Di tengah gelombang serangan digital, di mana pekerjaan seperti pembuat konten, programmer, dan pekerja startup semakin disukai oleh banyak pemuda, sektor pertanian justru semakin ditinggalkan. Bukan karena bidang itu tidak penting, melainkan karena dianggap kurang menarik. Pertanyaannya, apakah ini hanya perubahan selera dari satu generasi, ataukah ini tanda peringatan yang selama ini kita abaikan?
Kenyataannya, minat generasi muda terhadap sektor pertanian semakin menurun. Kebanyakan dari mereka memilih pekerjaan yang dianggap lebih modern, menarik, dan memberikan keuntungan secara finansial. Sementara itu, sektor pertanian masih terjebak dalam pandangan lama yang menggambarkannya sebagai pekerjaan yang kotor, melelahkan, dan penuh ketidakpastian. Citra ini tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dilewatkan secara sosial dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Permasalahannya, pandangan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Nyatanya, situasi di lapangan menunjukkan bahwa banyak petani masih mengalami berbagai hambatan, seperti akses yang terbatas terhadap modal, teknologi, dan pasar. Namun, pertanian modern telah berkembang dengan sangat cepat. Inovasi seperti pertanian presisi, hidroponik, dan pemasaran digital bisa mengubah cara kerja sektor pertanian menjadi lebih efektif dan menguntungkan. Sayangnya, perubahan ini belum merata dan belum cukup kuat untuk mengubah cara pikir generasi muda.
Yang lebih mencemaskan adalah efek jangka panjangnya. Saat generasi muda tidak ingin bertani, proses pengganti petani akan berhenti. Ini bukan hanya masalah tenaga kerja, tetapi juga merupakan ancaman langsung terhadap ketahanan pangan. Siapa yang akan menanam, merawat, dan memetik jika tidak ada orang yang mau melanjutkan? Dalam situasi ini, krisis pangan bukan lagi sesuatu yang mungkin terjadi, melainkan bahaya yang benar-benar ada.
Saya yakin masalah ini tidak hanya karena generasi muda, tetapi juga karena sistem belum berhasil membawa pertanian menjadi sektor yang menjanjikan dan berpotensi. Kita sudah terlalu lama tidak memberikan perubahan penting pada sektor pertanian. Akibatnya, para pemuda tidak melihat masa depan di dalamnya.
Oleh karena itu, solusi yang diberikan tidak boleh dipotong-potong. Pertanian perlu diubah secara total, bukan hanya diperbaiki saja. Pemerintah perlu membuat kebijakan yang benar-benar membantu petani muda, misalnya dengan memberikan akses yang mudah terhadap tanah, uang, dan teknologi. Pendidikan juga harus turut serta dalam mengenalkan pertanian sebagai sektor yang inovatif dan.
Selain itu, penting untuk mengubah cerita. Menjadi petani bukan berarti gagal, tapi justru memberi manfaat besar bagi kehidupan orang-orang. Tanpa para petani, tidak ada pangan. Tanpa makanan, kehidupan tidak ada.
Jika kita terus mengabaikan kehilangan minat generasi muda terhadap sektor pertanian, maka kita justru menciptakan krisis yang akan menimpa kita sendiri. Pertanian tidak membutuhkan empati, tetapi lebih membutuhkan fokus dan perbaikan yang besar. Generasi muda punya banyak kemungkinan,mereka hanya butuh alasan yang mantap untuk memikirkan pertanian sebagai pilihan masa depan mereka.
Penulis : Deni Galih Prasojo
NIM : A2306103501006
Prodi :Agroteknologi
Semester : 6 (enam)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



























































