SIARAN BERITA – Pendidikan pada anak usia dini memainkan peran yang sangat strategis dalam membentuk perjalanan hidup seseorang. Mengacu dalam gagasan Ki Hajar Dewantara, proses pembelajaran yang ideal harus mampu menyesuaikan diri dengan sifat dan kebutuhan anak-anak baik yang berasal dari alam maupun tuntutan zaman. Terkai konteks tersebut, anak-anak yang lahir antara tahun 2011 dan 2025 dikenal sebgai generasi Alpha generasi yang telah akrab dengan berbagai perangkat teknologi, seperti ponsel pintar, tablet, laptop, dan televisi berbasis internet, sejak usia sangat dini. Kehadiran teknologi tersebut telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari anak. Oleh karena itu, penguatan keterampilan literasi sejak usia dini menjadi semakin mendesak dan relevan.
Secara etimologis istilah literasi berasal dari kata litera yang berarti huruf. Namun, seiring berjalannya waktu, makna konsep literasi telah mengalami perluasan yang signifikan. Literasi tidak lagi sekedar merujuk terhadap kemampuan mengenali atau mengucapkan huruf, melainkan kini mengucapkan rentang keterampilan yang lebih luas, seperti membaca, menulis, mendengarkan, berbicara, serta kemampuan perpikir kritis dan analitis. Atas landasan literasi yang kokoh yang ditanamkan sejak usi dini, peluang seorang anak untuk meraih kesuksesan di berbagai aspek kehidupan baik secara akademis maupun sosial akan semakin terbuka lebar.
Rentang usia 0 sampai 6 tahun secara luas dianggap sebgai masa yang paling penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Selama fase tersebut, kemampuan otak dalam menyerap dan memposes berbagai jenis informasi serta pengalaman baru mencapai titik tertingginya. Oleh karena itu, mengenalkan dan meningkat kan literasi pada masa tersebut tidak hanya membantu meningkatkan prestasi belajar anak di masa depan, tetapi juga endukung pengembangan kemampuan berpikir, keterampilan berbahasa, serta rasa percaya diri anak dalam menyampaikan pendapat dan ide-ide anak.
Perlu dipahami bahwa literasi membaca di usia kanak-kanak melibat kan lebih dari hanya kemampuan membaca huruf atau mengenali kata-kata. Literasi di tahap tersebut juga mencakup kemapuan anak memahami arti yangtekandung dalam simbol-simbol bahasa dalam konteks tertentu. Keterampilan tersebut sangat berkaitan dengan kemapuan mendengarkan, berbicara, dan berpikir secara logis. Anak-anak yang sudah terbiasa membaca sejak kecil cenderung menjadi orang yang lebih mudah memahami sesustu, lebih cepat merespons perintah, lebih peka terhadap hal-hal di sekitarnya, serta memiliki imajinasi dan kreativitas yang lebih berkembang.
Salah satu dampak terbesar dari mengajarkan literasi sejak usia kecil merupakan meningkatkan anak-anak agar berpikir kritis. Keterampilan tersebut berkembang perlahan, seiring bertambahnya usia anak dan semakin sempurnanya sistem saraf anak. Anak-anak yang sering membaca biasanya bisa memahami informasi dengan lebih baik, mencari cara mengatasi masalah yang sederhana, dan memikirkan berbagai kemungkinan sebelum memutuskan sesuatu. Berdasarkan kurikulum merdeka, berpikir kritis sudah dianggap sebagai salah satu kemampuan yang harus dikuasai anak-anak saat mereka berusia lima sampai enam tahun. Pendidikan diharapkan membuat berbagai macam kegiatan dan pengalaman belajar yang bisa membuat siswa lebih aktif dalam mengembangkan keterampilan tersebut. Cara yang digunakan harus beragam, mulai dari menunjukkan secara langsung dan melakukan Latihan yang terorganisir hingga memberikan tugas yang sesuai dengan tingkat perkembangan masing-masing anak.
Keterampilan literasi anak-anak tidak dapat berkembang dengan baik hanya karena bantuan satu pihak saja. Kerja sama yang baik antara guru di sekolah dan orang tua di rumah sangat penting. Guru harus membuat metode mengajar literasi yang baik dan menyenangkan, sedangkan orang tua juga penting dalam menciptakan lingkungan rumah yang mendukung perkembangan minat dan kebiasaan membaca anak. Peran orang tua dalam hal tersebu tidak boleh dianggap enteng. Orang tua bisa melakukan beberapa cara nyata, seperti menghabiskan waktu untuk menceritakan kiasah kepada anak, mengajak anak membuat cerita sendiri, memberikan buku bergambar yang sesuai dengan usia mereka, serta membimbing anak dalam menggunakan teknologi dengan bijak, Seiring perkembangan teknologi yang semakin cepat, peran orang tua sebagai pengarah sangat penting agar teknologi bisa digunakan sebagai sarana belajar yang bermanfaat, bukan hanya sekedar cara menghibur.
Akan tetapi, tersedianya bacaan yang menonjolkan kearifan lokal dan kekayaan budaya daerah juga perlu mendapat perhatian yang lebih besar. Anak-anak biasanya lebih cepat merasa terhubung sacara emosional dengan cerita-cerita yang terkait dengan pengalaman sehari-hari anak,seperti cerita rakyat atau legenda daerah. Selain membuat orang menyukai membaca, jenis bacaan seperti terebut juga dapat memperkuat rasa bangga terhadap budaya dan menerapkan nilai-nilai moral yang sesaui dengan kehidupan sehari-hari.
Ditulis Oleh: Shintya Misdalifah, (202510040110043) Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang (shintyamisdalifah123@webmaile.umm.ac.id)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































