Sastra Dan Literasi Pada Era Internet
Karya sastra tak hanya mencerminkan karakter pengarang, tetapi juga karakter sebuah bangsa, bahkan karakter zamannya. Dengan caranya sendiri, sastra dapat menjadi nyala api yang tidak hanya mencatat tetapi juga mendorong perubahan besar di dunia dan kehidupan manusia. Sastra memiliki hubungan yang amat erat dengan ideologi (perseorangan maupun bangsa). Pemberontakan atas kolonialisme dimulai dari pemikiran para sastrawan. Kerinduan atas kemerdekaan disiratkan dalam karya-karya sastra. Karya sastra — melalui pendekatan dekonstruksionis dan pascakolonialisnya — menjadi alat perjuangan untuk lepas dari perbudakan, dari agama yang puritan, dari penjajahan, dari ketidakadilan gender, dari tradisi dan norma yang membelenggu.
Sastra yang membawa pesan kemanusiaan (content) tentu membutuhkan medium penyampaian. Di abad-abad yang lalu, medium penting itu bernama mesin cetak Guttenberg, sebuah alat yang mendongkrak literacy (minat dan kemampuan baca tulis) dalam peradaban manusia. Dan bila mesin cetak saja bisa mencetak puluhan juta buku sekali terbit, bagaimana dengan Internet? Jangkauan readership-nya nyaris tak terbatas, mengingat sifatnya yang borderless. Kemunculan Internet tentu mengubah perilaku dan kebiasaan literasi: membaca semakin tergesa-gesa, informasi berjalan super cepat, menulis singkat-singkat. Bagaimana sastra beradaptasi dengan kondisi ini?
Kita dibangunkan dari tidur panjang dan menghadapi kenyataan bahwa kita memang tengah hidup di galaksi Internet. Semua serba terhubung. Bagaimana posisi sastra di era Internet akan menjadi bahasan makalah ini: selain diskusi tentang peran sastra dalam kemajuan dan perubahan umat manusia.
Pendahuluan
Thomas L. Friedman pernah mengejutkan masyarakat dengan bukunya The World is Flat (2005). Dunia ternyata datar dan dunia berada di ujung jari-jari manusia. Sekali pencet tombol keyboard, seseorang dapat berada di negara yang jauh (yang dulu hanya dapat dicapai dengan kapal laut selama berbulan-bulan). Bahkan pada hari yang sama, manusia dapat berada di Asia dan Eropa secara fisik (perhitungkan perbedaan waktu): malam di Tokyo, lalu terbang ke barat, di London seseorang akan tiba pada hari yang sama. Seseorang seperti meluncur di medan datar.
Sesungguhnya, sebuah buku lain telah membangunkan manusia dari tidur panjang dan — mau tidak mau — menerima kenyataan bahwa manusia hidup di galaksi baru bernama Internet Galaxy. Internet, yang dalam percakapan sehari-hari diwujudkan dalam istilah teknologi informasi dan komunikasi dunia maya, merupakan bukti kemajuan peradaban manusia. Akan panjang daftar kemajuan dan kebaikan dari Internet ini bagi kemanusiaan, dan panjang juga daftar tantangan atau ancaman yang ditimbulkan olehnya.
Salah satu kebaikan yang digembar-gemborkan dari Internet adalah bahwa Internet menjamin “kebebasan”, kebebasan berpikir, menulis, bertindak, bergaul, berkomunikasi. Namun ancamannya juga berpijak pada “kebebasan”: orang bebas mengolok, memaki, mengancam, meneror, memprovokasi, bahkan memfitnah.
Manuel Castells, dalam bukunya The Internet Galaxy (2001) bahkan menggarisbawahi:
“The Internet can free the powerful to oppress the uninformed, and it may lead to exclusion of the devalued by the conquerors of value.”
Maksudnya, Internet dapat membebaskan yang berkuasa untuk menindas mereka yang tidak memiliki akses informasi, dan mereka yang tidak terakses Internet menjadi kaum terpinggirkan.
Internet memang menjamin kebebasan, tetapi kebebasan hanya bagi yang memiliki kontrol atasnya.
Apa hubungannya Internet dengan sastra dan pengembangan literasi? Bisa saja ada manusia di bumi yang mengatakan, “Go to hell with the Internet”. Namun kabar buruknya, meskipun kita tak peduli pada Internet (bersikeras tak menggantungkan hidup dan pekerjaan pada Internet), Internet peduli pada kita dan akan mempengaruhi hidup kita. Apa boleh buat. Kita hidup di galaksi yang telah berubah menjadi The Internet Galaxy, segala sesuatu terhubung.
Bahkan sastra pun telah diproduksi dan dikonsumsi melalui Internet. Orang membeli buku-buku melalui layanan online, membaca e-book, mengunggah karya di blog atau website, bahkan mengikuti cerita mini bersambung lewat SMS, BBM, atau WA. Dengan demikian, bila kita membahas peran dan perkembangan sastra di masa kini dan masa depan, kita tidak mungkin melepaskan diri dari salah satu mediumnya — yang akan menjadi dominan — yaitu teknologi dunia maya.
Internet dapat menjadi medium yang efektif dan ampuh dalam penyebaran pesan sastra.
Sastra dan Literasi
Sastra dan literasi memiliki hubungan yang sangat erat. Sastra lahir dari budaya baca dan tulis, dan sebaliknya sastra juga menumbuhkan budaya membaca serta kemampuan berpikir kritis masyarakat.
Dalam sejarah peradaban manusia, karya sastra sering menjadi media perubahan sosial. Banyak revolusi pemikiran dimulai dari tulisan para sastrawan dan intelektual. Sastra tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan, moral, kritik sosial, bahkan ideologi.
Mesin cetak Guttenberg menjadi tonggak penting perkembangan literasi dunia. Dengan hadirnya teknologi cetak, buku menjadi lebih mudah diproduksi dan disebarkan kepada masyarakat luas. Dampaknya, minat baca meningkat dan masyarakat mulai terbiasa dengan budaya literasi.
Kini, di era Internet, perubahan kembali terjadi. Cara membaca berubah menjadi cepat dan instan. Informasi datang bertubi-tubi. Orang membaca judul tanpa membaca isi, membaca ringkasan tanpa memahami keseluruhan konteks.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi sastra dan dunia literasi. Sastra membutuhkan pembacaan yang mendalam, reflektif, dan tidak tergesa-gesa. Namun budaya Internet sering mendorong kebiasaan membaca singkat dan dangkal.
Internet dan Perubahan Budaya Membaca
Internet menghadirkan kemudahan akses informasi yang luar biasa. Melalui gawai dan jaringan digital, seseorang dapat membaca ribuan artikel, buku elektronik, jurnal, atau karya sastra hanya dalam hitungan detik.
Namun kemudahan ini juga melahirkan persoalan baru. Budaya membaca menjadi semakin pragmatis. Orang cenderung membaca untuk mendapatkan informasi cepat, bukan untuk memahami secara mendalam.
Di sisi lain, media sosial juga mengubah cara orang menulis. Tulisan menjadi pendek-pendek, serba cepat, dan kadang kehilangan kedalaman makna. Banyak orang lebih tertarik membuat status singkat daripada menulis esai atau karya panjang.
Meskipun demikian, Internet tetap memiliki potensi besar untuk mengembangkan literasi. Blog, website, media digital, perpustakaan online, dan platform penerbitan mandiri memberi kesempatan luas bagi siapa pun untuk menulis dan menyebarkan karya.
Sastrawan masa kini dapat memanfaatkan Internet sebagai ruang publik baru untuk memperkenalkan karya sastra kepada generasi muda.
Sastra di Era Digital
Sastra harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Jika dahulu karya sastra hanya hadir dalam bentuk buku cetak, kini sastra dapat hadir dalam bentuk digital.
Cerpen, puisi, novel, bahkan drama dapat dipublikasikan melalui blog, media sosial, atau platform digital lainnya. Pembaca pun dapat mengakses karya tersebut kapan saja dan di mana saja.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sastra tidak mati. Sastra justru menemukan medium baru yang memungkinkan penyebaran lebih luas.
Namun demikian, tantangan utama sastra digital adalah menjaga kualitas. Kemudahan publikasi sering membuat karya diproduksi secara instan tanpa proses kreatif yang matang.
Karena itu, pendidikan literasi tetap menjadi hal penting. Masyarakat perlu dibiasakan membaca secara kritis, memahami isi teks, dan menghargai proses kreatif dalam karya sastra.
Penutup
Internet telah mengubah cara manusia hidup, berkomunikasi, membaca, dan menulis. Perubahan ini membawa dampak besar terhadap perkembangan sastra dan budaya literasi.
Sastra tetap memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kemanusiaan, menumbuhkan empati, serta mengkritik ketidakadilan sosial. Di tengah arus informasi yang sangat cepat, sastra menjadi ruang refleksi yang membantu manusia memahami kehidupan secara lebih mendalam.
Oleh karena itu, sastra dan literasi harus terus dikembangkan di era Internet. Teknologi seharusnya tidak menjauhkan manusia dari budaya membaca dan berpikir kritis, melainkan menjadi sarana untuk memperluas akses pengetahuan dan memperkuat budaya literasi masyarakat.
Penulis : A Ernest Nugroho, M.Pd.
DAFTAR PUSTAKA
Baran, Stanley J. 2002. Introduction to Mass Communication, Media Literacy, and Culture Boston: McGraw Hills.
Brata, Suparto. 2001. Ubah Takdir Lewat Baca dan Tulis Buku. Surabaya: LMC.
Castells, Manuel. 2001. The Internet Galaxy. New York: Oxford University Press.
Heraty, Toeti. 2002. Hidup Matinya Sang Pengarang. Jakarta: Yayasan Obor.
Mills, Sara. 1997. Discourse. London: Routledge.
Pitono, Djoko. 2007. Bahasa, Sastra, dan Budi Darma. Surabaya: JP Books.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































