Kabar membanggakan datang dari SMA Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo. Sekolah berbasis pesantren yang dinaungi Pondok Pesantren Bumi Shalawat di Jawa Timur ini berhasil mengantarkan 85 siswanya lolos dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.
Jika dibandingkan dengan beberapa sekolah berbasis pesantren lainnya di Jawa timur, SMA Progresif Bumi Shalawat memiliki jumlah siswa lebih banyak yang diterima SNBT.
Misalnya SMA Darul Ulum 1 Unggulan sebanyak 53 siswa, SMA Darul Ulum 2 Unggulan 64 siswa, SMA Trensains Tebuireng 55 siswa, SMA Thursina IIBS 23 siswa, SMA Ar-Risalah Lirboyo 9 siswa, SMA Amanatul Ummah Pacet 51 siswa, dan sekolah-sekolah lain dengan perolehannya masing-masing.
Pencapaian ini menjadi sejarah tersendiri, karena melihat data dari media sosial mereka masing-masing, SMA Progresif Bumi Shalawat menjadi SMA berbasis pesantren dengan jumlah kelulusan SNBT terbanyak di Jawa Timur.
Nama-nama kampus ternama ikut menjadi tujuan para siswa, mulai dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (UNAIR), hingga Universitas Brawijaya. Ragam jurusan yang ditembus pun tak kalah beragam, mulai dari Kedokteran, Teknik Informatika, Farmasi, Hukum, hingga Sains Data.
Keberhasilan ini bukan datang begitu saja. Di balik itu ada kerja keras yang dilakukan para siswa sejak menginjak kelas XII. Di minggu-minggu awal naik kelas, para siswa langsung mengikuti program intensif yang dilakukan selepas jam sekolah. Program tersebut berlangsung tiga kali dalam seminggu dengan materi dan sub soal yang berbeda-beda setiap harinya.
“Program itu sengaja kami lakukan di awal, karena kami ingin para siswa mengenal soal-soal UTBK dan terbiasa mengerjakannya,” terang Misbachul Munir Ardy, Kepala Sekolah SMA Progresif Bumi Shalawat pada (04/06).
Bersama para guru pengajarnya, siswa mendalami, membedah, dan menganalisis soal-soal UTBK yang pernah keluar pada tahun-tahun sebelumnya.
Salah satu siswa, Arya Die Irham buktinya, ia berhasil menembus Institut Teknologi Bandung pada program Sekolah Teknik Elektro dan Informatika – Komputasi (STEI-K) dengan capaian yang memukau, yaitu nilai 1000,52 pada sub tes Pengetahuan Kuantitatif.
“Saya sangat terbantu dengan intensif itu. Karena setiap hari membedah soal-soal, jadi rumus dan tips mengerjakannya sudah menempel di kepala,” ujar Arya.
Belum lagi ketika beberapa bulan mendekati hari menjelang UTBK, selain siang, intensif malam juga diadakan oleh sekolah. Sehingga selepas mereka kegiatan pondok pesantren, sekitar jam delapan malam, mereka membuat kelompok belajar dan ditemani guru pengajarnya.
Pencapaian Arya hanyalah satu dari sekian banyak kisah sukses yang lahir dari kelas dua belas SMA Progresif Bumi Shalawat tahun ini. Dari total 85 siswa yang lolos, mereka memiliki pengalamannya masing-masing hingga mereka berhasil diterima di universitas pilihannya.
Misbach, nama sapaannya menambahkan, perolehan ini sekaligus menjadi bukti bahwa sekolah di pesantren bukanlah menjadi penghalang anak berkembang, justru ketika mereka di pesantren, proses belajar siswa, malah lebih maksimal, karena mereka belajarnya bersama, sehingga tumbuhnya juga bersama.
“Hasil ini juga menjadi penyeimbang di tengah isu negatif tentang pondok pesantren yang berkembang belakangan ini,” tambahnya
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer

































































