Tomohon – Kebijakan pembelajaran berani yang diterapkan sejak pandemi Covid-19 memberikan dampak signifikan dalam dunia pendidikan, khususnya pada perlindungan siswa. Meski menawarkan kemudahan dan akses waktu yang buruk, metode ini dinilai belum sepenuhnya mampu menggantikan pembelajaran tatap muka, terutama dalam aspek praktik klinik.
Dalam analisis yang dilakukan oleh Elshaday EN Siladja dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Maria Tomohon, pembelajaran berani dinilai membawa sejumlah manfaat. Mahasiswa dapat mengakses materi kapan saja dan di mana saja, sehingga mendorong kemandirian belajar. Selain itu, penggunaan teknologi digital juga meningkat, baik dari sisi dosen maupun mahasiswa, serta memberikan efisiensi dalam hal waktu dan biaya.
Namun dibalik kelebihan tersebut, terdapat sejumlah kendala yang cukup serius. Salah satunya adalah keterbatasan praktik klinik yang menjadi bagian penting dalam pendidikan. Kurangnya interaksi langsung antara dosen dan siswa juga berdampak mempengaruhi pemahaman materi. Selain itu, kendala teknis seperti jaringan internet yang tidak stabil serta batasan perangkat menjadi hambatan utama dalam proses pembelajaran.
Tidak hanya itu, sebagian siswa juga mengalami penurunan motivasi belajar akibat kejenuhan selama mengikuti pembelajaran secara berani. Hal ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran ini masih memiliki banyak kekurangan, khususnya dalam pendidikan berbasis praktik.
Beberapa tantangan utama yang dihadapi dalam penerapan pembelajaran berani meliputi kesiapan institusi dalam menyediakan sistem digital yang memadai, kemampuan dosen dalam menciptakan pembelajaran interaktif, serta kesiapan siswa dalam beradaptasi dengan sistem belajar mandiri. Selain itu, ketimpangan akses teknologi di berbagai daerah juga menjadi permasalahan yang belum sepenuhnya teratasi.
Melihat berbagai tantangan tersebut, pembelajaran yang dinilai belum dapat sepenuhnya menggantikan pembelajaran tatap muka, khususnya dalam bidang perawatan yang memerlukan keterampilan praktik langsung.
Sebagai solusinya, peneliti menganjurkan penerapan metode blended learning, yaitu antara kombinasi pembelajaran dare dan luring. Selain itu, diperlukan peningkatan kualitas platform pembelajaran, pelatihan bagi dosen, serta penyediaan fasilitas pendukung bagi mahasiswa seperti bantuan kuota internet dan perangkat belajar. Penggunaan simulasi virtual juga disarankan untuk membantu meningkatkan pemahaman keterampilan klinis siswa.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan kualitas pendidikan siswa tetap dapat terjaga dan berkembang meskipun dalam kondisi yang serba terbatas.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































