Rupiah mencatat serangkaian rekor pelemahan sepanjang Juni 2026, sempat menyentuh Rp18.188 per dolar AS pada 8 Juni 2026 — titik terendah sepanjang sejarah rupiah. Meski pada 10 Juni 2026 sedikit menguat ke Rp17.940 setelah Bank Indonesia menaikkan BI-Rate menjadi 5,50%, tekanan terhadap mata uang nasional belum mereda. Dampaknya tidak hanya terasa di dunia finansial, tapi langsung merambat ke kehidupan sehari-hari masyarakat, dari pasar tradisional hingga meja makan keluarga. Situasi ini menegaskan kembali betapa rapuhnya sistem ketahanan pangan nasional ketika berhadapan dengan tekanan kurs valuta asing yang berkepanjangan.
Rupiah dalam Tekanan Berat
Meski tergolong salah satu ekonomi terbesar di kawasan Asia Tenggara, Indonesia masih menghadapi ketergantungan yang cukup tinggi terhadap produk pangan dari luar negeri — mulai dari gandum, kedelai, gula, daging sapi, hingga sebagian jenis beras kelas atas. Kondisi ini membuat setiap pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS langsung berdampak pada rantai distribusi pangan secara nasional.
Pelemahan kurs pada Juni 2026 dipicu oleh dua faktor yang saling bertumpuk: ketidakstabilan geopolitik di kawasan Timur Tengah dari sisi eksternal, serta menyusutnya surplus neraca perdagangan dan tekanan tarif impor AS sebesar 18% yang direncanakan berlaku mulai 24 Juli 2026 dari sisi domestik. Dalam lima bulan pertama 2026, cadangan devisa Indonesia menyusut sebesar US$11,6 miliar hingga tersisa US$144,9 miliar per akhir Mei 2026 — terendah sejak Juni 2024. Merespons hal ini, Bank Indonesia menaikkan BI-Rate dua kali dalam sebulan: sebesar 50 bps menjadi 5,25% pada Mei 2026, lalu kembali menaikkan 25 bps menjadi 5,50% pada Rapat Dewan Gubernur Mingguan 9 Juni 2026. Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Rijadh Djatu Winardi, menyebut kombinasi tekanan eksternal dan domestik ini sebagai badai sempurna yang menghantam perekonomian dari dua arah sekaligus.
“Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing dan penguatan kebijakan moneter. Cadangan devisa BI lebih dari cukup untuk mendukung ketahanan sektor eksternal.”
— Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia
Mekanisme: Bagaimana Kurs Memengaruhi Harga Pasar
Pengaruh kurs terhadap harga pangan berlangsung melalui beberapa saluran secara bersamaan:
1. Biaya bahan baku impor naik — komoditas seperti gandum, kedelai, gula, dan daging beku yang transaksinya menggunakan dolar menjadi lebih mahal ketika rupiah melemah, sehingga ongkos produksi pangan ikut meningkat.
2. Beban logistik membengkak — harga bahan bakar, ongkos angkut, dan biaya distribusi turut meningkat, yang pada akhirnya tercermin dalam harga jual ke konsumen.
3. Sektor pertanian lokal juga terdampak — pupuk, pestisida, dan peralatan pertanian yang masih banyak diimpor menyebabkan biaya bertani semakin tinggi.
Dengan demikian, guncangan kurs merembes ke seluruh rantai pasok dan bermuara pada kenaikan harga di tingkat konsumen.
Komoditas yang Paling Rentan
Dampaknya tidak merata di setiap jenis bahan pokok. Seberapa besar pengaruhnya bergantung pada seberapa besar kandungan impor dalam rantai pasok masing-masing komoditas. Berdasarkan data Siskaperbapo Jawa Timur per 7 Juni 2026, harga beras premium mencapai Rp14.825/kg, beras medium Rp12.912/kg, gula kristal putih Rp17.324/kg, minyak goreng curah Rp21.068/kg, daging sapi Rp125.196/kg, daging ayam ras Rp33.309/kg, telur ayam ras Rp25.812/kg, dan cabai rawit merah Rp64.178/kg. Inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara tahunan mencapai 4,94% pada Mei 2026, menjadi penyumbang terbesar inflasi nasional sebesar 3,08% (y-o-y), dengan volatile foods melonjak hingga 6,24% secara tahunan (BPS, Juni 2026).
Siapa yang Paling Merasakan Dampaknya?
Kelompok yang paling merasakan dampak kenaikan harga pangan adalah rumah tangga berpenghasilan rendah karena sebagian besar pendapatan mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Ketika harga pangan meningkat, mereka terpaksa mengurangi konsumsi protein hewani, beralih ke bahan makanan yang lebih murah dengan nilai gizi yang lebih rendah, atau bahkan mengurangi frekuensi makan dalam sehari. Selain masyarakat, pelaku usaha kecil seperti pedagang dan produsen juga terkena dampaknya. Kenaikan harga bahan baku menyebabkan margin keuntungan semakin sempit, volume produksi menurun, dan sebagian usaha terpaksa tutup. Pemilik warung sembako turut merasakan tekanan karena harga barang dari distributor terus naik, sementara daya beli konsumen justru menurun.
Langkah yang Perlu Diambil Pemerintah
Kebijakan Moneter: Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui operasi pasar terbuka, mengelola cadangan devisa secara optimal, serta menyesuaikan suku bunga acuan sesuai kondisi ekonomi untuk mengendalikan tekanan inflasi.
Kebijakan Fiskal: Pemerintah perlu mengoptimalkan peran Bulog dan BUMN pangan dalam melakukan operasi pasar ketika harga bergejolak, memperkuat program bantuan sosial yang disesuaikan dengan tingkat inflasi pangan, serta memastikan subsidi diberikan secara tepat sasaran kepada kelompok masyarakat yang paling rentan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































