“Kata AI, jawabannya itu….” Kalimat seperti ini pasti tidak asing didengarkan dalam percakapan sehari-hari. Kini, semakin banyak orang yang langsung bertanya kepada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Dimulai dari tugas kuliah, informasi kesehatan, bahkan untuk pertanyaan mudah yang sebenarnya bisa kita jawab sendiri. AI memang mempermudah akses pengetahuan, namun seberapa sering kita mempertanyakan kebenaran dari jawaban tersebut? Dari mana informasi itu berasal? Apa buktinya? Kemampuan AI menghasilkan teks yang meyakinakan membuat banyak orang cenderung menerima informasi yang diberikan tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Ketika jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik, apakah manusia masih menjalani proses berpikir yang sama seperti sebelumnya?
Pertanyaan tersebut membawa kita pada pemikiran seorang filsuf yunani kuno, Sokrates. Meskipun hidup dua ribu tahun yang lalu sangat berbeda dengan era digital saat ini, gagasan-gagasannya mengenai pencarian pengetahuan masih sangat relevan untuk memahami bagaimana manusia berinteraksi dengan teknologi modern. Sokrates dikenal karena metode dialektika yang disebut sebagai maieutike tekhne (seni kebidanan). Menurut (Wibowo, 2022) penamaan metode ini disebabkan oleh keyakinan Sokrates bahwa dia adalah bidan pemikiran dan pengetahuan. Sokrates menganggap dirinya mirip seperti seorang bidan yang membantu melahirkan bayi, dimana dia membantu “melahirkan” sebuah pengetahuan yang tertanam dalam diri.
Pandangan Sokrates yang terpenting adalah bahwa pada diri setiap manusia terpendam jawaban mengenai berbagai persoalan dalam dunia nyata (Anisa dkk., 2024). Dalam metode dialektika Sokrates, tujuan utama bukan sekedar menemukan jawaban yang benar. Melainkan Proses berpikir yang terjadi selama dialog berlangsung yang lebih penting. Dengan metode khasnya, lewat sanggahan-sanggahan yang gencar diberikan Sokrates, mitra wicara diajak masuk dalam proses melahirkan pengetahuan yang sebenarnya sudah ada di dalam diri si mitra wicara sendiri (Wibowo, 2022). Dengan kata lain, pengetahuan tidak dipandang sebagai sesuatu yang langsung diberikan begitu saja, melainkan sesuatu yang dibentuk melalui proses refleksi dan pertukaran gagasan.
Jika dibandingkan dengan cara AI bekerja, terdapat perbedaan yang menarik. Ketika seseorang bertanya kepada AI, jawaban yang diberikan biasanya otomatis dan cepat. Karna pemerolehan informasi yang efisien ini, pengguna cukup membaca hasil yang diberikan dan menganggap bahwa apa yang diberikan oleh AI sudah sangat benar. Proses yang terjadi lebih menyerupai penerimaan informasi daripada proses berpikir mendalam yang tercipta dari berbagai gagasan dan serangkaian pertanyaan. Pengguna dapat memperoleh jawaban tanpa benar-benar terlibat dalam proses pembentukan pemahaman, akibatnya informasi yang diperoleh cenderung tidak disadari dan melekat.
Fenomena ini dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya seorang mahasiswa yang sedang menyusun tugas kuliah dapat meminta AI menjelaskan suatu teori, informasi yang diperoleh mungkin terlihat masuk akal, bermanfaat dan relevan, Namun jika mahasiswa hanya menerima informasi tanpa melakukan evaluasi jawaban seperti mempertanyakan asumsi, sumber, atau sudut pandang yang digunakan, maka proses belajar berpotensi menjadi lebih pasif.
Disinilah metode dialektika Sokrates menjadi relevan. Dialektika mengajarkan bahwa suatu gagasan tidak seharusnya diterima begitu saja hanya karena terdengar masuk akal atau disampaikan dengan meyakinkan. Gagasan tersebut seharusnya diuji terlebih dahulu melalui pertanyaan, dan kritik. Menurut Nitami dkk. (2025) Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menjebak, tetapi untuk menguji koherensi argumen, memperjelas konsep yang kabur, dan menemukan struktur gagasan yang lebih murni. Tradisi berpikir seperti ini membantu seseorang membangun pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan sekedar menerima dan menimbun informasi yang belum tentu benar.
Penggunaan AI bukan sepenuhnya harus dihindari. Kita sebagai pengguna seharusnya bisa menggunakan AI sebagai tempat untuk membedah dan mencari suatu jawaban. AI bukanlah lawan dari proses berpikir kritis tetapi menjadi alat yang memperkaya dialog apabila digunakan secara tepat. Pengguna dapat meminta AI menjelaskan kelemahan suatu pendapat atau membandingkan berbagai perspektif mengenai suatu isu. Tetapi, dalam proses berpikir kritis ini pengguna tetap harus memiliki kendali. Pengguna diharuskan untuk tetap berpikir kritis, mencari sumber kredibel dan menanyakan pertanyaan yang bisa menjadi membedah kekurangan dari suatu jawaban. Dengan begitu AI dapat berfungsi sebagai sarana untuk memperluas eksplorasi intelektual dan bukan hanya penyedia jawaban instan.
Sokrates menekankan pentingnya berpikir kritis dan mempertanyakan asumsi, kemudian metode tanya jawabnya membantu kita untuk mengidentifikasi dan menantang asumsi yang tidak teruji, menganalisis argumen secara logis, membentuk opini berdasarkan bukti dan penalaran, dan menghindari kesimpulan yang terburu-buru dan bias (Utami dkk., 2024). Oleh karena itu, permasalahan penggunaan AI bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada bagaimana manusia memanfaatkannya. Jika AI hanya digunakan untuk memperoleh jawaban cepat, proses berpikir dapat menjadi lebih dangkal. Namun jika AI digunakan sebagai alat untuk berdialog, mempertanyakan, dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan pemikiran, teknologi ini justru mendukung tradisi intelektual yang mengharuskan kita untuk terus berpikir kritis.
Secara keseluruhan, jejak pemikiran dari Socrates hingga era modern menunjukkan bahwa kemajuan pengetahuan tidak terjadi dalam ruang hampa; ia dibangun di atas tradisi panjang refleksi kritis yang menghargai akal, dialog, dan kejujuran intelektual (Nitami dkk., 2025). Ketika teknologi semakin mampu menyediakan jawaban secara instan maka kemampuan yang semakin berharga bagi manusia bukanlah kemampuan menemukan jawaban, melainkan kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat. Perkembangan AI menunjukkan akses terhadap informasi bukan lagi masalah utama, melainkan bagaimana informasi tersebut menjadi pemahaman yang bermakna.
DAFTAR PUSTAKA
Anisa, S. Z., Runandanatadila, O. H., Lekahena, P. D., & Pratama, M. A. (2024). Moral dan karakter dalam Socrates. Praxis: Jurnal Filsafat Terapan, 1(2), 1-25. https://journal.forikami.com/index.php/praxis/article/view/655
Nitami, S. D., Karneli, Y., & Handayani, P. G. (2025). Pemikiran Socrates terhadap pengembangan filsafat modern. Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik, 2(6), 720-729. https://doi.org/10.61722/jmia.v2i6.7277
Utami, S. N., Istawa, T. P., Anbar, C. N., & Pratama, M. A. (2024). Gerakan Socrates Mauetika Techne. Praxis: Jurnal Filsafat Terapan, 1(2), 1-18. https://journal.forikami.com/index.php/praxis/article/view/656
Wibowo, A. S. (Ed.). (2022). Cara Kerja Ilmu Filsafat dan Filsafat Ilmu. Kepustakaan Populer Gramedia. Retrieved June 7, 2026, from http://repo.driyarkara.ac.id/id/eprint/882
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































