Migrasi tidak hanya memindahkan seseorang ke tempat baru, tetapi juga ikut mengubah cara hidup, pilihan makanan, dan kebiasaan konsumsi sehari-hari.
SIARAN BERITA – Migrasi merupakan perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain untuk tinggal di tempat baru, baik secara menetap ataupun sementara (Armansyah et al., 2022). Secara umum, migrasi dibedakan menjadi dua, yaitu migrasi permanen dan migrasi sirkuler. Migrasi permanen merupakan perpindahan dengan tujuan menetap sekurang-kurangnya satu tahun, sedangkan migrasi sirkuler merupakan perpindahan sementara dalam rentang waktu minimal satu hari hingga kurang dari satu tahun.
Dalam kehidupan sehari-hari, migrasi tidak hanya mengubah tempat tinggal individu saja, namun juga memengaruhi budaya dan pola makan seseorang (Shekriladze & Javakhishvili, 2024). Ketika suatu individu tinggal di lingkungan baru, maka ia akan berhadapan dengan kebiasaan, nilai, bahasa, aturan sosial, dan preferensi makanan yang berbeda dari daerah asalnya. Kondisi ini membuat seseorang menjalani proses penyesuaian termasuk dalam memiliki makanan yang dikonsumsi. Asupan gizi dapat ikut berubah karena pilihan makanan setelah migrasi banyak dipengaruhi oleh ketersediaan bahan pangan, harga, kemudahan memperoleh makanan, selera, aturan budaya atau agama, serta pengaruh dari lingkungan sekitar (O’Mara et al., 2021).
Selain itu, preferensi anggota keluarga terutama anak-anak juga dapat mendorong perubahan pola makan, misalnya dengan lebih sering memilih makanan lokal, makanan yang lebih praktis, atau makanan cepat saji (fast food). Di sisi lain, jika makanan tradisional lebih mudah ditemukan, seseorang cenderung lebih mudah mempertahankan pola makan dari daerah asalnya. Karena itu, migrasi dapat dipahami sebagai proses perpindahan yang tidak hanya berdampak pada perubahan sosial dan budaya, tetapi juga berpengaruh pada pola konsumsi dan asupan gizi suatu individu
Lingkungan berperan besar dalam membentuk pola makan migran karena setelah berpindah ke tempat baru, seseorang tidak lagi memilih makanan hanya berdasarkan kebiasaan asal, tetapi juga menyesuaikan diri dengan makanan yang tersedia, mudah dijangkau, dan sesuai dengan kondisi hidup di tempat tujuan (Varre et al., 2025). Secara umum, migrasi sering diikuti perubahan dari pola makan tradisional yang kaya biji-bijian utuh, kacang-kacangan, buah, dan sayur menuju pola makan yang lebih banyak mengandung makanan olahan, gula tambahan, lemak, dan makanan siap saji, sehingga perubahan ini dapat memengaruhi kualitas gizi dan risiko kesehatan. Di sisi lain, lingkungan pangan di tempat tujuan juga menentukan seberapa jauh perubahan itu terjadi, karena ketersediaan, harga, dan kemudahan akses terhadap makanan akan memengaruhi keputusan makan sehari-hari. Lingkungan sosial dan ekonomi seperti pendapatan rendah, keterbatasan waktu, transportasi, serta pengaruh keluarga juga dapat mendorong migran memilih makanan yang lebih praktis meskipun belum tentu lebih sehat (Drescher et al., 2021). Dengan demikian, perubahan pola makan pada migran bukan hanya terjadi karena perpindahan tempat, tetapi juga karena interaksi yang terus-menerus dengan lingkungan pangan, kondisi sosial, dan tuntutan hidup di lingkungan baru.
Perpindahan ke lingkungan baru sering kali membawa perubahan pada pola makan migran. Ketika seseorang mulai hidup di tempat yang berbeda, pilihan makanan yang dikonsumsi pun ikut berubah, baik karena pengaruh budaya setempat, kemudahan mendapatkan makanan tertentu, maupun kebiasaan baru yang terbentuk dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian Liu et al. (2023) pada migran Tiongkok di Portugal, terlihat bahwa semakin tinggi tingkat akulturasi seseorang, semakin besar pula kecenderungan meningkatnya asupan energi dan lemak. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa asupan gula sederhana dan natrium pada kelompok migran tergolong cukup tinggi, yang menandakan adanya perubahan pola konsumsi setelah tinggal di lingkungan baru. Gambaran ini diperkuat oleh Zou et al. (2022) yang menjelaskan bahwa proses akulturasi pada migran Tiongkok di Kanada dan Amerika Serikat berkaitan dengan meningkatnya asupan energi total, karbohidrat, dan daging, sekaligus mendorong kecenderungan beralih ke pola makan Barat.

Sementara itu, pada masyarakat migran di Indonesia, pola konsumsi makanan juga tampak dipengaruhi oleh daerah tujuan migrasi. Sesuai tabel penelitian oleh Destiani et al. (2021), konsumsi fast food dan mi instan cenderung lebih sering ditemukan pada kelompok yang bermigrasi ke wilayah perkotaan dibandingkan ke pedesaan atau wilayah lainnya. Hal ini penting diperhatikan karena fast food dan mi instan umumnya memiliki kandungan natrium yang tinggi, sehingga konsumsi yang terlalu sering dapat meningkatkan volume darah, memperberat kerja jantung, dan memicu peningkatan tekanan darah.
Perubahan pola makan pada migran dapat berlanjut pada munculnya berbagai risiko penyakit, terutama ketika konsumsi makanan cepat saji terjadi terlalu sering. Mekanismenya, kandungan natrium yang tinggi membuat tubuh menahan lebih banyak cairan sehingga volume darah meningkat, jantung bekerja lebih keras, lalu tekanan darah lebih mudah naik. Selain itu, fast food umumnya juga tinggi kalori, lemak jenuh, dan gula tambahan, sehingga bila sering dikonsumsi dapat mendorong penambahan berat badan, meningkatkan risiko obesitas, memicu resistensi insulin, dan akhirnya berkembang menjadi diabetes atau gangguan metabolik lainnya. Pada migran, risiko ini bisa menjadi lebih besar karena selama proses adaptasi, makanan yang cepat, murah, dan mudah dijangkau sering lebih dipilih sehingga pola makan yang awalnya sekadar bentuk penyesuaian lama-kelamaan dapat berubah menjadi faktor risiko penyakit.
Di tengah perubahan pola konsumsi pada migran, edukasi menjadi hal yang tidak kalah penting agar mereka mampu membuat pilihan makan yang lebih sehat di lingkungan baru. Rendahnya literasi kesehatan dapat membuat migran kesulitan mencari, memahami, menilai, dan menggunakan informasi kesehatan dalam kehidupan sehari-hari, padahal kemampuan inilah yang dibutuhkan untuk menentukan kebiasaan konsumsi yang baik. Kondisi tersebut terlihat dari masih banyaknya migran yang mengalami kesulitan dalam memahami informasi layanan kesehatan dan promosi kesehatan, sehingga tanpa edukasi yang tepat mereka lebih berisiko memiliki perilaku kesehatan yang kurang optimal, kondisi kesehatan yang lebih buruk, serta akses layanan yang lebih terbatas. Karena itu, edukasi yang disesuaikan dengan bahasa, budaya, dan pengalaman hidup migran sangat penting agar mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam pilihan konsumsi dan perilaku hidup yang lebih sehat.
Menurut penulis, perubahan pola konsumsi pada migran seharusnya tidak dilihat sebagai hal yang wajar semata dalam proses adaptasi, tetapi juga sebagai persoalan yang perlu mendapat perhatian lebih karena berkaitan langsung dengan kesehatan. Ketika migran semakin sering bergantung pada makanan yang praktis, murah, dan mudah dijangkau, ada risiko bahwa kualitas konsumsi sehari-hari justru menurun dan memicu masalah kesehatan dalam jangka panjang. Karena itu, upaya menjaga kesehatan migran seharusnya tidak berhenti pada penyediaan akses pangan saja, tetapi juga perlu disertai edukasi yang tepat agar mereka tetap mampu memilih makanan yang lebih seimbang di tengah tuntutan hidup dan proses adaptasi. Dengan demikian, perhatian terhadap pola konsumsi migran penting dilakukan bukan hanya untuk memahami perubahan gaya hidup mereka, tetapi juga untuk mencegah munculnya risiko kesehatan yang sebenarnya dapat diminimalkan sejak awal.
Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa migrasi tidak hanya memindahkan seseorang ke lingkungan yang baru, tetapi juga turut memengaruhi budaya, pola konsumsi, asupan gizi, hingga kondisi kesehatannya. Perubahan lingkungan pangan, kemudahan akses terhadap makanan praktis, serta proses adaptasi di tempat tujuan dapat mendorong migran mengubah kebiasaan makannya ke arah yang kurang seimbang, seperti meningkatnya konsumsi makanan tinggi energi, lemak, gula, dan natrium. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, maka risiko masalah kesehatan seperti hipertensi, obesitas, diabetes, dan gangguan metabolik dapat ikut meningkat. Oleh karena itu, perubahan pola konsumsi pada migran perlu dipahami sebagai persoalan yang penting untuk diperhatikan, tidak hanya dari sisi sosial dan budaya, tetapi juga dari sisi kesehatan
_________________________
Ditulis Oleh : Violita Adisty M.F
NIM : 192231016
Kelas : GIZI 6A
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































