Bayangkan kamu harus meninggalkan zona nyaman kampus — meninggalkan wifi cepat, kantin favorit, dan rutinitas perkuliahan — lalu hidup dan bekerja di sebuah desa selama 35 hari penuh. Tidak ada ujian tertulis, tidak ada presentasi di depan dosen, dan tidak ada nilai yang bisa ditawar. Yang ada hanya masyarakat nyata dengan masalah nyata, dan kamu harus menjawabnya dengan ilmu yang selama ini hanya berputar di dalam kepala.
Itulah yang dialami delapan mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe ketika mereka ditempatkan di Kampung Bah Aren, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pada 15 Januari hingga 17 Februari 2026. Mereka tergabung dalam KPM Kelompok 78 — sebuah tim kecil dengan latar belakang keilmuan yang beragam, namun memiliki satu tujuan yang sama, yaitu berkontribusi nyata bagi masyarakat.
Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) memang bukan hal baru di dunia pendidikan tinggi Indonesia. Ia adalah wujud konkret dari Tri Darma Perguruan Tinggi, khususnya pilar pengabdian kepada masyarakat. Namun, seringkali KPM hanya dipandang sebagai formalitas akademik — dijalani seadanya, dilaporkan selesai, lalu dilupakan. KPM Kelompok 78 membuktikan bahwa pengabdian bisa menjadi jauh lebih dari sekadar itu.
Tantangan di Lapangan Ketika Realita Tidak Selalu Sesuai Rencana
Tidak ada pengabdian yang benar-benar mulus. Kelompok 78 pun menghadapi sejumlah tantangan yang menguji kesabaran dan kreativitas mereka. Salah satunya adalah rendahnya partisipasi anak-anak dalam kegiatan pengajian rutin. Di usia yang penuh energi itu, bermain terasa jauh lebih menarik daripada duduk mengaji. Alih-alih memaksakan, mahasiswa memilih pendekatan yang lebih personal dan menyenangkan — perlahan, partisipasi pun meningkat.
Ada juga program pendampingan administrasi tanah wakaf yang tidak berhasil diselesaikan. Aparatur desa yang berwenang ternyata sulit ditemui karena kesibukannya, sehingga data yang dibutuhkan tidak terkumpul dengan lengkap. Ini menjadi pelajaran berharga bahwa pengabdian masyarakat tidak cukup hanya bermodal semangat dan ilmu — ia juga membutuhkan koordinasi birokrasi yang matang, kesabaran ekstra, dan kemampuan beradaptasi dengan ritme kehidupan desa.

Namun justru dari hambatan inilah pelajaran terbesar datang. Mahasiswa belajar bahwa perubahan sosial tidak bisa dipaksakan dalam tempo 35 hari. Yang bisa dilakukan adalah menanam benih — dan berharap suatu hari benih itu tumbuh, bahkan setelah mereka pergi.
Bukan Hanya Memberi, Tapi Juga Menerima
Ada yang sering terlupakan ketika membicarakan KPM, dimana bahwa mahasiswa tidak hanya datang untuk memberi. Mereka juga menerima, menerima pelajaran tentang kehidupan yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah mana pun.
Mereka belajar tentang toleransi yang bukan sekadar slogan, tapi dijalani setiap hari oleh masyarakat Kampung Bah Aren yang berbeda suku dan agama. Mereka belajar tentang kesederhanaan hidup petani yang bangun subuh untuk merawat kebun demi menghidupi keluarga. Mereka belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu berbanding lurus dengan kemewahan materi.
Dan mereka belajar bahwa ilmu yang selama ini terasa abstrak di bangku kuliah tentang pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, dan teknologi ternyata bisa menjadi sangat konkret dan berdampak ketika diterapkan dengan hati yang tulus di hadapan masyarakat yang membutuhkan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































