DEN HAAG – Memasuki bulan kedua di Delft, Belanda, kehidupan seorang pelajar pribumi bernama Hidjo mengalami perubahan yang sangat drastis. Pemuda yang berasal dari Solo dan dikenal sebagai sosok yang religius serta pendiam oleh orang-orang di sekitarnya ini mulai merasakan kegelisahan batin yang mendalam setelah bertemu langsung dengan gaya hidup masyarakat Eropa yang lebih bebas. Prinsip hidup Hidjo mulai terguncang setelah ia menonton pertunjukan opera Faust di Koninklijke Schouwburg, Den Haag, bersama keluarga direktur bank tempat ia tinggal. Cerita Faust yang berhubungan dengan seorang intelektual yang mengorbankan segalanya demi cinta dan kesenangan duniawi seolah-olah mengancam dan mempengaruhi pikiran Hidjo.
Perubahan karakter Hidjo semakin tampak jelas ketika ia mengikuti ajakan Betje, putri direktur bank yang cantik. Keduanya naik trem jalur 5 untuk pergi ke Prinsesse Schouwburg demi menyaksikan pertunjukan tari Lili Green yang menggoda. Kebebasan malam hari di Eropa semakin menggoyahkan iman Hidjo. Setelah pertunjukan, atas ajakan Betje, mereka berdua memutuskan untuk menyewa kamar di Hotel Scheveningen hingga larut malam. Pengalaman malam itu meninggalkan rasa penyesalan yang mendalam di dalam hati Hidjo, terutama ketika ia menerima sekumpulan surat dari tanah air keesokan harinya.
Di meja makan, Hidjo menerima sebuah amplop tebal yang berisi tiga surat sekaligus, masing-masing dari Wardoyo, Wungu, dan Biru gadis asal Solo yang juga merupakan persahabatan serta persahabatannya. Surat-surat itu langsung memicu konflik batin. Hidjo merasa bersalah karena telah melanggar norma kesopanan Timur dengan Betje, sementara di Solo ada perasaan yang harus ia lindungi.
“Bagaimana kabar Biru dan ibu selama saya pergi?” keluh Hidjo dalam hati sambil mengenang masa-masa indahnya di Solo.
Di Hindia Belanda, hubungan antara keluarga Hidjo dan keluarga Raden Ayu Regent Jarak semakin erat. Mereka pernah bertemu di pemandian Baturaden dan bersama-sama merayakan ulang tahun Regent Jarak yang meriah dengan pertunjukan gamelan serta tari tandak. Baik Biru maupun Wungu, secara diam-diam berharap akan kepulangan sang Student dari Belanda.
Novel Pelajar Hidjo yang pertama kali terbit sebagai cerita bersambung di Harian Sinar Hindia pada tahun 1918 ini bukan sekadar romansa biasa. Sang penulis, Marco Kartodikromo, menggunakan kisah ini sebagai pelopor sastra perlawanan pranata kolonial. Melalui memasukkan tokoh-tokoh lain dalam cerita, seperti antara Controleur Walter dan Sersan Djepris di atas kapal menuju Eropa, Marco secara berani mengancam kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang sengaja membiarkan rakyat bumiputera hidup dalam kemiskinan dan kemiskinan. Novel ini menjadi Saksi sejarah lahirnya kaum intelektual pribumi yang mulai berani mengekspresikan kehidupan bebas di Belanda dengan tiba-tiba terjadi di Hindia Belanda.
Bagaimanakah kelanjutan akhir kisah Hidjo? Anda dapat membaca kisah lengkapnya langsung pada dokumen sastra sejarah sastra Indonesia pra Kemerdekaan.
Apakah Anda tertarik untuk mengulas lebih lanjut mengenai aspek kritik politik kolonial dalam novel ini?
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































