The path is made by walking
~ Antonio Machado~
Di antara halaman-halaman jurnal yang penuh coretan pelajaran yang ditulis ulang, dan lembar-lembar tryout yang terus dievaluasi, Fathina Abida Salma menuliskan mimpinya sedikit demi sedikit. Mimpi itu dirangkai panjang bukan dalam satu malam, melainkan melalui proses panjang yang diisi Fathina dengan belajar, refleksi, dan keberanian untuk terus melangkah. Ikhtiar itulah yang akhirnya mengantarkan murid kelas XII E MAN 1 Yogyakarta tersebut diterima di Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Jenderal Soedirman melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.
Ketertarikan Fathina pada dunia kedokteran tidak lahir secara tiba-tiba. Benih ketertarikan itu tumbuh sejak ia kerap mendengarkan kisah-kisah keseharian ayahnya, Widodo Wirawan, yang berprofesi sebagai dokter. Seiring bertambahnya kedewasaan dan semakin luasnya pengalaman belajar yang ia peroleh di sekolah, ketertarikan tersebut berkembang menjadi rasa ingin tahu yang mendalam terhadap tubuh manusia dan berbagai aspek yang melingkupinya. Dari situlah Fathina menyadari bahwa dunia kedokteran bukan sekadar profesi yang dikagumi, melainkan bidang ilmu yang ingin ia tekuni secara serius.
Dalam menentukan pilihan perguruan tinggi, Fathina menunjukkan cara berpikir yang matang dan terukur. Baginya, memilih kampus bukan semata-mata soal reputasi, tetapi juga tentang menemukan lingkungan belajar yang mendukung proses pengembangan diri secara optimal. Universitas Jenderal Soedirman menjadi pilihan utamanya karena menawarkan peluang yang realistis sekaligus lingkungan akademik yang sesuai dengan karakter dan kebutuhannya.
Menurut Fathina, Purwokerto menghadirkan suasana yang relatif tenang dengan ritme kehidupan yang tidak terlalu hiruk-pikuk. Kondisi tersebut ia pandang sebagai ruang yang kondusif untuk menjalani pendidikan kedokteran yang menuntut konsentrasi, kedisiplinan, dan ketekunan dalam jangka panjang. Pertimbangan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilannya bukan hanya ditopang oleh kerja keras, tetapi juga oleh kemampuan merancang langkah secara strategis.
Di balik capaian tersebut, tersimpan kebiasaan belajar yang sederhana namun efektif. Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah maupun bimbingan belajar, Fathina tidak langsung membuka kembali materi yang telah dipelajari. Ia terlebih dahulu berusaha menuliskan ulang seluruh konsep berdasarkan apa yang masih ia ingat. “Cara ini membantu saya mengidentifikasi bagian-bagian yang telah dipahami sekaligus menemukan konsep yang masih perlu diperkuat,” tutur Fathina.
Setelah proses tersebut, Fathina melengkapi pemahamannya melalui pembacaan ulang materi, diskusi dengan pengajar, pengerjaan latihan soal, serta evaluasi hasil tryout secara berkala. Baginya, belajar bukan sekadar mengumpulkan informasi, melainkan proses membangun pemahaman yang kokoh melalui refleksi dan pengulangan yang terarah. Kebiasaan itulah yang secara perlahan membentuk daya tahan akademiknya dalam menghadapi persaingan masuk perguruan tinggi.
Di luar aktivitas akademik, Fathina memiliki kegemaran membaca, menulis jurnal, dan menggambar. Ketiga aktivitas tersebut tidak hanya menjadi sarana menyalurkan minat, tetapi juga ruang untuk merawat keseimbangan diri di tengah padatnya tuntutan belajar. “Khusus melalui journaling, saya belajar merekam perjalanan, mengelola emosi, serta menata kembali tujuan-tujuan yang ingin saya capai,” terang Fathina.
Keberhasilan diterima di fakultas kedokteran tidak membuat Fathina berhenti memandang masa depan sebagai ruang belajar yang luas. Ia justru melihat fase perkuliahan sebagai kesempatan untuk mengenali diri lebih dalam, memperluas wawasan, dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Salah satu impiannya adalah mengikuti program pertukaran mahasiswa agar dapat memperoleh pengalaman akademik dan sosial yang lebih beragam dalam lingkungan global. Ia pun bertekad suatu saat dapat mengenyam pendidikan lanjut ke luar negeri.
Lebih jauh, Fathina menaruh perhatian pada isu kesehatan mental yang menurutnya semakin relevan di tengah dinamika kehidupan masyarakat modern. Ketertarikan tersebut mendorongnya untuk bercita-cita berkontribusi di bidang kesehatan mental dan, pada masa mendatang, mendalami spesialisasi kejiwaan sebagai bidang pengabdiannya.
Bagi Fathina, perjalanan menuju impian tidak selalu berjalan mulus. Keraguan, ketakutan, dan kelelahan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari setiap proses. Namun, ia meyakini bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kemampuan untuk tetap bergerak meskipun rasa takut itu hadir. Pesan itulah yang ia titipkan kepada adik-adik kelas yang tengah berjuang meraih cita-cita. “Apa pun ketakutan kalian, tetap berjalan ya. Walaupun jalannya lemas, pelan, dan sambil menangis, selama tetap berjalan kalian akan sampai ke tujuan.”
Pesan tersebut seolah merangkum filosofi hidup yang selama ini ia pegang, sebagaimana tertuang dalam kutipan favoritnya dari Antonio Machado, “The path is made by walking.” Jalan menuju impian, pada akhirnya, tidak selalu ditemukan di depan mata. Jalan itu dibentuk oleh langkah-langkah kecil yang dipilih untuk terus diambil setiap hari. Dan Fathina telah membuktikannya. Melalui catatan-catatan sederhana, proses belajar yang tekun, serta keberanian untuk terus melangkah, ia menuliskan sendiri jalan menuju mimpinya menjadi seorang dokter.
Penulis: Lilis Ummi Fa’iezah, S.Pd., M.A. (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































