Pengasuhan anak merupakan salah satu hal terpenting dalam membentuk kepribadian dan masa depan seorang anak. Cara orang tua mendidik dan mengasuh anak bukan hanya sebagai bentuk perkembangan fisik. Tetapi, mental, emosional, dan bagaimana dia bersosialisasi dikemudian hari. Di zaman modern yang penuh tantangan, pengasuhan bukan lagi sebatas memenuhi kebutuhan dasar. Tetapi, memberikan pendidikan, serta membentuk pola pikir yang baik. Setiap orang tua memiliki caranya sendiri dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Perbedaan cara pengasuhan inilah yang berperan penting dalam membentuk karakter, emosi, dan perilaku anak dimasa depan. Namun masih banyak orang tua yang belum begitu memahami bagimana cara mengasuh anak dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan mereka. Oleh karena itu, Ki Ageng Suryomentaram memberikan pemahaman yang mendalam tentang mengasuh atau mendidik, dia menerapkan psikologi rasa ke dalam psikologi pendidikan dan pengasuhan secara menyeluruh.
Oleh karena itu, Artikel ini akan menjelaskan tahap pengasuhan anak menurut Ki Ageng Suryomentaram yang mengajarkan orang tua untuk memahami dirinya sendiri dan juga anak agar tercipta pola asuh yang bijak dan harmonis.
Ki Ageng Suryomentaram adalah seorang filsuf nusantara yang membuat karya kawruh pamomong. Dalam karya ini ia membahas tahap pengasuhan anak. menurut ki ageng suryomentaram kaarkter seorang anak bukanlah ‘dibentuk’ oleh orang tua tetapi, orang tua yang membantu anak untuk menemukan jiwa sejatinya sendiri. Tugas orang tua dalam mengasuh dan mendidik bukanlah ‘membentuk’ anak, tetapi membantu anak menemukan jiwanya sendiri. Dalam karya kawruh pamomong Ki Ageng Suryomentaram membedakan tiga tahap pengasuhan anak untuk membantu orang tua dalam mencapai kedewasaan dan keutuhan diri:
Yang pertama, salah pamomong yaitu ketika orang tua memaksakan harapan dan cita-citanya kepada seorang anak, yang membuat anak merasa tertekan, dimana dia tidak bisa menentukan jalannya sendiri karena harapan orang tua yang begitu besar dan keinginan orang tua agar anaknya bisa menjadi apa yang ia inginkan. Contohnya, dulu Rina ingin sekali kuliah di jurusan music. Akan tetapi, setiap kali ia membahas soal music, ibunya selalu berkata “kalo kamu ambil kuliah jurusan music masa depan kamu engga jelas, mending ambil psikologi biar punya kerjaan yang jelas.” Karena keinginan orang tuanya, Rina terpaksa untuk nurut dan memilih jalan yang berlawanan dari apa yang di inginkan. Alhasil, Rina berkuliah dengan setengah hati yang membuatnya sering merasa stress, dan merasa hidupnya bukan miliknya.
Dari cerita diatas, Ketika orang tua mengasuh anak dengan egonya sendiri, anak akan merasa terbebani dan tertekan dengan tuntutan yang ada sehingga membuatnya kehilangan jati dirinya.
Yang kedua, pamomong biasa yaitu ketika orang tua membiarkan tanpa memberi bimbingan dan arahan kepada sang anak. Mereka masih dikendalikan oleh perasaannya, dan mereka perlu masukan atau bimbingan dari orangtuanya. Ketika anak tidak mendapatkan hal itu, ia akan mudah bingung dan merasa tidak tenang atas keputusan yang ia ambil. Contohnya, ketika Abdul mendapatkan nilai jelek disekolah ia berkata pada ibunya “Bu, nilaiku jelek, aku harus gimana yaa.” tetapi ibunya menjawab “yaudah, yang penting kamu udah sekolah, gausah dipikirin nanti juga lulus.” Abdul hanya diam. Dia berharap ibunya memberi bimbingan dan arahan, hari hari berikutnya nilainya tetap jelek, ia merasa tidak ada gunanya berusaha, karena tidak ada yang memberi arahan ke padanya.
Dari cerita diatas, ketika orang tua tidak memberikan arahan dan evaluasi yang membimbing anak, anak akan merasa kebingungan atas apa yang ia lakukan.
Yang ketiga, pamomong sejati yaitu ketika orang tua selalu membantu dan membimbing anaknya agar menjadi apa yang di inginkan dan menjadi dirinya sendiri. Tahap ini adalah tahap yang paling baik, karena orang tua selalu membimbing dan membantu tanpa ada paksaan yang ia berikan. Sehingga anak bisa terus belajar, memilih jalan hidupnya, dan merasakan kehidupannya sendiri. Mereka tidak akan mudah bingung dan tidak tenang atas keputusan yang di ambil, karena orang tuanya selalu memberi bimbingan dan arahan yang baik.
Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak mereka. Kadang kala, niat baik saja tidak cukup. Maka diperlukannya keseimbangan antara arahan dan komunikasi yang tepat. Karena, terlalu banyaknya aturan akan membuat anak kehilangan dirinya, tidak memberi arahan pun akan membuat mereka kebingunan dalam menentukan arah. Jadi, kita sama-sama belajar untuk menjadi pendamping yang bijak, tidak hanya sekadar memberi aturan atau membiarkan, tetapi hadir untuk membimbing, mendengarkan, dan mendukung, supaya mereka dapat tumbuh dengan baik.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































