Tidak semua hubungan hancur karena orang ketiga. Kadang, sebuah hubungan retak justru karena dua orang yang tinggal serumah perlahan berhenti saling memahami. Mereka masih berbicara, masih duduk di meja yang sama, tetapi hati keduanya sudah berjalan ke arah berbeda. Fenomena inilah yang terasa begitu kuat dalam novel Belenggu karya Armijn Pane.
Tokoh Sukartono digambarkan sebagai dokter yang baik dan disegani. Di mata banyak orang, hidupnya tampak sempurna. Ia memiliki pekerjaan mapan, rumah, dan seorang istri bernama Tini yang modern serta aktif dalam organisasi sosial. Namun, di balik kehidupan yang terlihat ideal itu, Sukartono justru merasa kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Hubungannya dengan Tini terasa dingin. Mereka tinggal bersama, tetapi tidak benar-benar hadir satu sama lain. Tini sibuk dengan dunianya sendiri, sementara Sukartono perlahan mencari kenyamanan di tempat lain. Di sinilah Armijn Pane menunjukkan bahwa manusia sering kali tidak pergi karena kurang cinta, tetapi karena terlalu lama merasa tidak dimengerti.
Kehadiran Yah atau Nyonya Eni menjadi titik balik dalam hidup Sukartono. Yah hadir bukan hanya sebagai perempuan lain, melainkan sebagai tempat pulang bagi seseorang yang lelah menyimpan sepi. Ia mendengarkan, memahami, dan memberikan perhatian kecil yang selama ini hilang dari kehidupan Sukartono. Yang menarik, Armijn Pane tidak menjadikan tokoh-tokohnya sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Semua tokoh memiliki luka dan alasan masing-masing. Di sinilah Belenggu terasa sangat relevan hingga sekarang.
Banyak hubungan hari ini bertahan secara status, tetapi sebenarnya kehilangan kedekatan. Orang-orang tinggal bersama, tetapi sibuk dengan dunianya masing-masing. Ada yang lebih nyaman bercerita kepada orang lain dibanding pasangan sendiri. Ada yang lebih merasa didengar di luar rumah daripada di dalam rumahnya sendiri. Media sosial, pekerjaan, kesibukan, dan tuntutan hidup modern sering membuat manusia lupa bahwa hubungan tidak cukup dipertahankan hanya dengan keberadaan fisik.
Melalui Belenggu, Armijn Pane juga seperti mengkritik perubahan zaman. Tini mewakili perempuan modern yang ingin bebas dan aktif di ruang publik, sementara Sukartono diam-diam masih merindukan kehangatan rumah tangga yang sederhana. Benturan pemikiran inilah yang akhirnya menciptakan jarak di antara mereka. Pada akhirnya, Belenggu mengingatkan bahwa hubungan bukan hanya soal bertahan bersama, tetapi juga tentang kemampuan untuk saling mendengar. Sebab, kesepian paling menyakitkan bukan datang ketika seseorang sendirian, melainkan ketika ia merasa sendiri di tengah orang yang seharusnya menjadi rumahnya sendiri.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































