Tidur merupakan kebutuhan fisiologis yang sangat penting untuk menjaga fungsi kognitif, seperti konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan berpikir. Bagi mahasiswa, konsentrasi belajar berperan penting dalam memahami materi perkuliahan dan mencapai prestasi akademik yang optimal. Namun, banyak mahasiswa memiliki pola tidur yang tidak teratur akibat tuntutan akademik, stres, aktivitas sosial, penggunaan perangkat elektronik hingga larut malam, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya kualitas dan kuantitas tidur. Kurangnya waktu tidur dapat menyebabkan rasa mengantuk, kelelahan, penurunan konsentrasi, gangguan memori, dan masalah kesehatan emosional. Menurut National Sleep Foundation, orang dewasa usia 18–64 tahun dianjurkan tidur selama 7–8 jam per malam. Kualitas tidur yang baik ini ditandai dengan tidak adanya tanda-tanda kekurangan tidur dan tidak mengalami gangguan tidur.
Dampak kurang tidur terhadap mahasiswa sangat signifikan karena dapat menghambat proses belajar dan menurunkan kemampuan memusatkan perhatian. Konsentrasi yang rendah menyebabkan kegiatan belajar menjadi kurang efektif, sedangkan konsentrasi yang baik dapat meningkatkan keberhasilan dalam belajar. Meskipun demikian, masih banyak sekali mahasiswa yang mengabaikan pola tidur sehat dan lebih memprioritaskan tugas akademik maupun penggunaan media sosial, sehingga berisiko mengalami penurunan kualitas belajar dan kesehatan secara keseluruhan.
Jam tidur memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap konsentrasi belajar mahasiswa. Semakin cukup dan berkualitas waktu tidur yang dimiliki mahasiswa, maka semakin baik kemampuan mereka dalam memusatkan perhatian saat mengikuti proses pembelajaran. Secara fisiologis, tidur yang cukup sekitar 7-8 jam memungkinkan otak melakukan pemulihan fungsi kognitif. Sebaliknya, kurang tidur mengganggu aktivitas korteks prefrontal, yang mengakibatkan penurunan atensi selektif dan munculnya microsleep saat belajar. Durasi tidur yang tidak memadai terbukti memperlambat kecepatan pemrosesan informasi dan waktu reaksi mahasiswa terhadap materi kuliah yang kompleks.
Kurang tidur juga dapat mengganggu fungsi korteks prefrontal yang berperan dalam perhatian, pengambilan keputusan, dan pemrosesan informasi. Akibatnya, mahasiswa mengalami penurunan konsentrasi, daya ingat, kecepatan berpikir, serta berisiko mengalami microsleep saat belajar.
Gangguan pola tidur mahasiswa disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain stres akademik, tuntutan sosial, kebiasaan tidur larut malam, penyelesaian tugas yang berlebihan, serta penggunaan perangkat elektronik atau gadget hingga larut malam.
Penggunaan gadget sebelum tidur dapat menurunkan kualitas tidur menjadi pemicu utama penurunkan performa akademik, karena tidur menghambat proses istirahat yang optimal. Selain itu, kurang tidur juga dapat meningkatkan stres dan kecemasan sehingga mahasiswa lebih sulit berkonsentrasi dalam kegiatan akademik.
Untuk mencapai konsentrasi yang optimal, mahasiswa perlu melakukan perubahan paradigma terhadap produktivitas. Mengatur jadwal tidur 7–8 jam per malam yang konsisten dan membatasi penggunaan elektronik sebelum tidur adalah langkah kunci untuk menjaga kesehatan biologis yang mendukung kesuksesan akademik.
Ditulis oleh : Nur Anisa Apriyani
Universitas Islam Negeri Raden Fatah
nuranisaapriyanii03@gmail.com
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































