SIARAN BERITA – Moralitas dan etika adalah dasar penting yang menentukan apakah tindakan seseorang dianggap baik atau buruk dalam hidup bermasyarakat. Meskipun sistem Pendidikan nasional dibuat agar dapat membentuk nilai-nilai moral yang baik untuk menciptakan generasi akademik yang pintar dan beradab, perkembangan moderenisasi kini telah mengubah cara orang berinteraksi sosial secara tajam. Perubahan tersebut menyebabkan penurunan moral yang jelas di lingkungan kampus, seperti terlihat dari banyaknya mahasiswa yang kini tidak lagi menggunakan bahasa yang sopan, baik ketika berbicara dengan teman maupun saat berkomunikasi dengan dosen melalui pesan digital. Kontrol moral yang melemah terlihat dalam berbagai tindakan negatif, seperti hilangnya sopan santun saat berbicara, terlihat dalam pergaulan yang tidak baik, gaya hidup yang mewah, hingga penggunaan bahan-bahan adaktif seperti alkohol dan narkoba. Fenomena menurunnya etika di perguruan tinggi bukan sekedar masalah yang terpisah, melainkan sebuah tindakan tidak normal yang dipengaruhi oleh kurangnya pengawasan sosial dan tekanan besar dari kelompok teman.
Penyebab terbesar dari masalah etika komunikasi adalah ketidakberhasilan lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Sebagai institusi pertama yang mengarah pada pertumbuhan mahasiswa, keluarga memiliki peran utama dalam membentuk kepribadian, prilaku, dan dasar moral anak sejak awal hingga saat anak memasuki masa kuliah. Saat sedang berpindah menuju usia dewasa, mahasiswa sebenarnya sangat membutuhkan kehadiran, bimbingan, dan contoh baik dari orang tua sebagai perlindungan terhadap pengaruh buruk dari lingkungan sekitar. Kunci untuk nilai norma bisa diterima secara efektif bergantung pada kualitas hubungan emosional yang terbentuk melalui komunikasi antar manusia yang baik. Namun, kenyataan tentang struktur keluarga modern sering kali menunjukkan adanya masalah komunikasi karena adanya konflik internal seperti perceraian atau kondisi rumah tangga yang tidak utuh.
Krisis ditandai dengan hilangnya beberapa hal penting dalam komunikasi antar manusia, seperti kejujuran, perhatian, sikap yang menolong, sikap yang baik, keadilan, dan kesetaraan, sehingga keluarga menjadi sumber gangguan mental dan menyebabkan rasa takut sosial pada anak-anak.Di lingkungan kampus, tempatnya seharusnya fokus pada pendidikan dan nilai-nilai moral, sering kali justru menjadi lokasi di mana tindakan melanggar norma sosial dan akademik terjadi dengan mudah dan tanpa merasa bersalah. Gaya komunikasi siswa yang kurang baik terhadap dosen dan teman sebaya menunjukkan bahwa mahasiswa merasa tidak nyaman secara batin dan kehilangan sikap sopan serta tata krama. Untuk mendapatkan pengakuan sosial yang palsu, siswa yang mengalami kelemahan spiritual dan kelemahan kepribadian cenderung mudah dipengaruhi oleh kelompok teman yang memiliki dampak negatif.
Hubungan keluarga yang terasa dingin karena hilangnya rasa hormat membuat anak kehilangan tempat aman untuk menyampaikan perasaannya. Selain cara orang tua yang terlalu ketat dan mengatur segalanya, tanpa memberi anak kesempatan untuk berdiskusi atau menyampaikan pendapat, juga memengaruhi kemampuan anak dalam tumbuh menjadi mandiri dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya. Akibatnya, ketika memasuki dunia perkuliahan yang penuh kebebasan, para siswa mengalami rasa bingung dan kesulitan dalam mengelola kebebasan. Mahasiswa lalu menyalurkan ketidakstabilan psikologis yang sebelumnya ada di rumah ke lingkungan kampus dengan cara melakukan tindakan yang melanggar aturan.
Langkah penting untuk memulihkan ketahanan moral siswa adalah dengan memperkuat peran keluarga melalui meningkatkan komunikasi antar anggota keluarga yang sering terjadi, jujur, dan penuh kasih sayang. Orang tua harus memberikan waktu untuk mendengarkan keluhan anak, sehingga menciptakan suasana rumah yang baik bagi kesehatan mental anak dan membantu membentuk kepribadian siswa yang tenang serta sopan. Bagi siswa yang datang dari keluarga yang tidak harmonis, membangun ketahanan psikososial sangat penting, yaitu dengan mengelola perasaan secara baik, mengembangkan sikap yang positif, meningkatkan rasa percaya diri, mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat, serta memperkuat nilai-nilai keagamaan. Dengan mengingat pengalaman buruk yang pernah dialami, siswa diharapkan bisa mengubah peristiwa tersebut menjadi semangat untuk menerapkan komunikasi yang baik dan jujur.
Orang tua juga perlu menerapkan cara mendidik yang demokratis dan adil agar membentuk kekuatan moral yang kuat pada diri anak, sehingga bisa menghindari pengaruh gaya hidup yang terlalu mengejar kesenangan. Oleh karena itu, pemulihan moral harus diupayakan melalui peningkatan kualitas komunikasi keluarga yang berbasis pada keterbukaan dan pendekatan demokratis. Di sisi lain, perguruan tinggi juga berkewajiban tidak hanya fokus pada aspek intelektual semata, tetapi juga pada pengembangan etika, kepribadian, dan penguatan psikologis mahasiswa. Mahasiswa sendiri harus bijak dalam memilih lingkungan pergaulan dan mampu mentransformasikan keterbatasan komunikasi masa lalu di keluarga menjadi energi positif untuk tampil agen sebagai perubahan yang berakhlak mulia di tengah masyarakat.
Ditulis Oleh : Nadia Putri Natasya Irham (202510040110008), Mahasiswa S1 Ilmu Komunikai, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































