-hustle-culture-on-millennial-and-gen-z-mental-health
Oak, P. P., & Markandeya, A. A. 2025. FOMO and impulse buying: A behavioral study of Gen Z in the fashion market. International Journal of Engineering and Management Research, 15(3), 75–88.
The FAMUAN. 2025. Why ‘hustle culture’ is hurting Gen Z more than helping. Retrieved from https://www.thefamuanonline.com/2025/04/23/why-hustle-culture-is-hurting-gen-z-more-than-helping/
Times Life. 2025. Beyond 9-to-5: How Gen Z is redefining the hustle culture. Retrieved from https://timeslife.com/life-hacks/beyond-9-to-5-how-gen-z-redefining-the-hustle-culture/articleshow/117980432.html
WellRight. 2025. Hustle culture and mental health: Overcoming the toxic grindset at work. Retrieved from https://www.wellright.com/resources/blog/hustle-culture-and-mental-health
Yan, J. 2023. Hustle culture isn’t dead, it just got a Gen Z rebrand: ‘People want time to live their lives’. CNBC. Retrieved from https://www.cnbc.com/2023/06/28/hustle-culture-isnt-dead-it-just-got-a-gen-z-rebrand.html
Yudhistira, P. 2025. Internal and external factors influencing Gen Z wellbeing. *BMC Public Health, 12042498. Retrieved from https://bmcpublichealth.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12889-025-22124-5
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































