Jakarta, 10 Juni 2026 – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat Universitas Esa Unggul menyatakan sikap tegas menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax yang terjadi di tengah kondisi ekonomi nasional yang masih dibayangi berbagai ketidakpastian global dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
GMNI ESA menilai bahwa kenaikan harga BBM Pertamax yang kini mencapai Rp16.250 per liter, bukan sekadar persoalan penyesuaian harga energi. Kebijakan tersebut berpotensi menciptakan efek domino terhadap meningkatnya biaya transportasi, distribusi logistik, harga kebutuhan pokok, hingga biaya hidup masyarakat secara keseluruhan.
Ketua Komisariat GMNI Universitas Esa Unggul, Adam Fukoha Azhari, menegaskan bahwa rakyat, khususnya kaum marhaen, tidak boleh terus-menerus menjadi pihak yang menanggung konsekuensi dari berbagai gejolak ekonomi yang terjadi.
“Kami menolak keras kenaikan harga BBM non-subsidi. Jangan sampai setiap gejolak ekonomi global selalu berakhir dengan rakyat yang harus mengencangkan ikat pinggang. Kaum marhaen hari ini sudah menghadapi tekanan hidup yang semakin berat, mulai dari harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, biaya transportasi, hingga sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak,” ujar Adam dari kediamannya di jakarta barat, cengkareng.
Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat saat ini masih jauh dari kata ideal. Daya beli rakyat belum sepenuhnya pulih, sementara berbagai kebutuhan hidup terus mengalami kenaikan. Dalam situasi seperti ini, setiap kebijakan yang berpotensi menambah beban masyarakat harus dievaluasi secara kritis.
“Saya tidak suka ketika setiap persoalan ekonomi selalu berujung pada rakyat yang diminta menanggung beban. Kaum marhaen sudah cukup lama hidup dalam tekanan ekonomi. Negara seharusnya hadir memberikan perlindungan, bukan membiarkan rakyat kembali menjadi pihak yang pertama merasakan dampak dari setiap krisis,” tegasnya.
GMNI ESA juga menyoroti kondisi nilai tukar rupiah yang masih menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah menyebabkan biaya impor berbagai komoditas strategis, termasuk energi, menjadi lebih mahal. Namun menurut GMNI, kondisi tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk membebankan seluruh konsekuensinya kepada masyarakat.
“Ketika rupiah melemah, biaya impor energi meningkat. Ketika harga BBM naik, biaya distribusi barang ikut naik. Ketika distribusi naik, harga kebutuhan masyarakat juga ikut terdorong naik. Pada akhirnya yang paling merasakan dampaknya adalah rakyat kecil. Ini adalah rantai ekonomi yang nyata dan tidak bisa dipandang sebelah mata,” lanjut Adam
GMNI Esa juga menanggapi pernyataan Menteri Keuangan (MenKeu), Purbaya Yudhi Sadewa, yang menyebut bahwa kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter hanya memberikan dampak minim terhadap perekonomian nasional.
Bagi GMNI, pendekatan makroekonomi tidak selalu mampu menggambarkan kondisi nyata yang dirasakan masyarakat di tingkat bawah.
“Barangkali jika dilihat dari angka statistik nasional dampaknya terlihat kecil atau minim. Namun bagi kaum marhaen, tidak ada kenaikan harga BBM yang benar-benar kecil. Setiap kenaikan akan memengaruhi pengeluaran harian masyarakat. Yang merasakan langsung bukan angka-angka statistik, tetapi pengemudi ojek online, pedagang kecil, petani, nelayan, mahasiswa perantau, pekerja informal, dan pelaku UMKM yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya,” kata Adam.
Menurut GMNI, persoalan BBM tidak dapat dipisahkan dari persoalan keadilan sosial. Sebab energi merupakan sektor strategis yang memiliki pengaruh langsung terhadap kehidupan rakyat banyak. Oleh karena itu, setiap kebijakan energi harus mengedepankan prinsip keberpihakan kepada rakyat sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945.
GMNI juga mendorong pemerintah untuk lebih serius memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta memperkuat nilai tukar rupiah agar Indonesia tidak terus-menerus rentan terhadap tekanan ekonomi global.
Sebagai organisasi perjuangan yang berlandaskan ajaran Marhaenisme dan pemikiran Bung Karno, GMNI Komisariat Universitas Esa Unggul menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harus berangkat dari kepentingan rakyat banyak, bukan semata-mata berorientasi pada angka pertumbuhan ekonomi.
“Marhaenisme mengajarkan keberpihakan yang jelas kepada rakyat kecil. Kami percaya pembangunan tidak boleh hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari seberapa besar negara mampu melindungi rakyatnya dari tekanan hidup yang semakin berat. Jangan sampai rakyat terus diminta memahami keadaan, sementara kesejahteraan mereka terus tergerus oleh kenaikan biaya hidup,” tegas Adam.
GMNI ESA akan terus mengawal berbagai kebijakan ekonomi dan energi nasional yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Sebagai bagian dari gerakan mahasiswa yang berpihak kepada rakyat, GMNI menegaskan komitmennya untuk terus menyuarakan kepentingan kaum marhaen serta mengingatkan pemerintah agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar berpijak pada keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat.
“Bagi saya, persoalannya bukan hanya soal naik atau tidak naiknya harga BBM. Persoalannya adalah keberpihakan. Jangan sampai rakyat terus diminta berkorban sementara akar persoalan ekonomi nasional tidak pernah diselesaikan secara serius. Marhaen tidak membutuhkan janji. Marhaen membutuhkan keberpihakan yang nyata,” tutup Adam.
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat Universitas Esa Unggul.
Pejuang Pemikir – Pemikir Pejuang

Refrensi:
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260610124040-532-1367453/respons-purbaya-usai-harga-pertamax-naik-ke-rp16250-dampak-minim
https://www.medcom.id/ekonomi/bisnis/Gbm0MoeN-harga-pertamax-naik-mulai-10-juni-2026-ini-daftar-bbm-terbaru-di-spbu-pertamina
https://finance.detik.com/energi/d-8525402/harga-pertamax-naik-jadi-rp-16-250-liter-mulai-10-juni
https://otomotif.kompas.com/read/2026/06/10/064200115/resmi-harga-pertamax-naik-jadi-rp-16.250-per-liter-mulai-hari-ini
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































