Pernahkah kalian merasa sudah memahami suatu topik hanya karena pernah membaca artikel, menonton video singkat, atau mendengar penjelasan sekilas di media sosial? Misalnya, Anda merasa paham bagaimana cara kerja dari AI, bagaimana inflasi terjadi, atau bahkan cara kerja benda sederhana seperti bagaimana resleting pada pakaian dapat berfungsi. Namun, ketika diminta menjelaskan secara rinci, tiba-tiba penjelasan yang semula terasa jelas menjadi sulit diuraikan.
Fenomena ini semakin sering ditemui pada era digital. Informasi hadir begitu cepat dengan jumlah melimpah dan mudah diakses kapan saja hanya melalui genggaman tangan. Akibatnya, banyak orang tanpa sadar menganggap diri mereka telah memahami sesuatu hanya karena pernah bersentuhan dengan informasi tersebut. Padahal, mengenal suatu topik tidak selalu berarti benar-benar memahaminya. Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi?
Merasa Paham, Padahal Belum Tentu
Fenomena tersebut dikenal sebagai Illusion of Explanatory Depth (IOED), yaitu kecenderungan seseorang untuk merasa lebih memahami suatu hal daripada kemampuan yang sebenarnya dimiliki. Kita sering menganggap diri sudah mengerti sebuah topik, tetapi baru menyadari keterbatasan pemahaman tersebut ketika diminta menjelaskannya secara rinci.
Dalam kehidupan sehari-hari, ilusi ini sering muncul tanpa disadari. Kita merasa memahami berbagai hal di sekitar kita karena sering menggunakannya atau mendengarnya. Namun, ketika diminta menjelaskan langkah demi langkah bagaimana sesuatu bekerja, barulah terlihat bahwa pemahaman tersebut ternyata tidak sedalam yang dibayangkan.
Era Informasi Instan dan Ilusi Pemahaman
Salah satu alasan mengapa Illusion of Explanatory Depth terjadi adalah karena manusia sering kali mencampuradukkan antara mengetahui fungsi suatu hal dengan memahami cara kerjanya. Kita tahu apa yang dilakukan sebuah benda atau fenomena, tetapi tidak benar-benar memahami mekanisme di baliknya.
Di era informasi instan, fenomena ini menjadi semakin relevan. Kehadiran internet membuat berbagai informasi dapat diakses dalam hitungan detik. Akibatnya, banyak orang tanpa sadar menganggap bahwa kemudahan mengakses informasi sama dengan memiliki pengetahuan itu sendiri. Padahal, kemampuan menemukan informasi berbeda dengan kemampuan memahami informasi tersebut secara mendalam.
Konten-konten singkat di media sosial juga turut berperan. Video edukasi berdurasi singkat memang dapat memberikan gambaran awal tentang suatu topik, tetapi sering kali tidak cukup untuk membangun pemahaman yang komprehensif. Akibatnya, seseorang dapat merasa sudah menguasai suatu topik hanya karena telah melihat ringkasan atau penjelasan sederhananya.
Dampak yang Tidak Selalu Disadari
Sekilas, merasa tahu mungkin tampak tidak berbahaya. Namun, Illusion of Explanatory Depth dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan mengambil keputusan. Dalam dunia pendidikan, mahasiswa dapat merasa telah memahami materi kuliah setelah membaca ringkasan, menonton video pembelajaran, atau mendengarkan penjelasan dari dosen. Namun, saat diminta menjelaskan kembali dengan kata-kata sendiri, ternyata masih banyak bagian yang belum dipahami. Dalam diskusi sosial, seseorang bisa sangat yakin terhadap pendapatnya meskipun pengetahuan yang dimiliki sebenarnya masih terbatas.
Lebih jauh lagi, ilusi ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri yang berlebihan. Ketika seseorang merasa sudah memahami suatu isu, ia mungkin menjadi kurang terdorong untuk mencari informasi tambahan atau mempertanyakan kembali apa yang telah diyakininya.
Benarkah Merasa Paham Sudah Cukup Menurut Logika Penyelidikan Ilmiah?
Illusion of Explanatory Depth memiliki kaitan yang dengan Logika Penyelidikan Ilmiah. Salah satu prinsip dasar dalam penyelidikan ilmiah adalah bahwa suatu pengetahuan tidak cukup hanya diyakini, tetapi juga harus dapat diuji, dijelaskan, dan dipertanggungjawabkan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia tidak selalu mampu menilai kedalaman pengetahuannya secara akurat. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan mengembangkan berbagai metode seperti observasi, pengujian, verifikasi, dan evaluasi kritis untuk memastikan bahwa suatu pemahaman benar-benar didasarkan pada bukti yang kuat.
Dengan demikian, kemampuan untuk mengakui bahwa kita belum memahami sesuatu secara utuh justru merupakan bagian penting dari sikap ilmiah. Kesadaran akan keterbatasan pengetahuan dapat mendorong seseorang untuk terus belajar, mengajukan pertanyaan, dan mencari penjelasan atau bukti yang lebih mendalam.
Cara Mengecek: Benar Paham atau Hanya Merasa Paham?
Kabar baiknya, Illusion of Explanatory Depth dapat dikurangi. Salah satu cara yang paling efektif adalah mencoba menjelaskan suatu konsep dengan bahasa sendiri tanpa melihat sumber apa pun.
Ketika proses menjelaskan terasa sulit atau terhenti di tengah jalan, hal tersebut seringkali menunjukkan adanya celah dalam pemahaman kita. Dengan mengenali bagian yang belum dipahami, seseorang dapat kembali mencari informasi yang diperlukan dan memperdalam pengetahuannya. Selain itu, membiasakan diri untuk bertanya “bagaimana” dan “mengapa” secara lebih mendalam juga dapat membantu mengurangi kecenderungan merasa tahu terlalu cepat dan menghindari rasa puas yang muncul terlalu cepat setelah memperoleh informasi.
Sebelum Bilang “Aku Tahu…”
Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan terbesar bukan lagi memperoleh informasi, melainkan memastikan bahwa informasi tersebut benar-benar dipahami. Kemudahan mengakses pengetahuan tidak selalu sejalan dengan kedalaman pemahaman yang dimiliki seseorang.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang perlu lebih sering kita ajukan bukanlah “Apakah saya pernah mendengar tentang hal ini?”, melainkan “Apakah saya benar-benar mampu menjelaskannya?”. Sebab dalam banyak situasi, merasa tahu ternyata tidak selalu berarti benar-benar tahu.
Sumber
Mayers, E. A., Gretton, J. D., Budge, J. R. C., Fugelsang, J. A., & Koehler, D. J. (2023). Broad effects of shallow understanding: Explaining an unrelated phenomenon exposes the illusion of explanatory depth. Judgment and Decision Making, 18(Article e24), 1-18. https://doi.org/10.1017/jdm.2023.24
Rozenblit, L., & Keil, F. (2002). The misunderstood limits of folk science: An illusion of explanatory depth. Cognitive Science, 26(5), 521-562. https://doi.org/10.1207/s15516709cog2605_1
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































