Adegan dalam pementasan “Rumah Tanpa Bendera” pada Sabtu, ( 20/06/26).
“Ini adalah catatan pimpinan produksi setelah pementasan Teater Seruni dengan judul drama “Rumah Tanpa Bendera.” Pementasan ini dalam rangka menjalankan “Drama Warisan Tahunan 8.0”, di Gedung A Viktor, Universitas Pamulang, Tangerang Selatan.”
***
Jika ditanya bagaimana rasanya menjadi Pimpinan Produksi dalam pementasan Rumah Tanpa Bendera, mungkin saya akan menjawab: melelahkan, menegangkan, tetapi sangat bermakna.
Jujur, perjalanan menuju hari pementasan bukanlah perjalanan yang mudah. Ada banyak hal yang harus dipikirkan dalam waktu yang bersamaan. Mulai dari publikasi, penjualan tiket, koordinasi antar-divisi, kebutuhan panggung, komunikasi dengan dosen pembimbing, kaprodi, perizinan gedung hingga memastikan seluruh rangkaian acara dapat berjalan dengan baik. Terkadang saya merasa satu hari tidak cukup untuk menyelesaikan semua hal yang harus dikerjakan.
Di tengah kesibukan itu, ada saat-saat ketika saya merasa lelah. Ada kekhawatiran apakah acara ini akan berjalan lancar, apakah kursi penonton akan terpenuhi, apakah seluruh kebutuhan produksi sudah terpenuhi, dan masih banyak pertanyaan lain yang terus muncul menjelang hari-H. Namun setiap kali rasa lelah itu datang, saya selalu diingatkan bahwa saya tidak berjalan sendirian.
Saya beruntung dipertemukan dengan tim yang mau berjuang bersama. Saya melihat bagaimana setiap orang memberikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaannya untuk pementasan ini. Ada yang bekerja hingga larut malam, ada yang rela mengorbankan waktu istirahatnya, ada yang diam-diam menyelesaikan banyak hal tanpa meminta pengakuan. Dari sana saya belajar bahwa teater adalah tentang kebersamaan.
Sebagai Pimpro, saya belajar bahwa memimpin bukan berarti menjadi orang yang paling hebat. Memimpin berarti mampu merangkul, mendengarkan, dan tetap berdiri ketika tim membutuhkan arah. Saat mereka bertanya kepada, saya tidak selalu tahu jawabannya. Saya juga pernah bingung, panik, bahkan merasa kewalahan. Namun dari proses itulah saya belajar untuk terus bertanggung jawab dan mencari jalan keluar bersama.
Antusiasme
penonton memenuhi ruang pementasan Teater Seruni ( 20/06/26).
Antusiasme penonton memenuhi ruang pementasan Teater Seruni ( 20/06/26).
Setelah berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan menjalani proses, hari pementasan tiba, melihat penonton memenuhi ruangan menjadi perasaan yang sulit dijelaskan. Ketika lampu panggung menyala dan para pemain mulai membawakan cerita mereka, saya menyadari bahwa semua rasa lelah yang selama ini dirasakan perlahan berubah menjadi rasa syukur.
Jika ada satu hal yang ingin saya kenang dari Rumah Tanpa Bendera, itu adalah prosesnya. Sebab di sanalah kami belajar bertumbuh bersama. Seluruh perjalanan tersebut saya dokumentasikan bersama tim melalui Instagram @teaterseruni, mulai dari persiapan hingga pementasan berlangsung. Dokumentasi itu menjadi saksi bahwa setiap tepuk tangan yang terdengar di akhir pertunjukan sesungguhnya lahir dari kerja keras banyak orang yang bekerja dengan sepenuh hati.
Bagi saya, Rumah Tanpa Bendera bukan sekadar pementasan yang berhasil kami hadirkan di atas panggung. Pertunjukan ini membawa pesan tentang kemanusiaan, kebebasan, dan keberanian untuk menyuarakan hal-hal yang sering kali terpinggirkan. Di tengah berbagai realitas sosial yang kita hadapi, teater menjadi salah satu cara untuk mengajak penonton melihat, merasakan, dan merenungkan kembali keadaan di sekitar mereka.
Rumah Tanpa Bendera juga mengajarkan saya banyak hal. Bukan hanya tentang bagaimana menyelenggarakan sebuah pementasan, tetapi juga tentang kepercayaan, kerja sama, tanggung jawab, dan ketulusan dalam berproses. Saya belajar bahwa hasil yang baik selalu lahir dari proses yang tidak mudah.
Kini tirai telah ditutup. Dokumentasi telah tersimpan. Panggung telah kembali kosong. Namun bagi saya, perjalanan ini akan selalu hidup sebagai salah satu pengalaman paling berharga selama menjadi mahasiswa Sastra Indonesia.
Terima kasih kepada seluruh keluarga besar Teater Seruni, sutradara, stage manager, para pemain, kru, dosen pembimbing, mentor, dan tentu saja para penonton yang telah hadir dan memberi ruang bagi cerita ini untuk hidup.
Dan untuk diri saya sendiri, terima kasih sudah bertahan sampai akhir.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































![Blok M Jadi Surga Nongkrong Gen Z di Jakarta Selatan 34 Kepadatan pengunjung kawasan Blok M
[Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi]](https://siaran-berita.com/wp-content/uploads/2026/06/1000862511-360x180.jpg)







































