Aroma khas tepung yang menguar di udara, suara adukan adonan yang berirama, dan deretan karung besar berisi kerupuk yang memenuhi sudut gudang – itulah pemandangan sehari-hari yang menyambut siapa saja yang berkunjung ke tempat produksi kerupuk milik Pak Ritno. Sebuah usaha rumahan yang telah berdiri kokoh sejak tahun 2010, menapaki perjalanan panjang lebih dari satu dekade di tengah gempuran pasar yang terus berubah.
Merintis dari Nol, Bertahan dengan Tekad
Sudah lebih dari 14 tahun Pak Ritno menekuni usaha kerupuk ini. Apa yang dimulai dengan modal seadanya kini telah berkembang menjadi usaha yang mempekerjakan lebih dari tujuh orang karyawan. Bukan angka yang kecil untuk sebuah UMKM di tingkat lokal – ini adalah bukti nyata bahwa ketekunan dan konsistensi mampu menggerakkan roda ekonomi kerakyatan. Usaha ini memproduksi dua jenis kerupuk unggulan: kerupuk goreng dan kerupuk panggang, dengan produk andalan berupa kerupuk kemplang, kerupuk pasir dan kerupuk jenis lainnya. Selain memproduksi sendiri, Pak Ritno juga menjual kerupuk mentah yang dibeli dari pemasok untuk melengkapi variasi produknya.
Proses Produksi: Kerja Keras dari Dini Hari
Yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat adalah betapa panjang dan beratnya proses di balik sepiring kerupuk yang sering kita nikmati. Di UMKM Pak Ritno, aktivitas produksi dimulai sejak pukul 03.00 dini hari dan baru berakhir sekitar pukul 19.00 malam. Bahan baku yang digunakan sangat sederhana namun memerlukan ketelitian dalam pengolahannya: tepung tapioka, garam, dan air diaduk menjadi adonan yang kemudian dibentuk dan diproses menjadi kerupuk siap jual. Yang luar biasa adalah seluruh proses pengadonan masih dilakukan secara manual oleh tangan-tangan terampil para karyawan. Hal ini bukan pilihan, melainkan keterpaksaan akibat keterbatasan mesin produksi – mulai dari mesin pengaduk, pencetak, hingga pengering – yang hingga saat ini belum tersedia secara optimal.
“Kami sangat membutuhkan mesin yang memadai, terutama untuk proses pengadonan, pencetakan, dan pengeringan. Kalau sudah ada mesin, produksi bisa jauh lebih cepat dan efisien,” ujar Pak Ritno.
Jaringan Distribusi yang Menjangkau Luas
Meski terkendala peralatan, sistem distribusi UMKM ini terbilang cukup tertata. Produk kerupuk Pak Ritno telah masuk ke agen-agen besar sekaligus menjangkau warung-warung kecil di sekitar wilayahnya. Ada dua jalur distribusi yang dijalankan: sebagian pelanggan langsung datang mengambil ke lokasi produksi, sementara sebagian lainnya mendapat layanan pengiriman langsung. Yang menarik adalah sistem pengecekan stok yang diterapkan. Setiap tiga hari sekali, tim dari UMKM ini aktif memonitor ketersediaan produk di warung-warung mitra. Jika stok sudah habis, langsung dilakukan pengisian ulang (refill). Sistem ini memastikan ketersediaan produk tetap terjaga dan pelanggan tidak kecewa karena kehabisan.
Tantangan yang Menghimpit, Semangat yang Tak Padam
Seperti kebanyakan pelaku UMKM di Indonesia, Pak Ritno pun tidak lepas dari berbagai tantangan. Setidaknya ada beberapa kendala utama yang dihadapi diantaranya:
1. Keterbatasan Mesin Produksi Proses pengadonan, pencetakan, hingga pengeringan masih mengandalkan tenaga manusia sepenuhnya. Hal ini memperlambat kapasitas produksi dan meningkatkan beban kerja karyawan.
2. Fluktuasi Harga Bahan Baku Ketidakstabilan harga tepung tapioka dan bahan pendukung lainnya kerap membuat perencanaan keuangan menjadi sulit dan tidak menentu.
3. Pencatatan Keuangan Manual Sistem pembukuan usaha ini masih dilakukan secara manual. Digitalisasi pencatatan dinilai sangat diperlukan agar pengelolaan keuangan lebih rapi, transparan, dan akurat.
4. Pemasaran yang Perlu Ditingkatkan Di era digital ini, promosi produk secara online menjadi kebutuhan mendesak agar jangkauan pasar kerupuk Pak Ritno bisa lebih luas, tidak hanya bergantung pada jaringan distribusi konvensional.
Harapan Sederhana, Makna yang Dalam
Di tengah segala tantangan, Pak Ritno menyimpan harapan yang sederhana namun penuh makna yaitu stabilitas. Stabilitas dalam penjualan, stabilitas harga bahan baku, dan kondisi pasar yang tidak terlalu bergejolak. Bagi pelaku UMKM seperti beliau, kepastian adalah kemewahan yang sesungguhnya. “Yang paling penting buat kami adalah harga bahan baku bisa stabil. Kalau bahan baku naik terus, kami yang kecil ini yang paling berat merasakannya,” tuturnya dengan nada berharap.
UMKM: Tulang Punggung Ekonomi yang Perlu Didukung
Kisah Pak Ritno adalah cerminan dari jutaan pelaku UMKM di seluruh Indonesia – mereka yang bekerja keras dari sebelum fajar menyingsing, yang mempertahankan tradisi dengan tangan dan keringat, yang menopang ekonomi lokal dengan cara yang paling membumi. Apa yang mereka butuhkan bukan sekadar apresiasi, melainkan dukungan nyata: kemudahan akses permodalan, pendampingan digitalisasi usaha, bantuan pengadaan mesin produksi, serta kebijakan yang melindungi stabilitas harga bahan baku. Semoga perjalanan panjang UMKM Kerupuk Pak Ritno menjadi inspirasi, sekaligus pengingat bagi kita semua bahwa di balik cemilan renyah yang kita nikmati, ada peluh, dedikasi, dan perjuangan yang tidak pernah berhenti.
Penulis: Sabrina Salsabila, Angga Saputra, Diah Mar’ah ilmi Sarofah, Dzulvie Marwanudin,Sherly Aprilliani
Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































