“Kalau rumah tanggamu terasa seperti penjara, apakah kamu masih menyebutnya rumah?” Pertanyaan ini mungkin terasa berat, bahkan tabu untuk diucapkan. Namun itulah yang dengan berani dilontarkan Armijn Pane dalam romannya, Belenggu, yang pertama kali terbit pada tahun 1940 dan ironisnya, masih terasa sangat relevan hingga hari ini.
Belenggu bukan sekadar kisah cinta yang berakhir tidak bahagia. Ia adalah potret manusia modern yang terjebak di antara harapan, tanggung jawab, dan kerinduan akan sesuatu yang lebih sesuatu yang bahkan sulit ia namakan sendiri.
Rumah Tangga yang Tampak Baik-Baik Saja, Padahal Tidak
Dokter Sukartono adalah gambaran lelaki yang, di mata dunia luar, tampak sempurna. Ia berpendidikan tinggi, berprofesi mulia, dan memiliki istri cantik bernama Tini. Namun di balik semua itu, ada keretakan yang tumbuh pelan-pelan bukan karena pertengkaran besar, melainkan karena jarak yang tak kasat mata.
Tini tidak menyambut suaminya pulang. Buku kecil tempat mencatat pesan telepon dari pasien tidak ada di meja. Sandal tidak berada di tempatnya. Hal-hal kecil yang tampak sepele ini, bagi Sukartono, terasa seperti tanda bahwa ia tidak lagi diprioritaskan di dalam rumahnya sendiri.
Inilah yang membuat Belenggu begitu menyakitkan sekaligus jujur: konfliknya bukan tentang pengkhianatan yang dramatis, melainkan tentang kerenggangan yang menumpuk diam-diam, sampai pada titik di mana dua orang yang berbagi atap terasa seperti orang asing.
Tini: Perempuan yang Tidak Mau Dibungkam
Tini adalah perempuan yang menolak menjadi istri yang hanya menunggu di rumah, menanggalkan sepatu suami, dan tersenyum manis. Ia ingin lebih. Ia gelisah. Ia tidak bahagia dalam peran yang telah ditentukan untuknya. Dan ketika kegelisahan itu tidak menemukan saluran yang sehat, ia meledak dalam bentuk sikap yang dingin, tidak peduli, dan tampak tidak mau diatur.
Armijn Pane menulis karakter ini di era ketika perempuan masih sangat dibatasi oleh norma sosial. Ia tidak menjadikan Tini sebagai pahlawan, tetapi juga tidak menjadikannya penjahat. Tini adalah manusia yang sedang berjuang melawan belenggu yang bahkan tidak ia sadari sepenuhnya belenggu berupa ekspektasi, peran gender, dan pernikahan yang tidak lagi memberinya ruang untuk bernapas.
Cinta yang Datang di Waktu yang Salah
Tokoh Yah dalam cerita ini seorang perempuan dari masa lalu Sukartono, yang kini hidup dengan cara yang jauh dari “terhormat” menurut ukuran masyarakat. Namun justru dari Yah, Sukartono menemukan kehangatan yang tidak ia dapatkan di rumahnya sendiri.
Bukan karena Yah sempurna. Bukan pula karena cinta mereka bersih dari kerumitan. Tapi ada sesuatu dalam perjumpaan mereka yang membuat Sukartono merasa diperhatikan dan perasaan itu, seringkali, jauh lebih kuat dari sekadar cinta romantis.
Novel Belenggu tidak menghakimi Sukartono atas perasaannya. Ia juga tidak memuliakan Yah. Yang dilakukan Armijn Pane adalah menunjukkan bahwa manusia sangat rentan terhadap kehangatan dan ketika rumah tidak lagi menjadi tempat yang hangat, kita cenderung mencari kehangatan itu di tempat lain.
“Belenggu” Itu Bukan Hanya tentang Pernikahan
Judul “Belenggu” menyimpan makna yang berlapis. Pada permukaan, ia berbicara tentang pernikahan yang terasa mengekang. Namun lebih dalam dari itu, Armijn Pane berbicara tentang belenggu yang lebih luas: belenggu tradisi, belenggu ekspektasi sosial, belenggu identitas yang dipaksakan dari luar.
Sukartono adalah dokter modern yang berpikiran maju, tapi ia masih terikat pada gambaran istri ideal ala perempuan lama. Tini ingin bebas, tapi ia tidak tahu caranya dan ketidaktahuannya itu menghancurkan lebih banyak hal dari yang ia sadari. Yah hidup di luar batas norma, tapi justru ia yang paling tahu siapa dirinya. Ketiganya terbelenggu, masing-masing dengan caranya sendiri.
AMANDA MAHARANI ASMAR, UIN Jakarta
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































