Di tengah budaya yang sering mengagungkan hasil besar dan pencapaian spektakuler, Sekar Bumi Dyah Angawiyat yang akrab disapa Sabda justru percaya pada kekuatan langkah-langkah kecil. Baginya, kemajuan tidak selalu harus terlihat luar biasa. Kadang, keberanian untuk tetap bergerak saat semangat sedang menurun sudah merupakan kemenangan tersendiri.
Murid XII D MAN 1 Yogyakarta ini berhasil diterima melalui jalur SNBT 2026 di Program Studi Teknologi Sains Data Universitas Airlangga. Namun di balik kabar bahagia itu, tersimpan perjalanan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Banyak orang mengenal Sabda sebagai pribadi yang ramah, ceria, dan mudah bergaul. Di balik senyum yang sering terlihat, ada pergulatan yang jarang ia ceritakan kepada siapa pun.
Selama masa persiapan SNBT, putri dari pasangan Bapak Iqbal Tuwasikal dan Ibu Lusiana Nur Ilma ini mengaku sempat berhadapan dengan kondisi mental yang tidak stabil. Ada hari-hari ketika semangat belajar terasa menurun, ada saat-saat ketika rasa malas datang lebih kuat daripada keinginan untuk membuka buku.
Namun alih-alih menyalahkan dirinya sendiri, Sabda memilih pendekatan yang berbeda. Ia menanamkan sebuah prinsip sederhana: sekecil apa pun kemajuan yang dicapai hari ini, tetaplah sebuah kemajuan.
Mindset itulah yang membantunya bertahan. Ketika hanya mampu mengerjakan lima soal dalam sehari, ia tidak menganggap dirinya gagal. Ketika pemahaman terhadap materi terasa lambat, ia tidak langsung menyimpulkan bahwa dirinya tidak mampu.
Baginya, belajar bukan perlombaan sprint, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran. “Progress is still a progress,” begitu prinsip yang terus ia pegang. Pelajaran itu ternyata tidak hanya membantunya menghadapi SNBT, tetapi juga mengubah cara pandangnya terhadap hidup.
Sabda menyadari bahwa segala sesuatu membutuhkan waktu. Memahami materi pelajaran membutuhkan proses. Menumbuhkan kemampuan juga membutuhkan proses. Bahkan menyembuhkan luka-luka dari masa lalu pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Yang bisa dilakukan seseorang hanyalah memberikan usaha terbaik, lalu membiarkan waktu menyelesaikan pekerjaannya.
Kesadaran itu membuat Sabda menjalani masa persiapan SNBT dengan lebih tenang. Ia tidak pernah menangis karena belajar. Bukan karena prosesnya mudah, melainkan karena ia berusaha menikmati setiap tahap yang dijalani.

Di sela rutinitas belajar, ada satu kenangan yang hingga kini masih ingin ia ulang jika diberi kesempatan kembali ke masa kelas XII. Bukan hari ketika menerima hasil SNBT. Bukan pula hari ketika berhasil menyelesaikan ujian. Melainkan perjalanan ke Semarang bersama teman-teman untuk kunjungan universitas.
Bagi Sabda, momen sederhana itu menjadi pengingat bahwa perjalanan sekolah tidak hanya tentang nilai dan ujian, tetapi juga tentang kebersamaan yang suatu saat akan dirindukan.
Ketika pengumuman SNBT akhirnya tiba dan tulisan “lulus” muncul di layar, ada satu kenangan yang langsung terlintas di benaknya. Hari pertama saat ia menginjakkan kaki di MAN 1 Yogyakarta. Hari ketika semuanya dimulai. Hari ketika ia belum tahu akan berakhir di mana.
Empat tahun kemudian, ia berdiri di titik yang sama sekali berbeda. Bukan karena perjalanan itu selalu mudah, tetapi karena ia memilih untuk terus berjalan sesuai kemampuan terbaiknya.
Saat itulah Sabda menyadari bahwa satu bab dalam hidupnya telah selesai. Babak baru pun siap dimulai.
Ketertarikannya pada matematika dan teknologi akhirnya membawanya memilih Teknologi Sains Data UNAIR. Jurusan itu dianggapnya sebagai titik temu antara dua bidang yang paling ia sukai sekaligus pintu menuju berbagai peluang karier di masa depan.
Di balik semua pencapaian tersebut, Sabda tidak pernah melupakan peran kedua orang tuanya. Dukungan, kasih sayang, dan berbagai pengorbanan yang diberikan menjadi alasan terbesar baginya untuk terus berjuang ketika semangat mulai menurun.
Kepada adik-adik kelas yang masih akan menghadapi SNBT satu atau dua tahun mendatang, Sabda menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi jujur.
“Jangan malas.”
Menurutnya, belajar memang tidak selalu menyenangkan. Kadang melelahkan, kadang membuat frustrasi. Namun hasil dari proses itu sering kali baru terlihat jauh setelah semua perjuangan dilakukan.
Kisah Sabda mengingatkan bahwa tidak semua keberhasilan lahir dari langkah-langkah besar yang mengubah hidup dalam semalam. Terkadang, keberhasilan justru tumbuh dari keberanian untuk tetap bergerak ketika langkah yang mampu kita ambil hari itu terasa sangat kecil.
Sebab pada akhirnya, lima soal yang dikerjakan hari ini tetap lebih berarti daripada tidak melangkah sama sekali.
Penulis: Deti Prasetyaningrum, S.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































