Dari fashion, makanan viral, hingga tantangan TikTok, tren selalu datang silih berganti. Banyak orang langsung ikut mencoba, meski tidak selalu sesuai dengan kebutuhan atau kepribadiannya. Fenomena ini dikenal sebagai trend-chasing atau kebiasaan ikut-ikutan tren. Pertanyaannya, apakah hal ini menunjukkan sikap adaptif, atau justru tanda kita kehilangan keaslian diri?
Tren sebagai Bentuk Adaptasi Sosial
Mengikuti tren sebenarnya hal yang wajar. Dalam psikologi, fenomena ini disebut bandwagon effect, yaitu kecenderungan seseorang melakukan sesuatu karena banyak orang lain melakukannya. Tren memberi rasa keterhubungan: kita merasa “in” ketika berada dalam arus yang sama dengan orang lain.
Di sisi lain, tren juga bisa menjadi ajang eksplorasi. Banyak orang menemukan minat baru atau inspirasi kreatif berawal dari mencoba sesuatu yang sedang viral. Dalam konteks ini, mengikuti tren bisa dilihat sebagai bentuk adaptasi dan keterbukaan terhadap hal baru.
Risiko: Hilangnya Keaslian dan Tekanan Sosial
Namun, terlalu sering mengejar tren bisa membuat seseorang kehilangan keaslian diri. Identitas pribadi jadi kabur, karena lebih banyak dibentuk oleh apa yang sedang populer ketimbang pilihan sadar.
Selain itu, tren juga sering menciptakan tekanan sosial. Mereka yang tidak ikut bisa dianggap “ketinggalan zaman” atau tidak gaul, sementara yang ikut tanpa pertimbangan bisa merasa terjebak dalam sesuatu yang sebenarnya tidak mereka sukai.
Tren Digital dan Budaya Viral
Era media sosial mempercepat siklus tren. Apa yang viral hari ini bisa tenggelam besok. Akibatnya, orang semakin terdorong untuk cepat ikut agar tidak merasa tertinggal. Fenomena ini membuat tren lebih mirip kejar-kejaran atensi daripada sekadar kebiasaan sosial.
Di sinilah letak tantangan: apakah kita benar-benar menikmati tren tersebut, atau hanya takut FOMO (fear of missing out)?
Bijak Mengikuti Tren
Mengikuti tren tidak selalu salah, asalkan dilakukan dengan kesadaran. Kuncinya adalah selektif: tren mana yang relevan dengan diri kita, mana yang hanya sekadar ikut-ikutan. Dengan begitu, kita tetap bisa adaptif tanpa kehilangan jati diri.
Kesimpulan
Budaya ikut tren bisa menjadi tanda adaptif, tetapi juga berpotensi mengikis keaslian diri jika dilakukan berlebihan. Pada akhirnya, tren hanyalah arus yang datang dan pergi. Yang terpenting adalah kemampuan kita untuk tetap berdiri teguh dengan identitas sendiri, sambil sesekali menikmati keseruan mengikuti arus.
Penulis: Enjelin Amanda Dewi
Sumber gambar: canva.com
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































