MALANG – Di tengah derasnya arus informasi digital, siswa menengah atas (SMA) kini dapat dengan dengan mudah mengakses berbagai isu politik melalui media sosial. Mulai dari berita pemilu, kebijakan pemerintah, hingga perdebatan publik dapat ditemukan dengan beberapa sentuhan pada layar ponsel. Akan tetapi, kemudahan akses tersebut tidak selalu diikuti dengan kemampuan memahami informasi secara kritis. Akibatnya, kemudahan akses informasi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pemahaman politik yang dimiliki oleh siswa.
Berdasarkan survei Katadata Insight Center (KIC) tahun 2023, sebanyak 68,3% remaja mengaku sering terpapar informasi politik melalui media sosial. Selain itu, 59,8% anak muda menyatakan tertarik pada isu politik, dan 80,1% di antaranya lebih senang mengikuti berita politik dibandingkan terlibat langsung dalam aktivitas politik. Data tersebut menunjukkan bahwa generasi muda sebenarnya tidak apatis terhadap politik dengan ketertarikan mereka yang cukup tinggi, tetapi keterlibatannya masih cenderung pasif.
Penelitian mengenai aksesibilitas pendidikan politik di tingkat SMA yang dilakukan di wilayah Malang dan beberapa daerah lainnya menunjukkan bahwa siswa memiliki ketertarikan terhadap berbagai isu politik yang berkembang di masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner yang melibatkan guru SMA, siswa dinilai cukup mengikuti perkembangan isu politik yang sedang terjadi. Mereka mampu memberikan tanggapan ketika guru mengangkat topik politik atau isu terkini dalam pembelajaran. Namun, para guru menilai pemahaman tersebut masih tergolong dangkal karena banyak siswa menerima informasi dari media sosial tanpa penyaringan atau analisis lebih lanjut.
“Banyak siswa mengikuti berita politik dari media sosial, tetapi sering kali mereka hanya mengetahui permukaannya saja dan belum terbiasa memeriksa sumber atau membandingkan informasi,” ungkap salah satu guru responden.
Temuan lain menunjukkan bahwa partisipasi siswa dalam diskusi politik juga masih relatif rendah. Sebagian besar siswa baru aktif berdiskusi ketika guru mengaitkan isu politik dengan materi pembelajaran atau memberikan pertanyaan pemantik. Artinya, ketertarikan siswa terhadap politik belum sepenuhnya berkembang menjadi keterlibatan aktif dalam proses diskusi dan pembentukan pendapat.
Menariknya, seluruh guru yang menjadi responden sepakat bahwa setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan politik di sekolah. Namun, kesempatan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena perbedaan minat, motivasi, dan tingkat keaktifan siswa. Dengan kata lain, tantangan utama bukan terletak pada ketersediaan akses, melainkan pada pemanfaatan akses tersebut untuk membangun pemahaman yang lebih kritis.
Dalam kondisi ini, guru memegang peran yang sangat penting. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membantu siswa menyaring informasi, mencari sumber yang terpercaya, dan memahami isu politik secara lebih objektif. Melalui diskusi yang terarah, guru dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi arus informasi yang semakin deras.
“Ketika membahas isu politik di kelas, saya berusaha mengajak siswa melihat informasi dari berbagai sudut pandang agar mereka tidak langsung percaya pada satu sumber saja,” ujar salah satu guru responden.
Pada akhirnya, tantangan pendidikan politik di era digital bukan lagi soal kurangnya informasi, melainkan soal kualitas pemahaman atas informasi tersebut. Pendidikan politik tidak hanya bertujuan membuat siswa mengetahui isu-isu yang sedang ramai diperbincangkan, tetapi juga membentuk kemampuan untuk berpikir. Maka dari itu, diperlukan kolaborasi antara guru, sekolah, dan lingkungan sekitar untuk memperkuat literasi politik siswa agar mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi warga negara yang kritis, aktif, dan bertanggung jawab.
Oleh:
1. Fransisca Clarine Cindy Maharani
2. Zahrah Najwa Sarahah
3. Ghazi Shaka Rajanugraha
4. Ryata Mulia Isyana
Biologi Angkatan 2025
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































