Setiap tanggal 6 Mei, dunia memperingati Hari Anti Diet Internasional atau International No Diet Day. Peringatan ini bukan sekadar ajakan untuk berhenti diet, tetapi lebih kepada upaya mengkritisi budaya diet dan standar tubuh yang sering kali tidak realistis. Hari ini pertama kali dicetuskan oleh Mary Evans Young pada tahun 1992 sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan sosial yang menuntut perempuan untuk memiliki tubuh kurus.
Di balik peringatan ini, ada pesan penting: tubuh manusia tidak seharusnya dinilai hanya dari bentuk atau ukuran. Namun, jika melihat realita di Indonesia, pesan ini justru terasa kontras. Di masyarakat, masih ada anggapan tidak tertulis bahwa untuk “diterima”, seseorang harus kurus, putih, dan memenuhi standar kecantikan tertentu.
Budaya Diet dan Standar Tubuh Ideal
Budaya diet berkembang pesat seiring dengan munculnya standar tubuh ideal yang dibentuk oleh media dan lingkungan sosial. Hari Anti Diet Internasional hadir untuk mengingatkan bahwa obsesi terhadap tubuh ideal bisa berdampak buruk, baik secara fisik maupun mental.
Diet yang awalnya bertujuan untuk kesehatan, sering kali bergeser menjadi tekanan sosial. Banyak orang menjalani diet bukan karena kebutuhan medis, tetapi karena ingin memenuhi ekspektasi lingkungan. Bahkan, dalam beberapa kasus, diet ekstrem dapat memicu gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia.
Standarisasi Kecantikan di Indonesia
Di Indonesia sendiri, standar kecantikan cenderung mengarah pada tubuh yang langsing atau kurus. Fenomena ini bukan sesuatu yang alami, melainkan konstruksi sosial yang terus direproduksi melalui media, iklan, dan bahkan lingkungan pertemanan.
Penelitian dalam jurnal menunjukkan bahwa standar kecantikan merupakan konsep sosial yang subjektif, namun memiliki tekanan yang kuat terhadap individu untuk menyesuaikan diri. Tekanan ini dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri hingga mendorong seseorang melakukan cara-cara ekstrem untuk mengubah tubuhnya.
Selain itu, media sosial juga berperan besar dalam memperkuat standar ini. Konten-konten yang menampilkan tubuh “ideal” sering kali menjadi tolok ukur, sehingga banyak orang—terutama remaja—membandingkan dirinya dengan standar tersebut.
“Harus Kurus Biar Diterima”: Realita Sosial
Kalau dilihat secara jujur, di kehidupan sehari-hari, standar ini sering muncul dalam bentuk komentar sederhana seperti:
“Kamu lebih cantik kalau kurusan”
“Coba diet biar lebih menarik”
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar biasa, tapi sebenarnya mencerminkan tekanan sosial yang cukup kuat. Secara tidak langsung, masyarakat membentuk persepsi bahwa nilai seseorang berkaitan dengan penampilannya.
Akibatnya, banyak individu merasa harus mengubah tubuhnya agar bisa diterima—baik dalam pergaulan, pekerjaan, maupun hubungan sosial. Ini yang akhirnya membuat Hari Anti Diet Internasional menjadi relevan, karena ia mencoba mematahkan pola pikir tersebut.
Relevansi Hari Anti Diet di Indonesia
Hari Anti Diet Internasional bisa jadi momen refleksi, khususnya di Indonesia, untuk mulai mempertanyakan:
Apakah benar tubuh kurus adalah satu-satunya standar kecantikan?
Peringatan ini mengajak masyarakat untuk:
1. Menghargai keberagaman bentuk tubuh
2. Mengurangi body shaming
3. Fokus pada kesehatan, bukan sekadar penampilan
Lebih dari itu, hari ini juga mengingatkan bahwa kesehatan tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang bisa saja kurus, tetapi tidak sehat, dan sebaliknya.
Saatnya Mengubah Cara Pandang!
Hari Anti Diet Internasional bukan tentang menolak diet sepenuhnya, tetapi tentang menolak tekanan sosial yang memaksa seseorang untuk memenuhi standar tubuh tertentu. Dalam konteks Indonesia, peringatan ini menjadi kritik terhadap budaya yang masih mengaitkan penerimaan sosial dengan bentuk tubuh.
Sudah saatnya masyarakat mulai mengubah cara pandang: bahwa tubuh bukanlah syarat untuk diterima, melainkan bagian dari identitas yang harus dihargai. Karena pada akhirnya, nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa kurus tubuhnya, tetapi oleh siapa dirinya secara keseluruhan.
Ditulis Oleh : Adelio Moreno Setyawan
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer

























































