Barangkali persoalan terbesar generasi digital bukanlah karena mereka terlalu gemar berbelanja. Persoalannya adalah mereka hidup di dalam sebuah etalase yang tidak pernah mematikan lampunya.
Indonesia saat ini perlahan berubah menjadi sebuah pusat perbelanjaan raksasa. Bedanya, etalasenya bukan lagi kaca toko yang hanya dapat dilihat ketika seseorang mengunjungi pusat perbelanjaan, melainkan layar ponsel yang setiap saat berada di dalam genggaman mereka. Di dalam layar berukuran sekitar enam inci itulah setiap hari jutaan orang disuguhi barang-barang yang tampak menarik, gaya hidup yang terlihat sempurna, dan tren yang dibuat seolah wajib diikuti.
Kita hidup di era ketika aktivitas membuka media sosial tidak lagi hanya sekadar mencari hiburan atau informasi. Dalam hitungan detik, beranda dipenuhi video “racun”, rekomendasi produk, siaran langsung penjual yang menawarkan diskon yang terbatas, hingga unggahan influencer yang memperlihatkan pengalaman menggunakan barang tertentu untuk mempromosikan.
Fenomena ini semakin diperkuat oleh berkembangnya fitur-fitur seperti TikTok Shop, live shopping, flash sale, dan affiliate marketing. Platform digital tidak lagi hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga menjelma sebagai pusat perdagangan yang aktif memengaruhi keputusan kita untuk konsumsi. Setiap guliran layar menghadirkan kemungkinan baru untuk membeli sesuatu, bahkan sebelum seseorang menyadari apakah ia benar-benar membutuhkannya.
Fenomena tersebut semakin relevan jika melihat kondisi Indonesia saat ini. Berdasarkan Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024 yang dilakukan APJII, jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai sekitar 221,5 juta orang, atau sekitar 79,5% dari total penduduk. Menariknya, Generasi Z menjadi kelompok dengan tingkat penetrasi internet tertinggi dibandingkan generasi lainnya. Artinya, sebagian besar anak muda Indonesia hidup dalam ruang digital yang nyaris tidak pernah berhenti menampilkan informasi, hiburan, sekaligus promosi produk. (APJII)
Di balik fenomena tersebut, terdapat dorongan psikologis yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman, tren, atau kesempatan yang dimiliki orang lain. Dalam konteks konsumsi, FOMO membuat seseorang membeli bukan semata karena kebutuhan, melainkan karena khawatir kehilangan diskon, takut kehabisan produk, atau merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya. Akibatnya, keputusan membeli sering kali lebih didorong oleh emosi daripada pertimbangan rasional.
Ironisnya, strategi pemasaran digital pada dasarnya memang dirancang untuk menciptakan perasaan tersebut. Kalimat seperti “stok tinggal sedikit”, “promo segera berakhir”, atau “10.000 orang sudah checkout” bukanlah hanya sekadar informasi, melainkan pemicu psikologis yang membangun kesan bahwa kesempatan itu tidak boleh dilewatkan. Pada saat yang sama, influencer dan kreator konten memperkuat persepsi bahwa memiliki produk tertentu membuat gaya hidup mereka terlihat lebih menarik, lebih sukses, atau lebih diterima dalam lingkungan sosial.
Generasi Z memang menjadi kelompok yang paling dekat dengan realitas ini. Persoalannya bukan terletak pada karakter Generasi Z yang dianggap lebih konsumtif, melainkan pada lingkungan digital yang terus-menerus mendorong daya konsumsi. Ketika seseorang setiap hari dihadapkan pada ribuan iklan yang dikemas sebagai hiburan, promosi yang dibalut rekomendasi, serta gaya hidup yang dipresentasikan sebagai standar kebahagiaan, perilaku konsumtif menjadi sesuatu yang semakin mudah terbentuk.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































