Momentum kemerdekaan Indonesia kini membawa tantangan baru bagi generasi muda, khususnya dalam merawat keberagaman di tengah derasnya arus informasi media digital. Peran vital anak muda dalam menjaga rajutan toleransi tersebut menjadi fokus utama forum Bincang Damai bertajuk “Menjadi Indonesia: Merdeka, Berbeda dan Tetap Bersama” yang diselenggarakan secara daring oleh Ruang Damai pada Senin, 17 Agustus 2026.
Diskusi yang menjadi bagian dari rangkaian Showcase Ruang Damai Exhibition 2026 ini menempatkan keterlibatan Gen Z di ruang digital sebagai sorotan utama. Ketua Umum PP Mahasiswa Buddhis Indonesia periode 2026–2028, Apt. Agustina, S.Farm., menegaskan bahwa pesatnya arus informasi menuntut anak muda untuk mengambil kendali atas arah percakapan publik.
“Ruang digital yang begitu cepat ini harus kita manfaatkan secara positif. Jangan sampai digunakan untuk memecah belah, melainkan untuk membangun komunikasi yang sehat dan saling menghargai perbedaan,” tegas Agustina.
Untuk membendung narasi kebencian di media sosial, ia menawarkan pendekatan nilai universal Brahmavihara sebagai panduan etika berinternet. Nilai tersebut meliputi Metta (cinta kasih), Karuna (welas asih), Mudita (turut bersukacita atas keberhasilan orang lain), dan Upekkha (keseimbangan batin). Menurutnya, keempat prinsip ini ampuh menjaga kedamaian di dunia maya.
“Ketika kita menerapkan Upekkha atau keseimbangan batin, kita tidak akan mudah terprovokasi oleh konten-konten negatif yang berseliweran di linimasa,” tambahnya.
Menanggapi tantangan era digital, Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, meyakini bahwa proses menjadi Indonesia akan terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Namun, ia mengingatkan agar anak muda tidak terjebak dalam interaksi semu di balik layar semata.
“Kemerdekaan harus berarti ruang untuk menjadi diri sendiri. Tentu untuk mewujudkan toleransi dengan hadir secara penuh dalam interaksi, perjumpaan, dan kerja bersama lintas identitas,” ujar Prof. Aji.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Ruang Damai, Zainal Abidin, menekankan bahwa perbedaan latar belakang dan antargenerasi di era digital justru menjadi peluang besar untuk memperkuat kebebasan berpikir yang bertanggung jawab.
“Merdeka tidak hanya dimaknai tentang bebas saja, tetapi kita merdeka berpikir, merdeka menjadi diri sendiri,” pungkas Zainal.
Melalui forum ini, Ruang Damai mengajak kaum muda memanfaatkan media digital sebagai wadah pemersatu yang merayakan perbedaan tanpa kehilangan akar identitas kebangsaan.
Pewarta: Akbar Trio Mashuri
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































