Masyarakat sering kali membuang botol kaca bekas ke lahan kosong, membiarkannya menyumbat saluran air, atau menumpuknya hingga menjadi sarang nyamuk. Padahal, alam membutuhkan waktu hingga ratusan tahun hanya untuk mengurai satu botol kaca. Dengan tidak adanya sikap kepedulian ini jelas merusak pemandangan, mengancam kelestarian lingkungan. Merespons masalah tersebut, Mahasiswa KKN R26 dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengambil langkah nyata di Desa Raci Kulon, Sidayu, Gresik. Lewat Program Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat, para mahasiswa ini melatih warga menggunakan Alat Pemotong Botol Kaca. Inovasi teknologi tepat guna ini sukses menyulap beling tidak berharga menjadi kerajinan tangan yang bernilai jual tinggi.
Sebelum program ini berjalan, warga Raci Kulon langsung membuang botol bekas atau menjualnya dengan harga sangat murah kepada pengepul. Menjawab tantangan itu, mahasiswa merancang alat pemotong kaca berbahan pelat baja anti-karat dengan sistem geser yang sangat stabil dan tahan air. Alat ini menawarkan efisiensi dan keamanan tinggi, warga tidak perlu menggergaji kaca secara ekstrem yang berisiko. Sebagai gantinya, alat ini menerapkan metode gores dan kejut suhu (scoring and thermal shock). Pisau khusus berbahan tungsten carbide akan menggores botol secara konsisten dalam satu putaran penuh. Selanjutnya, warga cukup menyiramkan air panas dan air es secara bergantian untuk membelah botol secara alami. Metode cerdas ini menghasilkan potongan yang rapi, minim serpihan tajam, dengan tingkat keberhasilan mencapai 85%.
Warga dan perangkat desa menyambut program ini dengan antusiasme tinggi, mereka mengaku sangat terbantu karena alat ini mudah mereka operasikan, menghasilkan potongan presisi, dan tidak membutuhkan modal besar. Perangkat desa juga memuji pelatihan ini karena memberikan solusi atas sampah visual sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan bagi ibu-ibu rumah tangga dan pemuda karang taruna.
Meski demikian, Mahasiswa KKN UNTAG Surabaya tetap mewajibkan warga menerapkan Standar Keselamatan Kerja (K3) dengan memakai sarung tangan tebal dan kacamata pelindung. Para mahasiswa menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak bersandar pada kecanggihan alat, melainkan pada komitmen warga dalam merawat alat secara berkala dan menjaga semangat ekonomi sirkular demi masa depan Desa Raci Kulon yang lebih bersih dan mandiri.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































