Pada era globalisasi saat ini, generasi muda Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam memahami hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara. Siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) berada pada fase pembentukan karakter yang krusial, sehingga pengenalan nilai-nilai kewarganegaraan sejak dini menjadi hal yang tidak dapat ditunda. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran sipil, sikap toleransi, kepatuhan terhadap aturan, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial dan alam sekitar (Sudirman & Dewi, 2023; Ridwan & Dewi, 2022).
Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan masih terdapat kesenjangan yang signifikan antara pemahaman teoritis dan penerapan nyata nilai-nilai kewarganegaraan di kalangan siswa. Penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang kurang kontekstual dan minimnya pendekatan interaktif menyebabkan siswa cenderung memahami konsep hak dan kewajiban secara hafalan semata, tanpa mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini berpotensi menghambat terbentuknya generasi muda yang memiliki kepedulian sosial dan kesadaran aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Literasi kewarganegaraan tidak sekadar dipahami sebagai pengetahuan normatif tentang hak dan kewajiban, melainkan sebagai kemampuan untuk memahami, menginternalisasi, dan mengimplementasikan nilai-nilai kewarganegaraan dalam kehidupan nyata. Penguatan literasi kewarganegaraan melalui pendekatan yang kontekstual, partisipatif, dan berbasis pengalaman terbukti lebih efektif dalam membentuk karakter pelajar dibandingkan metode ceramah konvensional (Nurhidayah dkk., 2025). Pendekatan ini selaras dengan temuan penelitian pengabdian masyarakat yang menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai demokratis dan kewarganegaraan melalui simulasi dan kegiatan aktif meningkatkan pemahaman kognitif maupun sikap pelajar secara lebih signifikan.
Penguatan literasi kewarganegaraan juga memiliki keterkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Pemahaman siswa mengenai hak memperoleh pendidikan yang layak berkaitan dengan SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, sedangkan kesadaran menjaga lingkungan dan mengurangi perilaku yang merusak lingkungan mendukung SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim. Selain itu, penguatan sikap toleransi, kepedulian sosial, dan partisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat juga sejalan dengan SDG 10 tentang pengurangan ketimpangan dan SDG 16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang kuat. Dengan demikian, pengembangan literasi kewarganegaraan menjadi salah satu upaya penting dalam membentuk generasi muda yang mampu menghadapi tantangan global sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.
Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang mampu memberikan pemahaman kewarganegaraan secara menarik, komunikatif, dan sesuai dengan tingkat perkembangan pelajar. Oleh karena itu, kegiatan ini dilaksanakan melalui program sosialisasi literasi kewarganegaraan berbasis SDGs kepada siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) dengan menggunakan metode pembelajaran interaktif, mini quiz, serta kegiatan “Pohon Kewarganegaraan” sebagai media edukasi yang menyenangkan. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu pelajar memahami pentingnya nilai-nilai kewarganegaraan, seperti disiplin, toleransi, tanggung jawab, tolong-menolong, dan cinta tanah air dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun tujuan kegiatan ini yaitu untuk mengetahui nilai-nilai kewarganegaraan yang muncul dalam aktivitas siswa, mengkaji pengaruh kegiatan terhadap keterlibatan sosial masyarakat, mengidentifikasi hambatan pelaksanaan program beserta alternatif solusinya, serta menggali pengalaman belajar siswa terkait pemahaman hak dan kewajiban sebagai warga negara dalam mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan.
Metode Pelaksanaan
Kegiatan Sosialisasi Nilai Kewarganegaraan ini dilakukan oleh Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura di SDN 2 Telang dan SMPN 2 Kamal. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 7 April 2026 – 8 April 2026. Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini menggunakan metode campuran dengan cara pengumpulan data melalui kuesioner serta observasi langsung dan dilakukan dalam tiga tahap, yaitu persiapan, tahap persetujuan, dan tahap pelaksanaan
1. Tahap Persiapan
Tahap awal pelaksanaan kegiatan ini melibatkan koordinasi internal dengan tim untuk menetapkan jadwal pelaksanaan, pembagian tugas tim, dan menyiapkan materi serta media sosialisasi kewarganegaraan yang interaktif bagi siswa. Selanjutnya, dilakukan uji validitas dengan menyesuaikan bahasa kuesioner agar sesuai dengan tingkat pemahaman siswa SD (SDN 2 Telang) dan siswa SMP (SMPN 2 Kamal).
2. Tahap Perizinan
Tahap perizinan diawali dengan mengurus administrasi formal berupa pembuatan surat izin penelitian resmi dari Universitas Trunojoyo Madura yang ditujukan kepada Kepala Sekolah SDN 2 Telang dan SMPN 2 Kamal. Dengan adanya surat tersebut maka dilakukannya kunjungan awal kepada pihak sekolah untuk menyerahkan dokumen perizinan tersebut, menemui pihak kurikulum terkait, serta memaparkan tujuan dari kegiatan yang akan dilaksanakan. Tahap ini diakhiri dengan sinkronisasi jadwal bersama pihak sekolah untuk menetapkan waktu, durasi, pemetaan kelas, serta jumlah target responden agar pelaksanaan riset tidak mendistorsi kegiatan belajar mengajar utama.
3. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan dimulai ketika sosialisasi kewarganegaraan dipaparkan di kelas, di mana observasi awal langsung dilakukan untuk mengamati sikap, antusiasme, serta respons siswa. Setelah pemaparan materi selesai, kuesioner tertutup dibagikan di akhir sesi guna mengukur tingkat pemahaman dan dampak nyata dari kegiatan tersebut. Tahap ini kemudian ditutup dengan proses tabulasi data angka ke dalam perangkat lunak statistik dan penyusunan catatan pengamatan menjadi kesimpulan riset yang padu.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi dan kuesioner yang dilakukan pada siswa SD kelas 4–5 di SDN 2 Telang dan siswa SMP kelas 7 di SMPN 2 Kamal, diketahui bahwa kegiatan sosialisasi nilai kewarganegaraan memberikan hasil yang cukup baik terhadap pemahaman dan penerapan nilai karakter siswa. Hal ini terlihat dari berbagai contoh sikap yang mampu disebutkan oleh siswa sesuai dengan materi yang telah dipelajari. Literasi budaya dan kewargaan di sekolah berbasis kelas dilaksanakan karena kelas merupakan tempat untuk siswa dapat melakukan kegiatan belajar mengajar, melakukan aktivitas seperti membaca buku (Hartyatni, 2018; Ramandanu, 2019). Kelas dalam dunia pendidikan memiliki pengertian yakni sekelompok murid yang sedang menghadapi pelajaran di sekolah ataupun lembaga pendidikan. Kelas juga bisa merujuk pada kegiatan belajar dan mengajar (Cahyani et al., 2020). Di sisi lain, kemampuan literasi menjadi penting untuk mengenal budaya dan jati diri bangsa, sehingga memupuk sikap peduli terhadap sesama, saling menghargai satu sama lain, dan toleransi antarumat beragama (Ahsani & Azizah, 2021; Iswatiningsih, 2019).
Pelaksanaan kegiatan sosialisasi dan observasi dilakukan pada hari Selasa, 7 April bertempat di SDN 2 Telang. Kegiatan ini berlangsung selama 60 menit, yaitu pukul 09.00-10.00 WIB. Kegiatan ini dimulai dengan pemaparan materi kewarganegaraan oleh pemateri dilanjut dengan mini quiz untuk menilai pemahaman pelajar terhadap materi kewarganegaraan. Pada tahap ini, observasi awal dilakukan secara langsung untuk mengamati sikap, antusiasme, serta respons siswa selama mengikuti kegiatan.
Pelaksanaan kegiatan sosialisasi dan observasi dilakukan pada hari Rabu, 8 April bertempat di SMPN 2 Kamal. Kegiatan ini berlangsung selama 90 menit, yaitu pukul 10.00-11.30 WIB. Kegiatan ini dimulai dengan pemaparan materi kewarganegaraan oleh pemateri dilanjut dengan mini quiz untuk menilai pemahaman pelajar terhadap materi kewarganegaraan. Pada tahap ini, observasi awal dilakukan secara langsung untuk mengamati sikap, antusiasme, serta respons siswa selama mengikuti kegiatan.
Setelah sesi penyampaian materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan main event berupa pembuatan Pohon Kewarganegaraan. Kegiatan ini dirancang sebagai media refleksi dan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah diberikan, sekaligus mendorong mereka untuk mengaitkan nilai-nilai kewarganegaraan dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam pelaksanaannya, setiap siswa diberikan satu lembar sticky note untuk menuliskan contoh sikap atau perilaku yang sesuai dengan materi yang telah dipelajari. Setelah selesai menulis, siswa diminta menempelkan sticky note tersebut pada papan kelas yang telah disiapkan dan dibentuk menyerupai sebuah pohon. Sticky note yang ditempelkan menjadi daun-daun pada Pohon Kewarganegaraan, yang melambangkan berbagai nilai positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada jenjang Sekolah Dasar (SD), materi yang diberikan berfokus pada nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari, seperti cinta tanah air, taat aturan, jujur, disiplin, toleransi, tolong-menolong, dan tanggung jawab. Oleh karena itu, siswa SD menuliskan contoh perilaku sederhana yang mencerminkan nilai-nilai tersebut, seperti mematuhi tata tertib sekolah, berkata jujur kepada guru dan orang tua, membantu teman yang kesulitan, menghargai perbedaan pendapat, serta menjaga kebersihan lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab.
Sementara itu, pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), materi yang diberikan mencakup Literasi Kewarganegaraan, Hak dan Kewajiban Warga Negara, Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan, Toleransi dan Menghargai Perbedaan, Bijak Menggunakan Media Sosial, Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah dan Masyarakat, serta Tanggung Jawab sebagai Warga Negara Muda. Berdasarkan materi tersebut, siswa SMP menuliskan contoh sikap yang lebih kontekstual, seperti menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab, menghormati keberagaman teman di lingkungan sekolah, melaksanakan hak dan kewajiban sebagai siswa, aktif berpartisipasi dalam kegiatan sekolah maupun masyarakat, serta menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan Pohon Kewarganegaraan berlangsung dengan antusias dan melibatkan partisipasi aktif dari seluruh siswa. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memahami materi secara teoritis, tetapi juga mampu mengidentifikasi bentuk penerapan nilai-nilai kewarganegaraan dalam kehidupan nyata. Pohon Kewarganegaraan yang terbentuk menjadi simbol komitmen bersama untuk menerapkan nilai-nilai karakter dan kewarganegaraan yang baik dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Setelah kegiatan bermain event selesai,kemudian dilanjutkan kembali dengan pembagian kuesioner tertutup kepada siswa pada akhir sesi. Kuesioner tersebut bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa sekaligus mengetahui dampak nyata dari kegiatan sosialisasi yang telah diberikan. Tahap akhir kegiatan ditutup dengan proses tabulasi data kuantitatif ke dalam perangkat lunak statistik untuk dianalisis lebih lanjut. Selain itu, catatan hasil pengamatan juga disusun secara sistematis sehingga menghasilkan kesimpulan penelitian yang runtut, objektif, dan koheren.
Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa kegiatan Kegiatan Sosialisasi Nilai Kewarganegaraan di SDN 2 Telang dan SMPN 2 Kamal telah dilaksanakan secara penuh dengan berbasis kelas. Nilai Kewarganegaraan di sekolah berbasis kelas dilaksanakan karena kelas merupakan tempat untuk siswa dapat melakukan kegiatan belajar mengajar.
Pembahasan Hasil Kuesioner SD Kelas 4–5
Pada siswa SD kelas 4–5, pemahaman mengenai nilai karakter tampak dari jawaban yang mereka berikan, seperti datang tepat waktu, tidak mencontek, menjaga kebersihan kelas, menghormati teman yang berbeda agama, membantu teman yang kesulitan, serta mengikuti upacara bendera. Sikap-sikap tersebut menunjukkan bahwa siswa telah memahami pentingnya nilai disiplin, jujur, toleransi, taat aturan, tanggung jawab, cinta tanah air, dan tolong-menolong dalam kehidupan sehari-hari. Selain memahami secara teori, siswa juga mampu menghubungkan materi dengan pengalaman nyata yang mereka lakukan di sekolah maupun di rumah, seperti membantu orang tua, menjaga fasilitas umum, dan bekerja sama saat tugas kelompok.
Contoh sikap yang disebutkan oleh siswa siswi Tabel 1.1

Hasil observasi pada tabel menunjukkan bahwa siswa-siswi SD telah menunjukkan peneapan nilai-nilai karakter yang diajarkan. Hal ini dapat dilihat dari jawaban dan contoh sikap yang mereka berikan, seperti datang tepat waktu, tidak mencontek, menjaga kebersihan kelas, menghormati teman, serta membantu sesama. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa siswa memahami pentingnya bersikap disiplin, jujur, taat aturan, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Selain itu, hasil observasi juga menunjukkan bahwa siswa mampu menghubungkan materi pendidikan karakter dengan pengalaman nyata yang mereka lakukan setiap hari. Sikap toleransi, tolong-menolong, dan cinta tanah air terlihat dari kebiasaan berteman tanpa membeda-bedakan, ikut kerja bakti, serta menjaga fasilitas umum. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman siswa terhadap pendidikan karakter sudah berkembang dengan baik karena mereka tidak hanya mengetahui materi secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Hasil kouesioner tertutup dari SD kelas 4&5
Tabel 1.2

Berdasarkan hasil kuesioner tertutup pada siswa SD kelas 4–5 yang berjumlah 27 siswa, diperoleh hasil bahwa sebagian besar siswa memberikan respons positif terhadap proses pembelajaran. Pada siswa SD kelas 4–5, sebagian besar siswa menyatakan bahwa pembelajaran berlangsung menyenangkan dan mudah dipahami dengan persentase sebesar 96,3%. Sebanyak 92,6% siswa menyatakan fokus selama pembelajaran, dan 96,3% menyebutkan diskusi kelompok berjalan dengan baik. Selain itu, 88,89% siswa memahami contoh yang diberikan dan 85,16% siswa menyatakan ingin mempelajari kembali materi tersebut. Meskipun demikian, masih terdapat 22,22% siswa yang mengaku mengalami kesulitan selama pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa siswa masih memerlukan pendampingan dan metode pembelajaran yang lebih variatif agar seluruh siswa dapat memahami materi secara optimal.
Pembahasan Hasil Kuesioner SMP Kelas 7
Sementara itu, pada siswa SMP kelas 7, telah menunjukkan pemahaman penerapan nilai kewarganegaraan terlihat lebih luas dan mulai mengarah pada penerapan dalam kehidupan sosial sebagai warga negara muda. Hal ini ditunjukkan melalui contoh sikap seperti mematuhi tata tertib sekolah, menghormati guru dan orang tua, tidak membully teman, menghargai perbedaan agama dan bahasa daerah, serta menggunakan media sosial secara bijak dengan tidak menyebarkan berita bohong maupun menghina orang lain di internet. Selain itu, siswa juga menunjukkan partisipasi aktif dalam kegiatan sekolah dan lingkungan, seperti mengikuti kerja bakti, menjadi petugas upacara, dan menjaga fasilitas sekolah. Temuan ini menunjukkan bahwa siswa SMP mulai memahami pentingnya tanggung jawab sosial dan penerapan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh sikap yang di sebutkan oleh siswa siswi SMP kelas 7.
Tabel 1.3

Hasil kuesioner tertutup dari SMP kelas 7
Tabel 1.4

Berdasarkan hasil kuesioner tertutup pada siswa SMP kelas 7 yang berjumlah 24 siswa, diperoleh hasil bahwa mayoritas siswa memberikan tanggapan positif terhadap proses pembelajaran serta menunjukkan hasil yang baik. Sebanyak 91,67% siswa menyatakan pembelajaran menyenangkan dan 95,83% menyebutkan materi mudah dipahami. Tingkat fokus siswa selama pembelajaran juga tinggi, yaitu sebesar 95,83%, serta diskusi kelompok dinilai berjalan dengan baik oleh sebagian besar siswa. Selain itu, hampir seluruh siswa memahami contoh yang diberikan. Akan tetapi, terdapat 37,5% siswa yang masih mengalami kesulitan selama pembelajaran dan hanya 70,83% siswa yang ingin mempelajari kembali materi tersebut. Hal ini dapat dipengaruhi oleh tingkat kompleksitas materi pada jenjang SMP yang lebih tinggi dibandingkan SD, sehingga diperlukan pendekatan pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik remaja.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi nilai kewarganegaraan di SDN 2 Telang dan SMPN 2 Kamal telah terlaksana dengan baik melalui pembelajaran berbasis kelas. Kegiatan ini membantu siswa memahami serta menerapkan nilai-nilai kewarganegaraan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran berbasis kelas menjadi efektif karena kelas merupakan lingkungan utama bagi siswa untuk berinteraksi, berdiskusi, dan mempraktikkan nilai karakter secara langsung. Dengan demikian, kegiatan sosialisasi ini dapat dikatakan berhasil dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap nilai kewarganegaraan serta membentuk sikap positif dalam kehidupan sosial mereka.
Proses pembelajaran di sekolah (kelas) peranan guru lebih spesifik sifatnya dalam pengertian yang sempit, yakni dalam hubungan proses belajar mengajar. Peranan guru adalah sebagai pengorganisasi lingkungan belajar dan sekaligus sebagai fasilitator belajar (Wajdi, 2021). Guru memiliki peran yang sangat fundamental dalam pelaksanaan literasi budaya dan kewargaan (Aziza et al., 2020). Peran guru dijabarkan sebagai perancang. Guru disebut perancang karena tugas guru adalah merencanakan, mengorganisasikan, mengawasi, dan mengevaluasi progam dalam jangka waktu yang pendek. Iklim kelas dan budaya sekolah yang sesuai adalah kunci dalam membangun konteks siswa merasa percaya diri untuk mengungkapkan pendapat mereka meskipun pandangan mereka mungkin berbeda dari mereka dari yang lain. Peran guru adalah kompleks, menuntut dan menjadi kunci ketika mempromosikan dan membimbing dialog dan argumentasi kelas yang produktif.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil kegiatan sosialisasi kewarganegaraan kepada siswa sekolah dasar dan siswa menengah pertama, maka dapat disimpulkan bahwa para siswa sangat antusias dalam mengikuti seluruh kegiatan sosialisasi. Hal ini dapat dilihat dengan keseriusan dalam proses pembelajaran dan pelaksanaan main event berupa “Pohon Kewarganegaraan”. Tingkat pemahaman siswa dapat diukur dengan catatan tempel pada pohon kewarganegaraan serta hasil kuesioner dengan tingkat kepuasan 94%.
Daftar Pustaka
Ahsani, E. luthfi F., & Azizah, N. R. (2021). Implementasi Literasi Budaya dan Kewargaan untuk Mengembangkan Keterampilan Sosial Siswa Madrasah Ibtidaiyah di Tengah Pandemi. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 11(01), 7. https://doi.org/10.20527/kewarganegaraan.v11i01.10317
Aziza, P. N., Zakso, A., & Ulfah, M. (2020). Peran Guru dalam Implementasi Literasi Budaya dan Kewargaan di SMA Kemala Bhayangkari. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 9(1). https://doi.org/ 10.26418/jppk.v9i1.38782
Cahyani, A., Listiana, I. D., & Larasati, S. P. D. (2020). Motivasi Belajar Siswa SMA pada Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Pendidikan Islam, 3(01), 123–140. https://doi.org/10.37542/iq.v3i01.57
Hartyatni, M. S. (2018). Membangun Budaya Baca Melalui Pengelolaan Media Sudut Baca Kelas dengan “12345.” Jurnal Pemikiran Dan Pengembangan Sekolah Dasar (JP2SD), 6(1), 1. https://doi.org/10.22219/jp2sd.v6i1.5906.
Iswatiningsih, D. (2019). Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal di Sekolah. Satwika : Kajian Ilmu Budaya Dan Perubahan Sosial, 3(2), 155–164. https://doi.org/10.22219/satwika.v3i2.10244
Nurhidayah (2025). Internalisasi Budaya Demokrasi Sejak Dini melalui Metode Sosialisasi Interaktif di SD Negeri Candisari, Kabupaten Magelang. Jurnal Pengabdian Masyarakat AbdiMas, Universitas Esa Unggul.
Ramandanu, F. (2019). Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Melalui Pemanfaatan Sudut Baca Kelas sebagai Sarana Alternatif Penumbuhan Minat Baca Siswa. Mimbar Ilmu, 24(1), 10. https://doi.org/10.23887/mi.v24i1.17405
Ridwan, A., & Dewi, D. A. (2022). Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Tiang Hak Asasi Manusia. JPKN: Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 6(1), 30–37.
Sudirman, P. R. A. T., & Dewi, D. A. (2023). Menerapkan Pendidikan Kewarganegaraan dalam Upaya Membangun Karakter Bangsa. Konstruksi Sosial: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial, 3(2), 33–38.
Wajdi, F. (2021). Manajemen Perkembangan Siswa SD Melalui Peran Guru dan Orang Tua pada Masa Pandemi. Jurnal Administrasi Dan Manajemen Pendidikan, 4(1), 41. https://doi.org/10.17977/um027v4i12021p41
Penyusun: Arief Maulana1, Marsha Crystalita Muis2, Fikri Zaydan Fajryan Putra3, Indah Pratiwi4, Naily Sartika Utami5, Nur Ijabah6
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































