Di Balik Tugas dan Deadline: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Mahasiswa
Yogyakarta, 09 Juni 2026 – Di tengah padatnya jadwal kuliah, tugas, ujian, organisasi, hingga tekanan untuk mencapai prestasi akademik, kesehatan mental mahasiswa menjadi isu yang semakin penting diperhatikan. Kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial seseorang yang memengaruhi cara berpikir, mengelola emosi, serta mengambil keputusan. Permasalahan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 3: Good Health and Well-Being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) yang bertujuan menjamin kehidupan sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua usia.
Berdasarkan hasil Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), sekitar 34,9% remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, sementara 5,5% atau sekitar 2,45 juta remaja mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Gangguan yang paling banyak ditemukan adalah gangguan kecemasan (anxiety disorder) sebesar 3,7%, disusul depresi mayor sebesar 1,0%, gangguan perilaku 0,9%, serta PTSD dan ADHD masing-masing 0,5%. Temuan ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental di usia muda, termasuk mahasiswa, bukan lagi persoalan yang dapat dianggap sepele.
Mahasiswa berada pada rentang usia 18–22 tahun, yaitu fase transisi menuju dewasa yang rentan terhadap tekanan emosional akibat tuntutan akademik, adaptasi lingkungan, masalah finansial, hingga kekhawatiran mengenai masa depan karier. Kementerian Kesehatan juga menegaskan bahwa tekanan selama masa perkuliahan dapat memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa dan berdampak pada menurunnya fokus belajar, kualitas tidur, produktivitas, bahkan motivasi akademik.
Beberapa tanda gangguan kesehatan mental pada mahasiswa meliputi stres berlebihan, sulit berkonsentrasi, kelelahan emosional, gangguan tidur, rasa cemas berlebih, hingga kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, mahasiswa dianjurkan untuk menjaga keseimbangan antara akademik dan kehidupan pribadi dengan mengatur waktu belajar, beristirahat cukup, rutin berolahraga, menjaga komunikasi dengan keluarga atau teman, serta membatasi penggunaan media sosial secara berlebihan. Jika tekanan emosional mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan melalui layanan konseling kampus atau psikolog menjadi langkah yang penting.
Meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental di lingkungan perguruan tinggi diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang lebih sehat dan suportif. Dengan kondisi mental yang baik, mahasiswa dapat menjalani proses pendidikan secara optimal dan berkembang menjadi generasi muda yang sehat, produktif, serta berkualitas di masa depan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































